Patologi Kekuasaan: Marwah IPM di Persimpangan Jalan

Ketua Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur, Yudhistira Ananta.

MAKLUMAT — Belakangan ini, kita melewati suasana muram yang menyelimuti ruang-ruang diskusi di tingkat akar rumput. Sebuah keresahan yang lahir bukan dari kurangnya aktivitas organisasi, melainkan dari sebuah disorientasi kepemimpinan yang kian hari semakin menunjukkan wajah aslinya.

Dalam banyak diskursus sosiologi organisasi, kita mengenal istilah erosi otoritas, di mana pemimpin tidak lagi berdiri di atas mandat moral dan konstitusi, melainkan terjebak dalam labirin kepentingan yang sempit dan personal.

Penundaan Muktamar tanpa alasan transparan adalah puncak gunung es dari runtuhnya integritas di tingkat Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM). Ruang yang seharusnya sakral bagi sirkulasi gagasan kini merosot menjadi sekadar seremonial yang ditarik-ulur demi selera pimpinan

Di saat yang sama proses kalenderisasi organisasi dibuat memuai hanya untuk mengakomodasi kepentingan di luar sistem, marwah ikatan telah jatuh ke titik terendahnya.

Kita sedang dipaksa menyaksikan proses privatisasi organisasi yang cukup pahit dimana AD/ART dan khittah perjuangan kalah telak oleh syahwat politik individu pimpinan yang ingin melanggengkan pengaruhnya.

Keberlanjutan sebuah entitas organisasi sangat bergantung pada kepatuhan para aktornya terhadap aturan main kolektif. Namun, apa yang hari ini terjadi di tingkat pusat menunjukkan gejala klinis yang mengkhawatirkan sebuah patologi kekuasaan.

Baca Juga  Paradoks Riset di Perguruan Tinggi

Kalau mau agak sedikit “ndakik”, ada sebuah fenomena menarik dalam sosiologi kekuasaan yang disebut sebagai le l’état, c’est moi bahwa negara adalah saya. Dalam konteks organisasi modern seperti IPM, gejala ini bermetamorfosis menjadi sebuah keyakinan bahwa organisasi adalah properti pribadi yang arah mata anginnya ditentukan bukan oleh kompas konstitusi, melainkan oleh suasana hati dan kepentingan pimpinan.

Hari ini, kita menyaksikan sebuah paradoks kepemimpinan di tubuh PP IPM. Di atas panggung, narasi yang dibangun selalu soal kolektif kolegial dan masa depan pelajar se-Indonesia. Namun, di balik layar, tindak-tanduk yang hadir justru tampak seperti upaya sistematis untuk memuaskan egosektoral dan ambisi politik sempit.

Perhelatan akbar selevel Muktamar seharusnya menjadi momentum integrasi nasional bagi seluruh kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ia adalah ruang di mana ribuan gagasan dari berbagai wilayah melebur menjadi satu visi besar. Namun, apa yang belakangan ini tersaji justru menunjukkan sebuah anomali kepemimpinan yang mengkhawatirkan: alih-alih merajut persatuan, pucuk pimpinan pusat tampaknya lebih menikmati peran sebagai inisiator keretakan.

Upaya sistematis untuk membenturkan, hingga masuk ke ranah domestik agar timbul berseberangan pandangan, adalah bentuk nyata dari devide et impera yang usang yang berdampak pada marwah organisasi, sering kali kita terjebak pada sebuah kekeliruan berpikir, bahwa marwah organisasi adalah tanggung jawab eksklusif mereka di PP IPM.

Baca Juga  Teknologi yang Menyentuh Hati Manusia

Kita seolah memaklumi bahwa wajah organisasi sepenuhnya ditentukan oleh perangai para pimpinannya. Namun, dalam hakikat sebuah gerakan keilmuan layaknya Ikatan Pelajar Muhammadiyah, marwah bukanlah sebuah benda mati yang tersimpan di brankas kantor menteng. Marwah adalah ruh kolektif yang denyutnya hidup di setiap sanubari pelajar Muhammadiyah, dari hiruk-pikuk kota hingga ke ranting-ranting sunyi di pelosok nusantara.

Di tengah riuhnya dinamika ini, sering kali kita lupa bahwa Ikatan ini didirikan bukan sebagai arena pacuan untuk saling menjatuhkan, melainkan sebagai sebuah rumah besar tempat persemaian seluruh. Namun, belakangan ini, angin kompetisi terasa lebih kencang daripada hembusan ukhuwah. Retakan-retakan mulai muncul di sela-sela struktur kita, menciptakan jarak antara kawan seperjuangan yang seharusnya saling menggenggam.

Merajut kembali kain yang mulai robek bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia menuntut kebesaran hati untuk melihat bahwa kemenangan sejati, bukanlah saat satu kelompok berhasil menundukkan kelompok lain, melainkan saat kita mampu keluar dari ruang sidang sebagai satu kesatuan yang lebih baik. Percayalah, marwah organisasi tidak akan tegak di atas puing-puing perpecahan. Ia hanya akan bersinar jika setiap dari kita, dari pusat hingga ke ranting, menyadari bahwa tak ada kepentingan pribadi yang lebih besar daripada keutuhan ikatan.

Baca Juga  Pelajaran dari Politikus Piawai Muawiyah

Organisasi ini punya kita bareng-bareng, bukan punya satu-dua orang saja, kita semua kawan, kita semua lahir dari satu rahim perkaderan yang sama. Masa depan IPM tidak ditentukan oleh berapa lama kita bisa bertahan dalam kekuasaan, melainkan oleh seberapa besar integritas yang kita wariskan bagi orang-orang setelah kita. Mari bergerak dengan akal sehat, berjuang dengan martabat, dan kembali bersatu demi marwah Ikatan yang lebih terhormat.

Pada akhirnya, di balik segala analisis struktur dan dialektika organisasi yang melelahkan ini, ada sebuah kejujuran yang saya simpan rapat di ruang paling sunyi dalam kesadaran saya. Bahwa pengabdian ini bukan tentang mengejar puncak, melainkan tentang membayar hutang budi pada rumah yang telah membesarkan akal dan nurani saya, hingga terucap salam cinta, salam juang. Karena dengan cinta kita berjuang. Terima kasih.