Jejak Lagu Awal WR Soepratman: Dari Indonesia Tjantik hingga Ratap Si Parto

MAKLUMAT — Pada 9 Maret 2025, lagu berjudul Indonesia Tjantik menjadi viral di TikTok dengan hampir 7 juta tayangan. Selama lebih dari 100 tahun, sebuah lagu ini hilang dari sejarah.

Indonesia Tjantik merupakan lagu paling awal yang pernah diciptakan oleh Wage Rudolf (WR) Soepratman pada tahun 1924, ketika beliau berusia 21 tahun.

Literatur Lagu "Ratap Si Parto"
Literatur Lagu “Ratap Si Parto”

Saya merasa sangat bahagia ketika mendapat kabar bahwa Ibu Khusnul Khatimah, pustakawan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, dalam beberapa waktu terakhir berhasil menemukan satu lagi lagu ciptaan WR Soepratman untuk pertunjukan toneel, yakni panggung sandiwara atau teater Wayang Jawa, berjudul Ratap Si Parto.

Lagu ini berbeda dari karya-karya WR Soepratman lainnya, yang umumnya bertema perjuangan dan cinta tanah air. Ratap Si Parto berkisah tentang Parto, seorang bocah yang meratap dan ingin bertemu kembali dengan ibunya yang telah lama meninggal dunia.

Dalam lagu ini, WR Soepratman tampaknya terinspirasi oleh melodi lagu Broadway berjudul I’m Forever Blowing Bubbles (1919), sebuah lagu yang sangat populer di berbagai belahan dunia, termasuk di Hindia Belanda. Lagu tersebut berbicara tentang impian, harapan, dan kenyataan hidup yang rapuh.

Nuansa yang sama juga terasa dalam Ratap Si Parto: seorang anak kecil yang bermimpi dan berharap dapat bertemu kembali dengan almarhum ibunya, namun pada akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa harapan itu rapuh—bagai gelembung yang pecah.

Karena itu, Ratap Si Parto adalah lagu yang memuat nasihat, doa, serta nilai bakti kepada ibu. Di situlah tampak salah satu ciri khas WR Soepratman: kegemarannya menyisipkan pesan moral, etika, dan nilai kemanusiaan dalam karya-karyanya.

Penemuan ini sungguh sangat penting dan sepenuhnya baru dalam khazanah tentang WR Soepratman. Temuan ini terasa semakin bermakna jika diingat bahwa WR Soepratman sangat dekat dan sangat mencintai ibunya, yang telah meninggalkannya untuk selama-lamanya ketika ia masih seorang bocah berusia 9 tahun. Peristiwa itu diyakini meninggalkan luka batin yang mendalam dalam hidupnya.

9 Maret 2027