Pendidikan dan Keteladanan: “Jalan Sutra” Menuju Generasi Emas di Era Digital

Kepala BPSDM Jawa Timur, Dr Ramliyanto SP MP, saat menyampaikan paparannya dalam Kajian Ahad Pagi Fajar Shodiq di Mutia Exhibition Center PMBQ Nurul Azhar Ngoro, Mojokerto, Ahad (25/1/2026). (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Dr Ramliyanto SP MP, menegaskan pentingnya pendidikan dan keteladanan sebagai “jalan sutra” menuju generasi emas di era digital. Meski begitu, ia menandaskan bahwa hal tersebut adalah jalan panjang bernilai, yang memerlukan kesabaran, konsistensi, dan komitmen lintas generasi.

Hal itu ia sampaikan ketika menjadi narasumber dalam Kajian Ahad Pagi Fajar Shodiq Pondok Modern Bustanul Quran (PMBQ) Nurul Azhar di Mutia Exhibition Center Ngoro, Mojokerto, pada Ahad (25/1/2026).

Dalam kesempatan itu, Ramliyanto menyoroti tingginya angka pengguna internet di Indonesia, terutama semakin massifnya platform media sosial, serta tingginya rata-rata jam menggunakan internet di kalangan generasi muda.

Kemajuan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi digital saat ini, menurutnya, berkaitan dengan bagaimana membentuk generasi masa depan. Sebab itu, pendidikan juga harus mampu adaptif dalam pemanfaatan teknologi, serta mampu membentuk karakter agar tidak terjerumus dalam dampak negatif atas segala kemudahan teknologi.

Ia menandaskan, pendidikan dalam Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Hal itu, kata dia, sebagaimana konsep pendidikan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Baca Juga  Indonesia dalam Pusaran Transformasi Pendidikan Tinggi Global

Konsep pendidikan KH Ahmad Dahlan, menurut Ramliyanto, adalah dengan memadukan sistem pendidikan pondok pesantren dengan sistem pendidikan modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.

“Pendidikan yang ada pada saat itu adalah sistem pendidikan sekular, Ahmad Dahlan menghendaki adanya perubahan sistem pendidikan yang seimbang antara pendidikan akal, ruhiyah, dan pendidikan jasmani, sehingga melahirkan pendidikan manusia seutuhnya,” tandas Ramliyanto.

Ia juga menjelaskan konsep pendidikan yang digalakkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, yang mencakup konsep-konsep teologis, metode pengajaran, dan tujuan akhir pendidikan. Menurutnya, pendidikan menekankan pentingnya Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad sebagai landasan utama dalam penyelenggaraan pendidikan Islam.

“Menekankan pentingnya pendidikan karakter, moral, dan etika, serta pengembangan potensi siswa secara holistik,” katanya.

“Tujuan akhir pendidikan Islam menurutnya adalah memanusiakan manusia seutuhnya, yakni menjadi makhluk yang takut atau bertakwa kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya menjalankan segala perintah-Nya, siap menegakkan keadilan di muka bumi, dan beramal saleh,” sambung Ramliyanto.

Menukil Al-Quran Surat Al-Mujadilah ayat 11 dan Al-Ahzab ayat 21, Ramliyanto menegaskan pentingnya pendidikan dan keteladanan sebagai “jalan sutra” menuju generasi emas di era digital. Sebagai jalan panjang bernilai, yang memerlukan kesabaran, konsistensi, dan komitmen lintas generasi.

Baca Juga  Beasiswa Cinta Bergema Jember Masuk Tahap Wawancara, Bupati Fawait Minta Seleksi Transparan

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Menurutnya, pendidikan bukan hanya pengajaran, tetapi juga berbasis pada keteladanan. Sebab itu, ia menandaskan bahwa mencetak generasi emas masa depan yang unggul harus mampu memadukan pendidikan dan keteladanan sebagai suatu “jalan sutra.”

Istilah jalan sutra, kata dia, melambangkan perjalanan panjang peradaban, jalur pertukaran ilmu, budaya, dan nilai antarbangsa.

“Generasi emas juga tidak lahir dari jalan pintas. Ia lahir dari proses panjang yang menyatukan pendidikan yang bermutu dan keteladanan yang konsisten/istikamah,” jelasnya.

Pendidikan tanpa keteladanan, lanjut Ramliyanto, melahirkan kecerdasan tanpa arah. Sebaliknya, keteladanan tanpa pendidikan melahirkan kebaikan yang tidak terstruktur. Karenanya, ia menegaskan bahwa antara ilmu dan amal adalah satu kesatuan yang tidak boleh terpisahkan.

“Ilmu harus menghasilkan amal yang bermanfaat, dan amal harus berlandaskan pada keilmuannya. Ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah,” tandasnya.