Pidato Prabowo di Mujahadah Kubro 1 Abad NU: Dendam dan Benci Tidak Boleh Hidup dalam Kekuasaan

Prabowo Mujahadah Kubro

MAKLUMAT — Presiden Prabowo Subianto menegaskan etika dasar kepemimpinan nasional: kekuasaan tidak boleh dijalankan dengan dendam, kebencian, dan dengki. Pesan ideologis itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026).

Bagi Prabowo, sejarah bangsa dan peradaban dunia menunjukkan satu pelajaran kunci: kemakmuran hanya lahir dari perdamaian, dan perdamaian hanya mungkin jika para pemimpin rukun serta berorientasi pada kepentingan rakyat, bukan pada ego kekuasaan. “Tidak boleh pemimpin punya dendam, rasa benci, rasa dengki, atau selalu mencari kesalahan pihak lain,” tegas Presiden seperti ditayangkan akun Youtube Sekretariat Presiden.

Prabowo menyebut NU sebagai jangkar moral dan sosial bangsa. Setiap kali Indonesia berada dalam situasi genting, NU tampil sebagai kekuatan penyangga negara—bukan hanya secara spiritual, tetapi juga historis dan kebangsaan. “Setiap kali Indonesia dalam keadaan bahaya, NU tampil menyelamatkan,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan bahwa ujian sejati kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada Proklamasi di Jakarta. Ujian proklamasi kemerdekaan berlangsung di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Dalam pertempuran melawan kekuatan kolonial dunia, rakyat yang dipimpin para kiai dan ulama NU membuktikan bahwa bangsa Indonesia memilih berdiri tegak, bukan tunduk. “Rakyat Jawa Timur yang dipimpin para kiai dan ulama telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak mau dijajah kembali oleh siapa pun,” katanya.

Baca Juga  Memahami Konteks Sapi Kurban Presiden

Dalam konteks kekinian, Prabowo menilai semangat tersebut relevan menghadapi polarisasi politik dan dinamika global. Demokrasi, menurutnya, boleh menghadirkan perbedaan, tetapi tidak boleh memutus persaudaraan kebangsaan. “Boleh bertanding, berdebat, berbeda. Tapi di ujungnya semua pemimpin dan masyarakat Indonesia harus rukun menjaga persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Presiden juga menggarisbawahi nilai mikul duwur mendem jero yang diajarkan para kiai—menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur dalam-dalam aib. Nilai ini, kata Prabowo, bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi karakter bangsa dalam mengelola kekuasaan dan perbedaan.

Dalam pidatonya, Prabowo mengaku selalu merasakan energi ideologis ketika berada di tengah warga Nahdlatul Ulama. Ia menyebut NU sebagai ruang kesejukan, persatuan, dan harapan atas masa depan Indonesia yang adil. Harapan itu, menurutnya, juga tampak dari peran kuat kaum ibu NU sebagai fondasi sosial bangsa. “Saya merasakan harapan atas bangsa dan negara yang adil, apalagi melihat kuatnya peran emak-emak NU,” ucapnya.

NU, Spirit Kebangsaan, dan Kepemimpinan Nasional

Mujahadah Kubro Satu Abad NU mengusung tema “Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, Kontribusi, dalam Mengembangkan Peradaban”. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum spiritual, tetapi juga ruang konsolidasi ideologis NU dalam memperkuat komitmen kebangsaan, budaya pesantren, dan peradaban Indonesia.

Baca Juga  Virdinda Le Ode: Apakah Presiden Prabowo Anti terhadap Orang Pintar?

Lima tujuan strategis Mujahadah Kubro—konsolidasi jam’iyyah, penguatan budaya pesantren, pengembangan peradaban, komitmen kebangsaan, serta pelestarian tradisi dan spiritualitas—diarahkan untuk menjaga keberlangsungan bangsa di tengah tekanan global dan fragmentasi sosial-politik.

Dalam konteks itu, kehadiran Presiden Prabowo dimaknai sebagai pertemuan antara kekuasaan negara dan otoritas moral keumatan, sekaligus ruang doa dan harapan kolektif bagi Indonesia agar tetap tegak sebagai negara berdaulat dan berkeadaban.

Agenda Kunjungan Presiden

Sebelumnya, Presiden Prabowo tiba di Jawa Timur pada Sabtu, 7 Februari 2026. Kepala Negara mendarat di Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, sekitar pukul 18.40 WIB.

Kedatangannya disambut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudi Saladin, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, serta Danlanud Abdulrachman Saleh Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara.

Usai bermalam di Malang, Presiden menghadiri puncak Mujahadah Kubro Satu Abad NU sebagai bagian dari agenda kenegaraan yang menempatkan persatuan, etika kepemimpinan, dan kekuatan sosial-keagamaan sebagai fondasi utama pembangunan nasional.