MAKLUMAT — Ketua Bidang Pokja PKK Kota Surabaya, Prof Dr Sri Warjiyati SH MH, menandaskan bahwa pembentukan karakter anak harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan tanpa kekerasan.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pembelajaran Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) yang diselenggarakan oleh Pokja 2 PKK Kota Surabaya. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui nasihat atau larangan, melainkan harus dibangun melalui keteladanan yang nyata dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak adalah peniru terbaik. Apa yang dilakukan orang tua akan lebih mudah masuk ke dalam diri anak dibandingkan nasihat yang panjang,” ujar Prof Sri Warjiyati.
Ia menjelaskan, karakter merupakan gabungan dari pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Anak yang berkarakter bukan hanya memahami mana yang baik dan buruk, tetapi juga mampu mencintai kebaikan serta melakukannya dalam keseharian.
Karakter juga tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan pengulangan dan konsistensi. Karena itu, keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam membentuk perilaku dan sikap sosial anak.
Mendidik Tidak Boleh dengan Kekerasan

Prof Sri Warjiyati menekankan bahwa mendidik anak tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, ancaman, maupun kemarahan yang berlebihan. Menurutnya, pendekatan tersebut justru dapat menimbulkan rasa takut, trauma, dan perlawanan pada anak.
Sebaliknya, orang tua perlu membangun suasana rumah yang aman dan penuh kasih sayang agar anak dapat belajar dengan nyaman. Penggunaan bahasa santun, bimbingan perlahan, serta kesabaran menjadi hal penting dalam proses tersebut.
Selain keteladanan, ia juga menekankan pentingnya komunikasi sebagai fondasi dalam keluarga. Komunikasi yang baik akan membantu anak merasa dihargai dan didengar, sehingga tumbuh rasa percaya diri serta kemampuan menghormati orang lain.
“Komunikasi yang baik akan membuat anak merasa didengar dan dihargai. Dari situlah tumbuh rasa percaya diri serta kemampuan anak untuk menghargai orang lain,” terang Prof Sri Warjiyati.
Ia menjelaskan, lingkungan keluarga yang dipenuhi bentakan dan kekerasan dapat membuat anak tumbuh menjadi agresif atau justru tertutup. Karena itu, dialog yang hangat harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, perempuan yang juga Guru Besar Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut kembali mengingatkan bahwa pembentukan karakter membutuhkan kesabaran, karena setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
“Karakter tidak dibentuk dalam satu malam. Anak membutuhkan pengulangan, kasih sayang, dan keteladanan yang konsisten dari orang tua,” tandas Prof Sri Warjiyati.
Sekolah Orang Tua Hebat
Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diajak berdiskusi mengenai sifat baik anak-anak mereka, sekaligus belajar memberikan pujian yang spesifik. Orang tua dianjurkan tidak hanya menyebut “anak baik” atau “anak pintar,” tetapi menyampaikan apresiasi secara rinci agar anak memahami perilaku positif yang perlu dipertahankan.
Kegiatan pembelajaran SOTH berlangsung dalam suasana hangat. Para peserta membuka pertemuan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars PKK, dan Mars SOTH sebagai bentuk kebersamaan.
Selain itu, peserta juga diajak meninjau kembali materi sebelumnya tentang menjaga anak dari pengaruh media digital. Orang tua diingatkan pentingnya mendampingi anak saat menggunakan media, membatasi penggunaan gadget, serta menjadi contoh dalam penggunaan teknologi secara bijak.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa karakter disiplin, jujur, bertanggung jawab, toleransi, serta menghargai orang lain harus ditanamkan sejak dini. Dengan pendidikan tanpa kekerasan, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki empati terhadap sesama.













