Menjadikan Masjid sebagai Pusat Pendidikan dan Membangun Generasi Masjid

Mendikdasmen RI Prof Abdul Mu'ti saat menyampaikan tausiyah dalam peresmian Masjid Al-Huda Muhammadiyah Burneh, Jumat pagi (1/5/2026). (Foto: Ubay NA)

MAKLUMAT — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan pentingnya masjid sebagai pusat pendidikn dan pusat peradaban, ketika menyampaikan tausiyah dalam peresmian Masjid Al-Huda Muhammadiyah Burneh, Bangkalan, pada Jumat (1/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Mu’ti mengungkapkan terdapat empat ciri-ciri atau indikator kemakmuran masjid. Pertama, masjid harus ramai.

“Ramainya karena banyak orang yang ke masjid. Ke masjidnya untuk apa? Untuk beribadah. Ke masjidnya untuk senantiasa berzikir kepada Allah. Kalau yang ke masjid itu banyak, maka masjid itu makmur,” katanya.

Kedua, masjid itu makmur kalau masjidnya kelihatan gagah. Ketiga, masjid itu makmur kalau jamaahnya makmur.

“Karena itu, maka di Al-Qu’ran itu termasuk lafaz yang menyebutkan masjid itu kan hubungannya dengan kalau ke masjid itu pakai pakaian yang indah-indah. Kalau kamu ke masjid pakai pakaian yang bagus, pakai perhiasan yang menggambarkan kamu itu orang yang makmur dan sejahtera,” jelasnya.

Keempat, Mu’ti menegaskan bahwa masjid harus menjadi tempat di mana berbagai persoalan dapat diselesaikan, bukan hanya sebatas sarana untuk beribadah.

“Masjid yang (makmur) menjadi tempat di mana berbagai persoalan itu diselesaikan di masjid,” tandas pria yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu.

Membangun Generasi Masjid

Mu’ti menandaskan bahwa masjid sebagai pusat peradaban dan pusat pendidikan, maka harus mampu mencetak generasi yang cinta masjid.

Masjid sebagai pusat peradaban, masjid sebagai pusat kebudayaan. itu semuanya penting kita bangun, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah membangun generasi masjid,” tandasnya.

Baca Juga  Kemdiktisaintek dan KPK Sepakat Selenggarakan Pendidikan Antikorupsi: Harus Ditanamkan Sejak Dini

Ia mengaku terhenyak menyaksikan banyak masjid saat ini yang tersebar begitu banyak di berbagai daerah, dengan bangunan yang megah dan indah, namun hanya memiliki sedikit jamaah.

“Kita sekarang sudah banyak menyaksikan bahwa masjidnya banyak, besar-besar, megah-megah, tetapi jamaahnya kosong. Ini menurut saya memang harus menjadi bagian dari renungan kita bersama. Kita bangun masjid itu penting dan sangat penting, tetapi harus kita bangun juga generasi masjid,” tandasnya.

Penguatan Catur Pusat Pendidikan

Lebih lanjut, Mu’ti menandaskan pengtingnya penguatan dan peran vital catur pusat pendidikan, termasuk masjid sebagai bagian dari infrastruktur elemen masyarakat.

Ia menegaskan komitmen Kemendikdasmen dalam melaksanakan amanat konstitusi terkait pendidikan.

Amanat konstitusi bahwa tujuan pendidikan itu sebagaimana pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Dasar itu disebutkan bahwa pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Itu yang di Undang-Undang Dasar, yang di Undang-Undang Pendidikan ada tambahannya, cerdas, terampil, mandiri, bertanggunjawab, demokratis, dan lain sebagainya,” terangnya.

Pria kelahiran Kudus itu menjelaskan Tri Pusat Pendidikan yang digaungkan tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, yakni pendidikan yang berpusat di sekolah, di rumah (keluarga), dan di masyarakat.

“Ki Hajar Dewantara itu menyebut pendidikan yang berpusat di sekolah, di rumah, dan di masyarakat, dengan pendekatan among. Pendekatan among itu asah, asih, dan asuh,” jelasnya.

Baca Juga  Al-Quran dan Transformasi Tradisi: Dari Lisan ke Tulisan

Namun, Mu’ti mentransformasinya dengan menambahkan satu aspek lagi, yakni media. Sehingga menjadi Catur Pusat Pendidikan. Ia menilai, perkembangan arus informasi dan teknologi saat ini, termasuk masifnya media sosial (medsos), sangat penting untuk dikendalikan dan diarahkan menjadi instrumen yang positif dalam mendukung pendidikan generasi.

“Zaman Ki Hajar Dewantara itu belum ada medsos, belum ada internet, makanya tidak dimasukkan oleh beliau. Makanya sekarang saya tambahkan jadi empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, tempat ibadah atau masyarakat, dan media,” kelakarnya.

“Media ini penting untuk menjadi bagian dari pusat pendidikan. Karena bisa jadi anak-anak itu diajarkan yang mulia, diajari yang baik-baik di rumah, tapi tayangan-tayangan di televisi dan media itu tidak mendidik,” imbuh pria yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia mengungkapkan, berdasarkan penelitian diketahui bahwa rata-rata orang Indonesia menggunakan internet selama 7 jam 36 menit setiap harinya. “Artinya hampir sepertiga waktunya itu untuk berselancar di dunia maya, malah kadang-kadang tingkatnya itu sudah ketergantungan, kecanduan,” sorotnya.

Sebab itu, ia menekankan pentingnya mengintegrasikan media dan teknologi dalam instrumen pendidikan, sehingga mampu mereduksi dampak negatif media sekaligus mengarahkannya menjadi instrumen yang mendukung proses pendidikan anak.

“Kita itu hidup di era teknologi digital, yang kadang-kadang kita itu mengalami ketergantungan di situ. Sehingga kalau kemudian media ini tidak kita jadikan sebagai sarana pendidikan, maka harapan kita memiliki generasi emas itu bisa rusak<‘ tandas Mu’ti.

Baca Juga  KOSPI Ajukan Judicial Review UU APBN 2026 ke MK, Soroti Anggaran MBG Masuk Pos Pendidikan

Masjid sebagai Pusat Pendidikan

Tak cuma itu, dalam kesempatan tersebut Mu’ti juga menekankan pentingnya masjid sebagai pusat pendidikan. Ia mendorong agar ke depan masjid-masjid di Indonesia tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat untuk belajar dan menjadi pusat interaksi sosial.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, menurut Mu’ti, misalnya dengan membuat perpustakaan masjid.

Sebab itu, ia meminta agar Masjid Al-Huda Muhammadiyah Burneh menyediakan spot khusus yang diperuntukkan sebagai perpustakaan masjid. Ia juga berjanji bakal membantu pengadaan koleksi buku untuk perpustakaan masjid tersebut melalui Balai Bahasa di bawah naungan Kemendikdasmen.

“Supaya anak-anak mau ke masjid, saya minta tolong, bahwa masjid tidak hanya punya fungsi ritual saja untuk ibadah, tapi juga ada fungsi pendidikan,” pesannya.

“Mungkin nanti di sini, di Masjid Al-Huda diberi perpustakaan. Insya Allah nanti buku-bukunya bisa dibantu oleh Balai Bahasa,” imbuh Mu’ti.

Selain itu, ia juga mendorong berbagai kegiatan produktif di masjid yang inovatif, sehingga dapat menggugah anak-anak muda untuk datang ke masjid.

“Nanti dibuat kegiatan-kegiatan yang cocok, yang pas untuk anak-anak muda. Kalau perlu penceramahnya yang masih muda, bukan lagi penceramah-penceramah yang sudah uzur, yang tua-tua,” tandas Mu’ti.