MAKLUMAT — Warung Madura seolah telah menjadi fenomena sosial yang akrab di tengah kehidupan masyarakat. Hampir di setiap sudut gang, jalan perkampungan, hingga kawasan perkotaan, warung ini mudah dijumpai.
Menariknya, keberadaannya tidak pernah benar-benar surut. Satu warung berdiri, beberapa waktu kemudian muncul warung lain di lokasi yang berbeda. Bahkan ketika malam semakin larut dan sebagian besar aktivitas ekonomi telah berhenti, etalase Warung Madura tetap menyala, melayani siapa saja yang datang. Ada semacam daya hidup yang membuatnya terus bertumbuh dan beregenerasi.
Di sisi lain, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) juga dibangun di atas sistem kaderisasi yang tidak sederhana. Melalui jenjang Darul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam Madya (DAM), hingga Darul Arqam Paripurna (DAP), IMM merancang proses pembentukan kader secara sistematis, ideologis, dan berjenjang.
Namun, di tengah kemapanan sistem tersebut, tidak sedikit komisariat maupun cabang yang menghadapi tantangan serius berupa stagnasi jumlah kader, regenerasi yang berjalan lambat, atau kaderisasi yang terasa lebih administratif daripada menjadi gerakan yang hidup.
Lantas, mungkinkah ada pelajaran yang justru dapat dipetik dari bilik etalase Warung Madura? Bukan untuk menyamakan organisasi kader dengan aktivitas perdagangan, melainkan untuk mengamati bagaimana sebuah ekosistem sederhana mampu terus tumbuh, menyebar, dan melahirkan “generasi” baru secara berkelanjutan.
Barangkali, rahasia kaderisasi tidak selalu ditemukan di ruang-ruang pelatihan yang formal, tetapi juga dapat dibaca dari fenomena sosial yang selama ini kita lewati setiap hari tanpa benar-benar kita renungkan.
Etos Njogo vs Etos Mengabdi
Ada satu etos yang menarik untuk diamati dari Warung Madura, yakni etos njogo. Menjaga warung bukan sekadar persoalan membuka toko selama dua puluh empat jam, tetapi tentang kesediaan merawat sesuatu yang dianggap sebagai miliknya sendiri.
Tidak sedikit penjaga warung yang rela menahan kantuk, tetap siaga ketika orang lain terlelap, dan melayani setiap pembeli dengan konsisten. Kesungguhan itu lahir bukan semata karena kewajiban, melainkan karena adanya rasa memiliki (sense of ownership) yang dibangun melalui kepercayaan, tanggung jawab, dan sistem bagi hasil yang membuat setiap individu merasa menjadi bagian dari keberlangsungan usaha tersebut.
Pertanyaannya, apakah etos yang sama juga tumbuh dalam kaderisasi IMM? Jangan-jangan persoalan yang dihadapi bukan terletak pada kurangnya forum perkaderan, melainkan belum tumbuhnya rasa memiliki terhadap organisasi.
Komisariat sering kali dipandang sebatas ruang rapat, bukan rumah intelektual yang layak dirawat bersama. Akibatnya, sebagian kader hadir ketika agenda berlangsung, tetapi menghilang setelah forum ditutup.
Padahal, organisasi hanya akan hidup apabila setiap kader tidak sekadar menjadi peserta kaderisasi, melainkan turut merasa bertanggung jawab menjaga denyut kehidupan komisariat sebagaimana penjaga Warung Madura menjaga cahaya etalasenya tetap menyala sepanjang waktu.
Sistem Magang Langsung (Learning by Doing)
Pelajaran lain yang dapat dipetik dari Warung Madura adalah cara mereka mencetak orang-orang yang siap menjalankan roda usaha melalui proses belajar yang berlangsung secara langsung. Seorang pemuda yang baru datang tidak dibiarkan menjadi penonton terlalu lama.
Ia segera dilibatkan untuk melayani pembeli, menghitung transaksi, menata barang, hingga memahami ritme usaha dari pengalaman sehari-hari. Kesalahan tentu terjadi, tetapi justru dari proses itulah kemampuan, ketangguhan, dan kepercayaan diri terbentuk. Pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, melainkan tumbuh melalui perjumpaan yang terus-menerus dengan realitas.
Barangkali, di sinilah IMM perlu terus melakukan refleksi terhadap pola kaderisasinya. Forum-forum seperti Darul Arqam tetap menjadi fondasi penting dalam membangun ideologi, wawasan, dan nilai-nilai gerakan.
Namun, fondasi tersebut akan lebih kokoh apabila diikuti oleh ruang-ruang learning by doing yang lebih luas. Kader tidak hanya dibentuk melalui ceramah, diskusi, atau doktrin di dalam kelas, tetapi juga ditempa di tengah masyarakat: mendampingi persoalan umat, mengorganisasi komunitas, menyusun advokasi, hingga menghadapi dinamika sosial secara langsung.
Sebab, kader yang matang bukan hanya mereka yang mampu mengutip teori dengan baik, melainkan mereka yang mampu menerjemahkan teori menjadi keberpihakan dan tindakan nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Kaderisasi bukan Formalitas
Refleksi yang tidak kalah penting adalah kecenderungan kaderisasi yang terkadang berhenti pada pemenuhan formalitas. Keberhasilan sering kali diukur dari terlaksananya Darul Arqam Dasar, lengkapnya administrasi, atau tersusunnya laporan kegiatan.
Padahal, forum hanyalah pintu masuk, bukan garis akhir. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika peserta kembali ke komisariat dan menjalani kehidupan organisasi sehari-hari. Apakah mereka tetap bertumbuh sebagai kader, memperoleh ruang untuk belajar, diberi kepercayaan untuk memimpin, dan merasa menjadi bagian penting dari masa depan organisasi?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang semestinya menjadi ukuran keberhasilan kaderisasi, bukan semata jumlah peserta yang mengikuti forum.
Di sinilah bilik etalase Warung Madura menawarkan sebuah refleksi yang sederhana tetapi mendalam. Warung itu tidak bertahan karena seremoni pembukaannya, melainkan karena kemampuannya menjaga keberlanjutan ekosistem yang membuat setiap orang tetap memiliki alasan untuk bertahan, belajar, dan pada akhirnya dipercaya mengelola warung baru.
IMM pun memerlukan semangat yang serupa. Kaderisasi tidak cukup berhenti pada pelaksanaan forum, tetapi harus berlanjut menjadi proses pendampingan, pemberdayaan, dan regenerasi yang terus berlangsung.
Sebab, organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang mampu meluluskan banyak peserta Darul Arqam, melainkan organisasi yang mampu memastikan setiap kader tetap hidup, bertumbuh, dan menjadi penggerak bagi lahirnya kader-kader berikutnya.
Barangkali, yang perlu dipelajari IMM dari Warung Madura bukan bagaimana menjual barang, melainkan bagaimana membangun ekosistem yang membuat setiap orang rela menjaga, bertumbuh, lalu melahirkan penjaga-penjaga baru.
Sebab, organisasi tidak pernah besar hanya karena memiliki sistem kaderisasi, tetapi karena berhasil menumbuhkan kader yang merasa organisasi adalah rumah yang layak diperjuangkan
*) Penulis: M Hafid Ridho
Ketua Umum PC IMM Mojokerto Raya













