Kenapa Pendukung Pemerintah dan Oposisi Selalu Merasa Paling Benar?

Penulis: Nurudin. *)

MAKLUMAT — Pernahkah kamu memperhatikan pola ini? Ketika pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan, para menteri dan juru bicara bermunculan di media. Bahkan para pendukungnya. Mereka ikut menjelaskan. Kadang terkesan membela habis-habisan. Sebaliknya, kelompok oposisi langsung mengkritik. Ada yang mencari celah kekurangan dan mempertanyakan dampaknya.

Lihat kasus program Makan Bergizi Gratis (MBG), Ibu Kota Nusantara (IKN), konsesi tambang, sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN), dan ide tentang jabatan presiden tiga periode. Lihat pula kasus-kasus lain yang serupa. Semua itu menimbulkan dua kubu, yang membela dan mengkritik. Yang menarik tentu  peristiwa yang sama bisa menghasilkan dua cerita berbeda.

Saat pemerintah membangun infrastruktur, pendukungnya menyebutnya sebagai bukti kerja nyata. Lihat kasus proyek IKN dan jalan tol. Oposisi bisa melihatnya sebagai proyek yang belum tentu menyentuh kebutuhan rakyat. Ketika pemerintah membuat program Bantuan Langsung Tunai (BLT), MBG  atau bantuan sosial lainnya, pendukung menyebutnya bentuk keberpihakan kepada masyarakat kecil. Sementara pihak yang kritis bisa mempertanyakan efektivitasnya. Juga jangan-jangan untuk mencari simpati saja. Lihat kasus BLT Jokowi saat akan Pemilihan Presiden tahun 2024.

Pilihan kata antar mereka saja berbeda. Kritik  juru bicara pemerintah hampir tidak pernah berkata, “kritik oposisi kali ini benar, pemerintah perlu mengoreksi diri”.  Sebaliknya, mengapa tokoh oposisi juga jarang mengatakan, “kebijakan pemerintah kali ini layak diapresiasi”.

Seolah-olah masing-masing kubu memiliki kamus politiknya sendiri, bukan? Pola berita media cukup mudah ditemukan. Ketika muncul kritik terhadap sebuah kebijakan pemerintah, para pejabat dan pendukung sibuk membelanya. Misalnya  pemerintah telah bekerja berdasarkan data dan kepentingan masyarakat luas. Sebaliknya, ketika ada demonstrasi atau kritik dari masyarakat sipil, sebagian pendukung pemerintah mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas nasional dan menghindari polarisasi.

Baca Juga  Lambannya Proses RUU Perampasan Aset, Publik Menunggu Keseriusan DPR dan Pemerintah

Di sisi lain, kelompok yang berada di luar pemerintahan sering menilai kritik merupakan bagian sehat dari demokrasi. Mereka menekankan pentingnya kontrol publik terhadap kekuasaan dan mengingatkan agar pemerintah tidak alergi terhadap perbedaan pendapat.

Siapa yang Benar?

Sebagai penulis buku Pengantar Komunikasi Massa,  saya akan melihat dengan istilah selective attention. Istilahnya memang terdengar akademis. Namun sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selective attention berarti seseorang cenderung memberikan perhatian lebih besar kepada informasi yang sesuai dengan keyakinan, pengalaman, atau kepentingannya. Sebaliknya, informasi yang bertentangan sering kali diabaikan, dipertanyakan, atau dianggap kurang penting.

Sederhananya, kita lebih mudah percaya pada informasi yang sejak awal memang ingin kita dengar. Media sosial (medsos) pun membuat kecenderungan ini semakin kuat.

Algoritma bekerja dengan cara yang sederhana. Semakin sering kita menyukai konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang muncul di layar. Lama-kelamaan kita merasa semua orang memiliki pendapat yang sama dengan kita. Padahal yang berubah bukan kenyataan. Tetapi lingkungan informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Pendukung pemerintah lebih sering menemukan berita tentang keberhasilan pemerintah. Mereka membaca analisis yang memperkuat keyakinannya bahwa pemerintah berada di jalur yang benar.

Itu terjadi sebalaiknya. Kelompok yang kritis lebih sering bertemu dengan laporan investigasi. Juga kritik kebijakan atau pendapat para pengamat yang menunjukkan adanya persoalan dalam pemerintahan.

Dua kelompok ini melihat internet yang sama, tetapi mendapatkan dunia informasi yang berbeda. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama, setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Pengalaman itu membentuk cara berpikir. Apa yang dianggap penting oleh seseorang belum tentu penting bagi orang lain.

