MAKLUMAT — Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur atau PW IPM Jatim menegaskan arah baru gerakan organisasi, yakni dengan menata ekosistem kaderisasi sebagai fokus utama.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PW IPM Jatim, M Yuda Wahyu Saputra, saat melaporkan progress report sekaligus arah strategis gerakan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PP IPM Periode 2026–2028 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sabtu (18/7/2026).
Menurut Yuda, gerakan IPM Jatim tidak lagi hanya diarahkan pada pelaksanaan program organisasi. PW IPM Jatim ingin membangun ekosistem kaderisasi yang mampu memperkuat kualitas kader secara berkelanjutan. Upaya tersebut ditempuh melalui pemberdayaan kader sekaligus menghidupkan potensi daerah sebagai identitas gerakan.
“Kader tidak hanya dipersiapkan menjadi pengelola organisasi, tetapi juga agen perubahan yang mampu membaca kebutuhan masyarakat serta menghadirkan solusi berdasarkan nilai-nilai lokal yang berkembang di setiap daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id pada Ahad (19/7/2026).
Yuda menjelaskan, kearifan lokal menjadi bagian penting dalam arah gerakan tersebut. Menurutnya, potensi yang tumbuh di setiap daerah merupakan modal sosial yang perlu dipelihara dan diintegrasikan ke dalam aktivitas organisasi.
Dengan cara itu, gerakan IPM tetap memiliki kedekatan dengan masyarakat sekaligus mampu menjawab persoalan yang dihadapi pelajar sesuai konteks daerah masing-masing. Pandangan itu juga menjadi dasar PW IPM Jatim dalam menyikapi arah kebijakan PP IPM periode 2026–2028.
Dalam rakernas ini, PW IPM Jatim menyatakan kesiapan mengawal sekaligus berkolaborasi dalam pelaksanaan program-program strategis PP IPM. PW IPM Jatim memandang kebijakan nasional perlu diterjemahkan sesuai kebutuhan kader di daerah agar manfaatnya dapat dirasakan hingga tingkat cabang dan ranting.
“Keberhasilan organisasi tidak dapat dibangun secara parsial. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pimpinan pusat, wilayah, daerah, cabang, hingga ranting agar setiap program mampu berjalan efektif dan memberikan dampak nyata,” katanya.
Selain menyampaikan komitmen kolaborasi, PW IPM Jatim juga menyoroti pola pembinaan kader di lingkungan IPM. Menurut Yuda, pembina memiliki posisi penting dalam proses kaderisasi. Namun, pola pendampingan perlu terus berkembang mengikuti kebutuhan kader dan dinamika organisasi yang terus berubah.
Ia mengatakan kritik yang disampaikan bukan untuk mengurangi peran pembina. Sebaliknya, kritik itu dimaksudkan sebagai bagian dari upaya bersama membangun sistem pembinaan yang memberi ruang lebih luas kepada kader untuk belajar mengambil keputusan dan mengembangkan gagasan.
Dengan pendekatan tersebut, kader diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang mampu memimpin, bukan sekadar menjalankan program organisasi. “Pembina diharapkan hadir sebagai fasilitator yang memberikan ruang kepada kader untuk berpikir, berproses, mengambil keputusan, dan melahirkan inovasi,” ujarnya.
Perhatian terhadap kaderisasi juga ditunjukkan melalui dukungan terhadap Program Prioritas IPM Kids. PW IPM Jatim memandang pembinaan tidak seharusnya dimulai ketika seseorang telah memasuki usia pelajar menengah.
Menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan, kepemimpinan, kreativitas, dan semangat berorganisasi sejak usia dini dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kaderisasi jangka panjang.
Karena itu, IPM Kids diposisikan sebagai ruang kolaborasi antara keluarga, sekolah, Persyarikatan, dan organisasi otonom Muhammadiyah. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membentuk lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter, budaya belajar, dan kepedulian sosial sejak anak-anak.
“Kaderisasi tidak boleh dimulai ketika seseorang sudah memasuki usia pelajar menengah. Pembinaan sejak dini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, budaya belajar, dan kepedulian sosial,” jelasnya.
Melalui penyampaian arah gerakan dan tiga poin strategis tersebut, PW IPM Jatim menegaskan komitmennya untuk membangun organisasi yang tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas gerakan.
Bagi PW IPM Jatim, Rakernas bukan hanya forum evaluasi dan penyusunan program kerja, tetapi juga ruang untuk menegaskan arah gerakan pelajar yang bertumpu pada kaderisasi, kolaborasi, dan kedekatan dengan masyarakat.
“Gerakan pelajar harus terus bertumbuh, berkolaborasi, dan hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tutupnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki














