Muhammadiyah dan Grand Mufti Kamboja Bahas Penjajakan Kerja Sama Pendidikan Islam

MAKLUMAT — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan Grand Mufti Kamboja Syaikh Yahya Yusof di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (28/9/2026). Pertemuan tersebut membahas peluang dan penjajakan kerja sama di bidang pendidikan Islam, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan lingkungan hidup.

Kunjungan tersebut diterima Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah Mohammad Mas’udi, anggota MTT PP Muhammadiyah Ghoffar Ismail, serta Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah Hening Parlan.

Dalam pertemuan tersebut, Hening memperkenalkan struktur organisasi Muhammadiyah, mulai dari majelis dan lembaga, organisasi otonom, hingga amal usaha Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga memaparkan berbagai program yang dikembangkan dalam bidang pendidikan, keagamaan, kesehatan, sosial, dan lingkungan hidup.

Kamboja Hadapi Keterbatasan Guru

Grand Mufti Kamboja Syaikh Yahya Yusof menyampaikan kondisi umat Islam dan pendidikan Islam di negaranya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan SDM serta pengelolaan sekolah Islam.

Kamboja saat ini memiliki sekitar 634 sekolah Islam dengan lebih dari 71 ribu siswa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 guru telah memperoleh dukungan pemerintah, sedangkan sekitar 900 guru lainnya masih berstatus sukarelawan.

Baca Juga  Uji Publik Capres-Cawapres untuk Menitipkan Aspirasi Muhammadiyah

Yahya berharap pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola pendidikan dapat menjadi rujukan untuk meningkatkan kapasitas guru, kepala sekolah, dan manajemen lembaga pendidikan Islam di Kamboja.

“Kami masih memiliki kemampuan yang terbatas. Cara pengelolaan sekolah pun masih terbatas. Dengan adanya kunjungan ini, semoga ke depan kita bisa bekerja sama, terutama dalam bidang guru dan murid,” ujarnya.

Menurutnya, penjajakan kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu mendorong kemandirian sekolah Islam di Kamboja. Sejumlah sekolah masih bergantung pada bantuan dan donasi karena belum memiliki sumber pendanaan yang mandiri.

Pendidikan dan Lingkungan Jadi Penjajakan

Selain pendidikan Islam, delegasi Kamboja menyampaikan ketertarikan untuk mengembangkan gerakan lingkungan hidup yang terintegrasi dengan pendidikan Islam.

Bidang tersebut menjadi salah satu potensi kerja sama yang diperkenalkan Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup.

Pertemuan juga membahas kemungkinan pengembangan hubungan akademik antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan lembaga pendidikan di Kamboja.

Hubungan tersebut berpotensi dikembangkan melalui pertukaran mahasiswa, pelatihan, riset, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Muhammadiyah Dorong Pendekatan Kontekstual

Wakil Ketua MTT PP Muhammadiyah Mohammad Mas’udi turut menjelaskan pendekatan keagamaan yang digunakan Muhammadiyah dalam memahami persoalan kontemporer melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

Baca Juga  Muhammadiyah Jatim Gelar Al Maun Award 2024: Wujudkan Panti Asuhan Berkemajuan

Ketiga pendekatan tersebut mengintegrasikan sumber keagamaan, ilmu pengetahuan, serta pertimbangan kemaslahatan dalam merespons berbagai persoalan.

Mas’udi mengatakan, setiap penjajakan kerja sama dengan Kamboja perlu memperhatikan kondisi sosial dan keagamaan masyarakat setempat. Menurutnya, pengembangan Muhammadiyah di tingkat internasional harus dilakukan dengan memahami budaya dan karakter masyarakat di setiap negara.

“Kalau kita ke Kamboja, kita harus melihat bagaimana Kamboja itu. Kita tidak boleh mengacak-acak budaya yang ada. Kita harus masuk dari hal-hal yang disepakati bersama,” jelasnya.***