MAKLUMAT — Sebuah balok kayu jati menjadi medium bagi Aryoko untuk merekam momentum ekonomi Indonesia dalam bentuk relief tiga dimensi. Pendidik Program Studi Kriya Kayu SMKN Pringkuku, Kabupaten Pacitan, itu mengukir sosok Purbaya Yudhi Sadewa dengan tema “Ekonomi Kuat, Rakyat Sejahtera”.
“Konsepnya adalah ‘Ekonomi Kuat, Rakyat Sejahtera’. Saya ingin menampilkan sosok Purbaya bukan hanya sebagai figur pejabat, tetapi sebagai simbol harapan pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada rakyat,” kata Aryoko dalam wawancara, Rabu, (16/9/2026).
Relief berukuran 70 x 70 sentimeter tersebut dikerjakan selama sekitar dua pekan sejak awal Juli 2026. Aryoko mengerjakannya di Studio Kayu Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta sebagai bagian dari kegiatan upskilling guru vokasi SMK.
Ia menyusun sejumlah elemen visual untuk mendukung sosok utama dalam relief. Di bagian kiri atas terdapat tulisan “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”, grafik pertumbuhan, dan peta Indonesia. Sementara bagian kanan atas memuat tulisan “Ekonomi Kuat Rakyat Sejahtera”.
Pada bagian bawah relief, Aryoko mengukir figur petani dan pedagang pasar dengan tulisan “Produk Lokal Daya Saing Global”. Elemen itu menggambarkan sektor masyarakat dan UMKM. Ia juga memasukkan figur pekerja, generasi digital, serta MRT yang menggambarkan pembangunan infrastruktur modern.
“Pose jempol ke atas adalah ekspresi optimisme dan kepercayaan diri Indonesia,” ujarnya.
Gestur tersebut dipertahankan sebagai bagian dari karakter visual figur Purbaya. Aryoko menilai pose itu sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan melalui keseluruhan karya.
Ketertarikannya membuat relief tokoh publik mulai berkembang sejak 2025. Sebelum mengerjakan sosok Purbaya, Aryoko telah membuat relief sejumlah tokoh nasional dan tokoh lokal Pacitan.
Menurut Aryoko, tokoh publik menarik untuk diterjemahkan ke dalam karya seni karena kisah dan perannya memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat. Meski begitu, pembuatan relief Purbaya sepenuhnya berasal dari inisiatif pribadi.
“Ini inisiatif pribadi saya sebagai pendidik. Saya ingin memberikan apresiasi melalui karya,” kata Aryoko.
Proses pengerjaan relief memadukan teknologi CNC router dengan keterampilan manual. Aryoko terlebih dahulu membuat sketsa dan desain komposisi, kemudian menyusun model tiga dimensi sebelum masuk ke tahap carving pada papan kayu jati.
Setelah bentuk dasar terbentuk, ia mengerjakan detail menggunakan pahat ukir berukuran kecil. Detail wajah, kacamata, kerutan, lipatan pakaian, tulisan, bangunan, hingga figur masyarakat dibuat secara bertahap dengan kedalaman relief yang berbeda.
Bagian wajah menjadi tahap yang paling menyita waktu. Aryoko memperkirakan sekitar 55 persen dari keseluruhan waktu pengerjaan digunakan untuk membentuk wajah karena ia harus menjaga kemiripan sekaligus ekspresi figur.
“Yang paling sulit adalah membentuk wajah agar tetap mirip dan ekspresif. Bagian itu membutuhkan waktu paling banyak,” tuturnya.
Setelah proses ukir selesai, permukaan kayu diamplas secara bertahap. Aryoko kemudian memberikan wood stain natural dan lapisan melamine doff sebanyak dua hingga tiga kali untuk mempertahankan karakter serat kayu sekaligus melindungi permukaan relief.
Karya tersebut pertama kali diperkenalkan melalui dokumentasi dan unggahan pada akhir Juli 2026. Hingga kini, relief masih berada di Balai BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta. Karya itu belum ditempatkan di kantor pemerintahan maupun menjadi koleksi pribadi Purbaya.
Aryoko berharap relief tersebut suatu saat dapat dilihat langsung oleh Purbaya. Ia telah mencoba menghubungi melalui media sosial dan sejumlah rekan, sembari membuka kemungkinan karya itu dipajang sebagai koleksi seni, ditempatkan di lingkungan Kementerian Keuangan, atau ditampilkan dalam pameran.
“Saya berharap karya ini bisa sampai dan diapresiasi langsung oleh Bapak Purbaya. Saya sudah mencoba menghubungi melalui media sosial dan rekan. Semoga beliau berkenan melihatnya,” kata Aryoko.
Bagi Aryoko, kayu jati juga memiliki makna tersendiri dalam karya tersebut. Karakter kayu yang kuat dan tahan lama ia hubungkan dengan harapan terhadap perekonomian Indonesia yang memiliki fondasi kuat dan bertumpu pada potensi dalam negeri.
“Harapannya, ekonomi yang kuat juga harus mengakar seperti kayu jati. Kuat, tahan lama, dan tumbuh dari bumi Indonesia sendiri,” ujarnya.
*) Penulis: Edi Susanto













