Masyarakat Indonesia Miskin tapi Bahagia? Sosiolog UMSURA: Sebaiknya Jangan Gegabah

asyarakat Indonesia Miskin tapi Bahagia? Sosiolog UMSURA: Sebaiknya Jangan Gegabah

MAKLUMAT — Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Dr Mukayat Al Amin merespons narasi yang menyebut masyarakat Indonesia miskin tetapi bahagia. Narasi tersebut masih menjadi perbincangan hangat dan kerap diperdebatkan di ruang publik.

Mukayat, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa wajar jika narasi tersebut memantik perdebatan di ruang publik karena bersifat paradoks. Menurutnya, kemiskinan identik dengan kesulitan hidup, sehingga anggapan masyarakat miskin tetapi bahagia menimbulkan tanda tanya.

“Karena hal itu kan paradoks. Kok bisa miskin kok bahagia? Di mana-mana orang miskin itu kan susah. Kenapa di Indonesia ini bahagia? Ini harus kita pertanyakan. Bukan soal narasinya, tapi bagaimana argumennya kok bisa sampai kepada kesimpulan tersebut” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Ahad (25/1/2026).

Mencermati Ukuran Kebahagiaan

Mukayat mengimbau publik agar tidak bingung dalam menanggapi narasi tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk bersikap kritis. Dalam konteks ini, kritis bukan berarti membantah, melainkan meninjau ulang untuk mendapatkan pemahaman secara lebih mendalam.

Pertama, ia mengajak publik agar mencermati bagaimana kebahagiaan diukur dalam riset yang digunakan sebagai argumentasi. Mukayat menekankan pentingnya memahami indikator yang digunakan dalam penelitian. Sebab cara mengukur kebahagiaan bisa berbeda-beda antar peneliti, sehingga hasil riset tentang ukuran kebahagiaan pun tidak sama.

Baca Juga  Umsura Beri Potongan 50 Persen bagi Calon Mahasiswa yang Mudik

“Memang sebaiknya jangan gegabah, yang disebut bahagia itu seperti apa? Bisa jadi itu yang diukur adalah kesenangan. Bisa jadi itu bukan kebahagiaan tapi kesenangan. Kesenangan sesaat, misalnya dapat BLT senang, tapi kemudian itu dilaporkan sebagai kebahagiaan. Kita perlu mendiskusikan lagi letak antara senang dan bahagia itu,” jelasnya.

Menurut Mukayat, cara paling mudah adalah langsung melihat hasil riset. Misalnya, jika ada riset yang menyebut masyarakat Indonesia termasuk paling bahagia di dunia, maka penting untuk mengetahui siapa yang melakukan riset itu dan membaca isi risetnya. Di dalam riset, biasanya peneliti akan menjelaskan bagaimana mereka mendefinisikan kebahagiaan dan indikator apa saja yang digunakan untuk mengukurnya.

Ia menjelaskan bahwa suatu riset bisa saja menempatkan Indonesia di puncak kebahagiaan karena riset tersebut lebih fokus mengukur aspek psikologis dan spiritual. Misalnya seperti kedekatan hubungan sosial, rasa syukur, serta makna hidup yang didapat dari nilai-nilai budaya dan agama.

“Namun, riset lain bisa menunjukkan hasil yang berlawanan arah karena indikator yang digunakan lebih menekankan pada aspek struktural dan ekonomi, seperti besaran pendapatan per kapita, kualitas layanan publik, kebebasan berekspresi, persepsi korupsi, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Baca Juga  Mesin Pengering Hemat Energi Bantu UMKM Kerupuk Kenjeran Pangkas Waktu Produksi

Belum Tentu Berhubungan

Selanjutnya, Mukayat juga menekankan pentingnya tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Jika ada riset yang menyebut angka kemiskinan tinggi dan kebahagiaan masyarakat juga tinggi, maka kedua variabel ini belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat.

Hasil riset yang dirujuk bisa jadi hanya menunjukkan kondisi masing-masing variabel, bukan hubungan langsung di antara keduanya. Terlebih, pihak yang melakukan riset soal kemiskinan dan pihak yang meneliti kebahagiaan seringkali merupakan entitas yang berbeda. “Sehingga hasil dari kedua riset tersebut tidak bisa dihubungkan begitu saja,” imbuhnya.

Mukayat juga menjelaskan bahwa kata “tapi” dalam narasi “miskin tapi bahagia” dapat menyesatkan. Kata “tapi” memberi kesan seolah kemiskinan dan kebahagiaan saling memengaruhi, padahal kenyataannya belum tentu begitu.

Alasannya sederhana, melihat kemiskinan tinggi dan kebahagiaan tinggi sekaligus tidak otomatis menunjukkan hubungan di antara keduanya. Tanpa penelitian yang menguji korelasi antara kemiskinan dan kebahagiaan, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa satu menyebabkan yang lain.

“Nah, ini memang harus diteliti ya relasi antara kemiskinan dan kebahagiaan. Terlebih, ada banyak sekali variabel penting dalam diskusi ini. Misalnya kekayaan, kecukupan, kesejahteraan, dan masih banyak lagi,” tandasnya.​

Baca Juga  Ramai Patungan Beli Hutan, Sosiolog Umsura: Bukti Negara Gagal!