22.8 C
Malang
Selasa, Mei 28, 2024
KilasMungkinkah Muhammadiyah Bisa Terhapus dari Bumi Indonesia?

Mungkinkah Muhammadiyah Bisa Terhapus dari Bumi Indonesia?

Wakil Ketua PWM Jatim M. Khoirul Abduh

PERTANYAAN serius dilontarkan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur M. Khoirul Abduh mengenai kemungkinan Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912 itu bisa hilang atau terhapuskan dari bumi Indonesia.

Pria asal Jombang itu dengan lantang mengemukakan hal itu bukan tanpa alasan. Bahwa sangat mungkin organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini bisa hilang atau dihapuskan dari peradaban Indonesia. Yakni, apabila rezim yang tengah berkuasa memandang Muhammadiyah sebagai sebuah ancaman atau sesuatu yang terlarang.

“Mungkinkah Muhammadiyah dihapus dari Indonesia? Itu sangat mungkin! Ketika rezim penguasa itu mungkin tidak suka Muhammadiyah, lalu mereka menyatakan Muhammadiyah adalah organisasi terlarang. Habislah semua itu yang namanya amal usaha Muhammadiyah yang ribuan jumlahnya itu,” katanya menghentak peserta Regional Meeting VI.

Kegiatan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jatim tersebut diadakan di Aula PKP-RI, Bangkalan, Madura, Sabtu (16/9/2023). Hadir perwakilan LHKP PDM Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.

Maka, Abduh menekankan, penting bagi Muhammadiyah untuk memahami posisi dan dinamika politik yang berkembang, baik secara nasional maupun geopolitik global. Sehingga, Persyarikatan mampu merancang strategi, menyikapi dan bertindak dengan tepat ketika menghadapi hal-hal tersebut.

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur itu kemudian mengajak warga, para kader, dan pimpinan persyarikatan untuk berkaca pada HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang keberadaannya sudah dilarang oleh pemerintah.

“HTI dibuyarkan itu karena mungkin tidak punya amal usaha, gak kepikiran. Kadang saya mikir mereka demonstrasi setiap hari itu dapat duit darimana ya heran. Tapi ini cerminan, bahwa bicara politik, maka kita harus paham dinamika politik secara nasional, maupun internasional atau geopolitik global. Itu semua saling berkaitan,” ungkap alumni IAIN Sunan Ampel (sekarang menjadi UINSA) Surabaya.

Dalam sejarah tahun 1971, saat itu terjadi gerakan mahasiswa yang dimotori oleh seorang tokoh Dr Hariman Siregar, yang menolak segala bentuk produk Jepang, dibakar semua. Muncul lagi gelombang gerakan anti Amerika, sehingga muncul ajakan, bahkan instruksi untuk tidak menjual dan membeli produk-produk Amerika. Muncul lagi gerakan anti China, dan seterusnya.

“Artinya kondisi politik kita ini dipengaruhi oleh persoalan dinamika politik nasional, hingga geopolitik global. Bayangkan jika Indonesia bisa mengolah nikel, sebagai bahan utama baterai untuk mobil listrik? Tentu itu akan mempengaruhi peta geopolitik global,” tegas dia.

Maka, Abduh mengajak,  warga Muhammadiyah agar memiliki literasi politik dan geopolitik yang mumpuni, sehingga bisa memahami posisi tawar secara politik, hingga menyikapi persoalan-persoalan yang menyangkut kebijakan pemerintah, yang sedikit-banyak akan berpengaruh pula bagi keberlangsungan peradaban Muhammadiyah di masa depan.

“Maka penting bagi kita, ketika bicara politik, untuk paham politik nasional maupun apa yang disebut dengan geopolitik global itu. Kebijakan-kebijakan pemerintah itu dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut,” tandasnya.(*)

Reporter: Ubay NA

Editor: Aan Hariyanto 

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer