MAKLUMAT — Apa yang sebenarnya ingin kita lahirkan dari pendidikan: manusia yang pandai menjawab soal? Atau manusia yang mampu membaca kehidupan?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar pendidikan. Sekolah sering kali diukur melalui angka, nilai, kelulusan, peringkat, dan berbagai indikator administratif. Peserta didik didorong untuk menguasai materi, menyelesaikan tugas, mengejar prestasi, kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya. Namun, di tengah semua ukuran tersebut, ada pertanyaan yang tidak boleh hilang: apakah pendidikan telah membuat manusia semakin mampu berpikir, berdialog, memahami realitas, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab?
Pertanyaan semacam itu telah lama diajukan Paulo Freire melalui karya monumentalnya, Pedagogy of the Oppressed atau Pendidikan Kaum Tertindas. Buku tersebut pertama kali diterbitkan dalam bahasa Portugis pada 1968 dan kemudian hadir dalam bahasa Inggris pada 1970. Pemikiran Freire kemudian menjadi salah satu fondasi penting pedagogi kritis.
Freire tidak melihat pendidikan semata-mata sebagai proses memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Baginya, pendidikan berkaitan erat dengan manusia, kebebasan, kekuasaan, realitas sosial, dan kemampuan seseorang untuk mengubah kehidupannya.
Di sinilah kritik Freire terhadap apa yang ia sebut sebagai banking concept of education menjadi relevan. Ketika Murid Diposisikan sebagai “Celengan”
Dalam model pendidikan “sistem bank”, guru diposisikan sebagai pemilik pengetahuan, sementara murid menjadi penerima yang menunggu “setoran” pengetahuan. Guru menjelaskan, murid mendengarkan. Guru bertanya, murid menjawab. Guru menentukan, murid mengikuti.
Masalahnya bukan pada kegiatan menjelaskan atau memberikan pengetahuan. Pengetahuan tetap membutuhkan proses transmisi. Persoalannya muncul ketika peserta didik hanya diposisikan sebagai objek yang menerima tanpa kesempatan memaknai, mempertanyakan, menghubungkan, dan mengembangkan pengetahuan tersebut.
Model seperti ini berisiko melahirkan peserta didik yang terbiasa mencari jawaban yang dianggap benar, tetapi kurang terlatih mengajukan pertanyaan yang tepat. Padahal, kehidupan tidak selalu menyediakan soal pilihan ganda.
Persoalan kemiskinan, lingkungan, ketimpangan, perubahan teknologi, konflik sosial, pekerjaan, bahkan masa depan manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan menghafalkan jawaban. Dibutuhkan kemampuan membaca situasi, melihat hubungan sebab-akibat, mendengarkan perspektif berbeda, kemudian mengambil tindakan.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan knowing, tetapi bergerak menuju kemampuan understanding dan doing.
Pendidikan: Menghadapkan Murid pada Realitas
Freire menawarkan pendidikan problem-posing atau pendidikan hadap masalah. Peserta didik tidak hanya menerima realitas sebagai sesuatu yang sudah selesai, tetapi diajak mempertanyakan realitas tersebut.
Misalnya, ketika sekolah membahas sampah, pembelajaran tidak harus berhenti pada definisi sampah organik dan anorganik. Peserta didik dapat diajak melihat kondisi sampah di lingkungan sekolah, menghitung volumenya, mencari penyebabnya, mewawancarai warga sekolah, menganalisis kebiasaan konsumsi, kemudian merancang solusi.
Di sana matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, kewarganegaraan, teknologi, dan karakter dapat bertemu dalam satu persoalan nyata.
Inilah pembelajaran yang menjadikan kehidupan sebagai ruang belajar.
Freire menyebut pentingnya praksis, yakni hubungan antara refleksi dan tindakan. Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang mampu berbicara mengenai perubahan. Pendidikan harus membantu manusia memahami persoalan, merefleksikannya, kemudian mengambil tindakan yang bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan yang memperoleh ijazah, tetapi manusia yang memiliki keberanian untuk terlibat dalam kehidupan.
Guru Tidak Kehilangan Otoritas
Pemikiran Freire kadang disalahpahami seolah-olah pendidikan dialogis berarti guru dan murid harus sepenuhnya berada dalam posisi yang sama.
Menurut saya, pemahaman tersebut justru perlu diluruskan.
Guru tetap memiliki otoritas akademik. Guru memiliki pengalaman, kompetensi, tanggung jawab pedagogis, dan pengetahuan yang tidak selalu dimiliki peserta didik. Namun, otoritas tidak harus berubah menjadi dominasi.
Guru yang berwibawa bukan guru yang membuat murid takut bertanya. Guru yang berwibawa justru mampu menciptakan ruang ketika pertanyaan murid dihargai, bahkan ketika pertanyaan itu menantang pemikiran gurunya. Di sinilah dialog memiliki tempat penting.
Dialog bukan berarti semua pendapat dianggap benar. Dialog berarti setiap pendapat memiliki kesempatan untuk diuji melalui argumentasi, data, pengalaman, dan pertimbangan etis.
Dengan demikian, pendidikan kritis bukan pendidikan bebas tanpa arah. Sebaliknya, pendidikan kritis membutuhkan disiplin berpikir yang lebih tinggi.
Tantangan Baru di Era Digital dan AI
Pemikiran Freire semakin menarik ketika ditempatkan dalam konteks era digital dan kecerdasan buatan.
Hari ini peserta didik dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Mesin pencari, media sosial, chatbot, dan berbagai aplikasi AI membuat informasi semakin mudah diakses. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat manusia semakin kritis.
Justru persoalan baru muncul: siapa yang menentukan informasi yang kita lihat? Bagaimana algoritma bekerja? Apakah informasi tersebut benar? Siapa yang memperoleh keuntungan dari perhatian kita? Apakah jawaban yang dihasilkan AI benar-benar dipahami oleh peserta didik?
Di titik ini, konsep “membaca dunia” menjadi penting.
Literasi tidak cukup berarti kemampuan membaca dan menulis teks. Peserta didik juga harus mampu membaca konteks, membaca kepentingan, membaca data, membaca algoritma, dan membaca konsekuensi dari teknologi.
Jika tidak, teknologi yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru dapat berubah menjadi bentuk ketergantungan baru.
Peserta didik mungkin menjadi sangat cepat mendapatkan jawaban, tetapi semakin lambat membangun pemahaman.
Pendidikan Kritis Tidak Boleh Jadi Indoktrinasi
Namun, pemikiran Freire juga tidak boleh diterapkan secara romantis.
Ada risiko ketika pendidikan kritis disalahgunakan untuk memasukkan pandangan politik, ideologi, atau kepentingan tertentu kepada peserta didik. Guru yang merasa dirinya paling kritis justru dapat berubah menjadi pihak yang paling tidak dialogis. Ini paradoks yang harus dihindari.
Jika pendidikan bertujuan membebaskan manusia, maka peserta didik harus memiliki ruang untuk berbeda pendapat, termasuk berbeda dengan gurunya.
Pendidikan kritis tidak boleh mengganti satu bentuk dominasi dengan dominasi baru.
Karena itu, guru perlu membedakan antara mengajarkan cara berpikir kritis dan memaksakan apa yang harus dipikirkan.
Yang pertama membebaskan. Yang kedua berpotensi menindas.
Dari Sekolah ke Masyarakat
Relevansi Freire juga tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan yang membebaskan dapat dikembangkan melalui hubungan antara sekolah dan masyarakat. Persoalan desa, lingkungan, ekonomi keluarga, pertanian, kewirausahaan, budaya lokal, teknologi, dan perubahan sosial dapat menjadi sumber pembelajaran.
Peserta didik dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dari proses pendidikan.
Dengan pola seperti itu, sekolah tidak menjadi menara yang terpisah dari kehidupan. Sekolah menjadi bagian dari ekosistem sosial.
Anak belajar bukan hanya untuk memperoleh nilai, tetapi untuk memahami mengapa persoalan terjadi dan apa yang dapat dilakukan.
Menghasilkan Manusia Merdeka
Pada akhirnya, gagasan Freire membawa kita kembali kepada pertanyaan paling mendasar: untuk apa pendidikan?
Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang patuh, pandai menghafal, tetapi takut mempertanyakan keadaan, maka kita perlu melakukan evaluasi.
Sebaliknya, jika pendidikan mampu melahirkan manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, empati, kemampuan berpikir kritis, keberanian berdialog, dan kesediaan bertindak secara bertanggung jawab, maka pendidikan telah menjalankan fungsi kemanusiaannya.
Freire mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah sekadar persoalan teknis mengajar. Pendidikan selalu memiliki konsekuensi terhadap cara manusia melihat dirinya dan dunia.
Karena itu, pendidikan Indonesia tidak perlu menyalin Freire secara mentah. Yang lebih penting adalah mengambil ruh pemikirannya: memanusiakan manusia, membangun dialog, mengembangkan kesadaran kritis, dan menghubungkan pengetahuan dengan realitas.
Sebab sekolah seharusnya bukan pabrik yang mencetak manusia dengan ukuran seragam.
Sekolah adalah ruang tempat manusia belajar menjadi manusia—mengenali dirinya, memahami sesamanya, membaca zamannya, mempertanyakan ketidakadilan, dan menemukan keberanian untuk memperbaiki kehidupan.
Pendidikan yang demikian tidak sekadar mengisi kepala. Ia menyalakan kesadaran.
Dan ketika kesadaran tumbuh, manusia tidak lagi hanya bertanya, “Apa jawaban yang benar?”
Ia mulai berani bertanya: “Mengapa keadaan menjadi seperti ini, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya?”***
*) Penulis: Edi Susanto
Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan













