MAKLUMAT – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Jawa Timur, Lia Istifhama mengajak perempuan Indonesia berani tampil sebagai pemimpin dengan membangun karakter, kecerdasan dan keberanian bersuara di ruang publik.
Ajakan tersebut ia sampaikan dalam pemaparannya bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” di Surabaya, Sabtu, 8 Maret 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.
Dalam presentasinya sebelum sesi dialog, perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan arah bangsa.
“Jika perempuan baik maka negara akan baik, dan jika perempuan rusak maka negara pun akan rusak,” ujar Ning Lia yang mengutip sebuah hadis bahwa perempuan merupakan tiang negara.
Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan berupa empati dan kemampuan membangun relasi sosial yang kuat. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh pemikiran psikolog perkembangan Sabina Spielrein yang menyebutkan bahwa jiwa perempuan terbentuk melalui relasi dan empati terhadap orang lain.
Selain membahas kepemimpinan, keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini, juga menyinggung perubahan standar kecantikan perempuan dari masa ke masa. Ia menjelaskan bahwa standar kecantikan sering dipengaruhi budaya dan tren sosial, mulai dari era Yunani Kuno, masa Renaissance di Italia, hingga era modern yang dipengaruhi media sosial dan budaya populer seperti Korean Wave.
“ Kecantikan perempuan tidak boleh hanya dilihat dari sisi fisik. Perempuan tidak cukup hanya memiliki outer beauty, tetapi juga harus memiliki inner beauty berupa kecerdasan, karakter, dan kemampuan berkomunikasi,” tegas Ning Lia yang juga Anggota MPR RI.
Ia mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan hanya karena standar kecantikan. Sebaliknya, perempuan perlu saling mendukung dan fokus pada pengembangan diri.
Dalam paparannya, Ning Lia memperkenalkan konsep kepemimpinan perempuan melalui akronim PEREMPUAN, yaitu Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation.
Selain itu, putri tokoh NU Jawa Timur alamarhum KH Masykur Hasyim ini mendorong perempuan membangun karakter melalui nilai KARTINI, yakni Kindness, Adaptation, Respect, Toughness, Intelligence, Negotiation, dan Integrity. Nilai-nilai tersebut penting agar perempuan mampu menjadi pemimpin yang berintegritas sekaligus berdaya saing.
Ning Lia juga mengangkat gagasan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan berani bermimpi, berpikir maju, dan berkontribusi bagi masyarakat. Perempuan modern harus memiliki keberanian berbicara dan mengambil peran dalam kehidupan publik.
“Perempuan harus berani berbicara, berani berkontribusi, dan tidak takut mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin,” tandasnya.
Dalam pemaparan data, Ning Lia menyebutkan di Jawa Timur terdapat lebih dari 31 juta pemilih pada Pemilu 2024. Jumlah pemilih perempuan bahkan lebih banyak dibandingkan laki-laki, namun keterwakilan perempuan dalam politik masih belum seimbang.
Karena itu, ia mendorong perempuan meningkatkan partisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik.
“Perempuan harus mulai mengaktualisasikan diri sebagai calon pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut,” cetusnya.
Ning Lia juga berbagi pengalaman mengenai tantangan kepemimpinan Perempuan. Yakni perempuan kerap menghadapi dilema antara bersikap lembut atau tegas.
Menurutnya, perempuan perlu menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan agar kepemimpinan tidak menimbulkan rasa takut, tetapi tetap dihormati.
“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Kepemimpinan adalah tindakan nyata yang membuat orang mengikuti kita karena percaya, bukan karena takut,” pungkas Ning Lia.













