Lia Istifhama Dorong Perempuan Bangun Strategi Kepemimpinan di Era Digital

MAKLUMAT — Anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama mendorong perempuan yang ingin terlibat dalam kepemimpinan publik untuk memiliki kemampuan membaca perubahan dan menyusun strategi. Menurutnya, kepemimpinan di tengah perkembangan digital membutuhkan kecakapan memahami situasi, membangun komunikasi, serta membaca respons masyarakat.

Hal itu ia sampaikan dalam Sekolah Politik Perempuan yang diadakan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Amaris Hotel Darmo Surabaya, Sabtu (26/9/2026).

“Kepemimpinan kontekstual: cerdas membaca realitas, adaptif dan inventif,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut.

Ning Lia menjelaskan kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari situasi yang dihadapi. Ia mengaitkannya dengan contingency theory Frederick E. Fiedler yang melihat tidak adanya satu cara paling baik untuk memimpin dalam semua keadaan. Cara memimpin perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi tertentu.

Ia kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan pandangan bahwa Islam harus mampu mengambil peran dalam kehidupan publik. Menurut Ning Lia, keterlibatan dalam ruang kewenangan publik dapat menjadi bagian dari dakwah karena kebijakan yang dibuat negara berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

“Karena Islam tidak boleh terjebak dalam powerless,” tegas Ning Lia.

Baca Juga  Khofifah Dorong Emil Dardak Jadi Gubernur, Ning Lia: Emil Layak Pimpin Jatim 2029

Ning Lia menjelaskan posisi yang lemah dalam proses pembuatan kebijakan dapat membuat kepentingan masyarakat Muslim tidak terakomodasi meskipun jumlah mereka besar. Karena itu, ia mengenalkan gagasan dakwah bil yad, yakni dakwah melalui kewenangan publik, sebagai salah satu bentuk keterlibatan dalam proses kebijakan politik, ekonomi, dan sosial.

Menurut Ning Lia, kepemimpinan juga tidak hanya berkaitan dengan posisi formal. Ia menggunakan Trait Theory Gordon Allport untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki karakter yang mendukung peran kepemimpinan, seperti keberanian, kecakapan, daya tanggap, imajinasi, kreativitas, disiplin, dan nilai-nilai tertentu.

“Setiap orang memiliki potensi kepemimpinan,” jelas Ning Lia.

Ning Lia juga mengutip ungkapan syubbanul yaum rijalul ghod yang menggambarkan pentingnya generasi hari ini dalam menyiapkan kepemimpinan masa depan. Ia kemudian mengaitkannya dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai kepemimpinan dan karakter kelompok. Dalam materi tersebut, Ning Lia juga menyinggung bahwa kemampuan kepemimpinan dapat berkaitan dengan latihan, watak, inspirasi, dan pengalaman.

Setelah membahas karakter pemimpin, Ning Lia mengarahkan materi pada kemampuan membangun strategi. Ia mengutip Harry R. Yarger yang menjelaskan strategi sebagai cara berpikir terhadap masa depan dengan mempertimbangkan kemungkinan, kekuatan yang bekerja, biaya, risiko, serta konsekuensi keputusan.

Baca Juga  ​Setiap Orang adalah Konsumen, Revisi UU Perlindungan Konsumen Urgensi Nyata bagi Kita Semua!

Kemampuan tersebut, menurut Ning Lia, dapat digunakan dalam menghadapi ruang politik yang semakin dipengaruhi teknologi digital. Ia mengenalkan analisis SWOT untuk membantu peserta membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sebelum menentukan langkah.

Ning Lia menempatkan kekuasaan sebagai sarana dalam proses politik. Ia kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan komunikasi politik yang menurutnya perlu dirancang secara sadar dan sistematis.

Dalam komunikasi digital, Ning Lia menjelaskan citra politik terbentuk melalui proses komunikasi yang melibatkan pesan, simbol, pengalaman, dan interpretasi publik. Menurut Ning Lia, perkembangan digital juga membuat generasi muda memiliki akses lebih cepat terhadap informasi.

Generasi Z, misalnya, ia gambarkan sebagai kelompok yang memiliki perhatian terhadap isu sosial-politik, lingkungan, korupsi, dan peluang pengembangan diri. Karena itu, pemimpin perlu memahami karakter audiens sebelum menentukan strategi komunikasi.

“Kita bangun kesepahaman di tengah perbedaan dan menguatkan pendidikan politik yang persuasif demi keberlanjutan demokrasi,” ujarnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki