MAKLUMAT — Para delegasi Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah mengunjungi Futian Shixia Primary School Shenzhen, Tiongkok, pada sesi pertama di hari keempat kunjungan ke Negeri Tirai Bambu.
Salah satu sudut perjalanan yang cukup menarik perhatian yakni adanya Corridor Corner Activity, yang digunakan untuk menampilkan hasil dari Project Based Learning murid-murid di SD tersebut.
Ini adalah panggung kecil namun karya besar, yang menginspirasi dan bisa diadopsi. Terlebih bagi sekolah yang mempunyai cukup ruang kosong dan belum digunakan secara maksimal.
Corridor Corner Activity: Ruang Belajar Ketiga
Di Shixia School, koridor bukan sekadar jalan lewat. Setiap sudut koridornya diubah menjadi “Ruang Belajar Ketiga”—setelah kelas dan rumah. Sebuah lorong yang dikonsep menjadi tempat interaksi, kolaborasi, dan pameran karya.
Kegunaan yang bisa dimaksimalkan di koridor tersebut di antaranya: pertama, sebagai galeri belajar.
Dinding koridornya seolah menjadi etalase hidup. Bukan hiasan dari sekolah, tapi 100% hasil karya para murid.
Kedua, menjadi sudut yang punya fungsi sebagai: creativity corner, collaboration corner, hingga celebrations corner.
Creativity Corner: Meja mini dan papan tulis kapur untuk murid corat-coret ide baru;
Collaboration Corner: Tempat duduk lesehan untuk diskusi kelompok kecil project based learning (PBL);
Celebrations Corner: Papan apresiasi, pigura apresiasi yang menampilkan karya-karya murid hasil PBL.
Ketiga, filosofi Shixia: belajar tidak harus di kelas. Murid-murid dengan tipe atau gaya belajar visual, corridor activity menjadi pilihan tempat belajar yang aman dan nyaman, dan di situlah karyanya mendapat penghargaan dari warga sekolah.***
*) Penulis: Wigatiningsih













