Profil Maidi, Wali Kota Madiun Terjaring OTT KPK: Dari Guru Geografi ke Arsitek Pahlawan Street Center

Kiprah Maidi

MAKLUMATNama Wali Kota Madiun Maidi tak pernah lepas dari satu kata kunci: perubahan. Selama lebih dari tiga dekade, ia dikenal sebagai birokrat di belakang layar—naik dari ruang kelas sekolah hingga akhirnya duduk di kursi wali kota. Obsesi Maidi sama sejak awal: membuat Kota Madiun hidup dan bergerak.

Kiprah Maidi kini menjadi bahan perbincangan, menyusul kabar OTT KPK. Namun sebelum hukum berbicara, jejak kerja Maidi telah membentuk wajah Kota Madiun, modern seperti hari ini.

Karier Maidi bermula jauh dari panggung politik. Ia pernah mengajar Geografi di SMAN 1 Madiun pada akhir 1980-an—sebuah fase yang membentuk cara pandang: kota harus dibaca seperti peta, punya pusat, jalur, dan tujuan.

Setelah menjabat kepala sekolah, Maidi masuk ke jantung birokrasi. Ia memimpin Dinas Pendidikan, lalu Dinas Pendapatan Daerah, sebelum dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Kota Madiun selama sembilan tahun.

Pada posisi inilah, Maidi  dikenal piawai merapikan administrasi, menutup kebocoran anggaran, dan menata disiplin ASN. Reputasi itu mengantar Maidi pada Pilkada 2018—dan kemenangan.

Saat menjabat Wali Kota Madiun periode pertama (2019–2024), Maidi membawa satu gagasan besar: kota tanpa sumber daya alam harus menjual pengalaman. Dari sini lahir semboyan yang lekat di ingatan warga: “Siang Sejuta Bunga, Malam Sejuta Lampu.”

Jalan protokol Kota Madiun tak lagi sekadar jalur kendaraan. Trotoar dilebarkan, taman ditata, lampu kota dipoles. Puncaknya adalah Pahlawan Street Center (PSC)—sebuah proyek urban tourism yang menyulap Jl. Pahlawan menjadi kawasan pedestrian tematik dengan replika ikon dunia.

Baca Juga  Gubernur Khofifah Terbitkan Surat Perintah F Bagus Panuntun jadi Plt Wali Kota Madiun

PSC bukan sekadar proyek estetika. Ia menjadi etalase UMKM, ruang berkumpul gratis, dan magnet wisata baru. Maidi berhasil menghadirkan imajinasi global—tanpa harus terbang ke luar negeri.

Mimpi Kota Madiun Hidup 24 Jam

Masuk periode kedua (2025–2030), Maidi menaikkan target. PSC diproyeksikan menyerupai Times Square versi Madiun. Videotron raksasa, termasuk layar 3D berbentuk kubus, dipasang. Wahana wisata listrik dan atraksi interaktif ditambahkan. Tujuannya satu: menghidupkan ekonomi malam dan memperpanjang denyut kota hingga larut.

Bagi pendukungnya, ini bukti keberanian bermimpi. Bagi pengkritik, ambisi itu dinilai mahal dan berisiko. Namun tak ada yang menyangkal: wajah pusat kota Madiun berubah drastis dalam lima tahun kepemimpinan Maidi.

Kiprah Maidi juga ditopang citra akademik. Dua gelar sarjana, dua magister, hingga doktor diraihnya di sela jabatan. Bagi Maidi, pendidikan adalah legitimasi moral birokrasi. Ia kerap menyebut kebijakan publik harus berbasis ilmu, bukan sekadar intuisi politik.

Citra inilah yang membuat namanya lama identik dengan wali kota pekerja, bukan politisi panggung.

Warisan Maidi yang Diperdebatkan

Kini, kiprah itu berada di persimpangan sejarah. Di satu sisi, Maidi dikenang sebagai arsitek transformasi ruang publik Madiun—mengubah kota transit menjadi tujuan. Di sisi lain, proyek-proyek besar yang menjadi mahkotanya ikut disorot dalam pusaran hukum.

Baca Juga  Gubernur Khofifah Terbitkan Surat Perintah F Bagus Panuntun jadi Plt Wali Kota Madiun

Sejarah kerap kejam pada tokoh pembangunan: warisan fisik mudah dilihat, warisan etika jauh lebih sulit diukur. Apakah Maidi akan dikenang sebagai pembaru kota kecil dengan mimpi besar, atau sebagai bagian dari daftar panjang kepala daerah yang tersandung kasus hukum—waktu yang akan menjawab.

Yang pasti, kiprah Maidi telah meninggalkan jejak permanen di lanskap Madiun. Jalan, taman, dan cahaya kota itu akan tetap ada, bahkan ketika narasi tentang kiprahnya terus diperdebatkan.***