Baca Juga  Pidato Prabowo di PBB: Diplomasi Realistis atau Sekadar Retorika?

Kedua, manusia hidup dalam kelompok sosial. Kita memiliki komunitas (organisasi, profesi, partai politik, organisasi kemasyarakatan). Atau bahkan sekadar  grup WhatsApp (WA) keluarga. Lingkungan seperti inilah yang ikut menentukan informasi mana yang dianggap layak dipercaya.

Ketiga, setiap orang ingin tetap diterima oleh kelompoknya. Bayangkan seorang juru bicara pemerintah. Tugas utamanya memang menjelaskan dan mengomunikasikan kebijakan pemerintah kepada publik. Karena itu, wajar jika hampir seluruh pendapat yang ia bangun bertujuan memperjelas sekaligus mempertahankan kebijakan tersebut.

Tak terkecuali dengan  staf ahli atau maupun tim komunikasi pemerintah. Mereka memang direkrut untuk membantu menjelaskan perspektif pemerintah kepada masyarakat.

Sementara itu,  politisi oposisi, aktivis, maupun kelompok masyarakat sipil juga memiliki peran berbeda. Mereka melihat dirinya sebagai pengawas kekuasaan. Jadi, perhatian mereka lebih banyak diarahkan pada potensi kesalahan, penyimpangan, atau dampak negatif sebuah kebijakan.

Menariknya, kedua kelompok tersebut sama-sama merasa sedang membela kepentingan publik. Yang satu percaya stabilitas adalah syarat pembangunan. Yang lain percaya kritik adalah syarat demokrasi.

Di sinilah selective attention bekerja sangat kuat. Ketika muncul sebuah isu, perhatian masing-masing langsung tertuju pada aspek yang sesuai dengan keyakinannya. Pendukung pemerintah akan lebih cepat menemukan alasan mengapa kebijakan itu perlu didukung. Sebaliknya, kelompok yang kritis lebih cepat menemukan alasan mengapa kebijakan tersebut perlu dipertanyakan.

Ada Kepentingan

Dalam politik juga ada kepentingan. Kepentingan atas  jabatan dan  loyalitas.  Ada orang yang memang berbicara karena posisi profesionalnya. Ada pula yang membangun opini karena kepentingan politik tertentu. Bahkan ada buzzer berbayar yang memang bertugas memproduksi narasi sesuai kepentingan pihak yang menggunakan jasanya.

Baca Juga  Pancasila dan Keajaiban yang Lahir dari Krisis

Namun menariknya, semua strategi komunikasi itu hanya akan efektif jika bertemu dengan manusia yang memang memiliki kecenderungan selective attention. Tanpa kecenderungan tersebut, propaganda apa pun bentuknya  tidak akan mudah memengaruhi publik.

Masalahnya, masyarakat sering ikut larut terlalu jauh. Ada yang memutus pertemanan hanya karena berbeda pilihan politik. Ada yang saling menghina di media sosial hanya karena membela tokoh yang berbeda. Bahkan ada yang rela menghabiskan energi setiap hari untuk berdebat dengan orang yang tidak pernah ditemuinya.

Setelah kontestasi politik selesai, para elite yang sebelumnya saling menyerang sering kali bisa duduk bersama. Tertawa bareng dengan membangun koalisi. Sementara para pendukungnya masih sibuk bertengkar di kolom komentar.

Sikap waspada memang penting. Bukan berarti harus kehilangan sikap atau menjadi netral dalam semua hal. Namun setidaknya kita menyadari bahwa apa yang kita baca setiap hari belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Mungkin kita hanya sedang melihat dunia melalui jendela yang sengaja atau tidak sengaja kita pilih sendiri.

Selective attention mengingatkan, manusia tidak pernah benar-benar netral ketika menerima informasi. Seseorang  cenderung memilih pesan yang sesuai dengan keyakinan, identitas, dan kelompok tempat kita merasa menjadi bagian.

Maka, tidak mengherankan jika pendukung pemerintah lebih sering berbicara tentang stabilitas, persatuan, dan keberhasilan pembangunan. Nah, sementara kelompok oposisi lebih menonjolkan kritik, keadilan, dan demokrasi.

Tantangan terbesar di era media sosial bukan sekadar membedakan mana informasi yang benar atau salah. Tetapi berani sesekali keluar dari “ruang gema” sendiri untuk mendengar pandangan yang berbeda. Di situlah kedewasaan berpikir mulai tumbuh.***

*) Penulis: Nurudin
Dosen Ilmu Komunikasi UMM; Bisa dihubungi di platform Instagram/X/treads/tiktok @nurudinwriter