Revitalisasi Sekolah di Jember Serap 5 Ribu Pekerja, Gerakkan Ekonomi Lokal

Sekolah

MAKLUMAT – Revitalisasi sekolah di Kabupaten Jember tidak hanya memperbaiki sarana pendidikan. Program dengan nilai anggaran Rp 187,38 miliar itu juga menyerap sekitar 5.160 tenaga kerja serta menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi pembangunan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Hafid Nurul Yasin mengatakan, revitalisasi tahun ini mencakup 258 sekolah. Terdiri atas 121 sekolah negeri dan 137 sekolah swasta.

“Dengan adanya revitalisasi yang anggarannya begitu besar masuk ke Kabupaten Jember, ini jelas memacu perputaran ekonomi yang ada di Kabupaten Jember,” kata Hafid.

Menurut Hafid, manfaat ekonomi program tersebut dirasakan oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam pembangunan. Mulai tukang, asisten tukang, hingga pelaku usaha penyedia bahan bangunan.

“Warga Jember yang berprofesi sebagai tukang, kemudian penjual bahan bangunan, kuli-kuli bangunan, ini mendapatkan berkah pekerjaan, mendapatkan orderan untuk proses pembangunan revitalisasi lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Jember,” ujarnya.

Hafid memperkirakan sekitar 2.000 tukang dan 3.160 asisten tukang terlibat dalam pengerjaan revitalisasi. Dengan demikian, terdapat sekitar 5.160 tenaga kerja yang terserap dalam proyek tersebut.

“Dengan adanya program revitalisasi sekolah, perputaran uang untuk tukang dan asisten diperkirakan Rp 452,8 juta. Belum lagi perputaran pembelian bahan dan lain-lain,” jelas Hafid.

Baca Juga  Geerrr! Candaan Rektor UTM di Hadapan Abdul Mu'ti: Universitas Titipan Muhammadiyah

Nilai tersebut belum memasukkan transaksi pembelian material bangunan, kebutuhan transportasi, serta berbagai belanja lain yang muncul selama proses pembangunan.

Gambaran penyerapan tenaga kerja itu terlihat pada proyek revitalisasi SDN Jenggawah 4 di Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah. Proyek dengan nilai anggaran lebih dari Rp 1 miliar tersebut melibatkan sekitar 25 pekerja.

Kepala tukang proyek, Susiyanto, mengatakan bahwa pekerja yang terlibat terdiri atas 10 tukang dan 15 asisten tukang. Sebagian di antaranya berasal dari lingkungan sekitar sekolah.

“Jumlahnya kurang lebih 25 orang. Tukangnya 10, pembantunya 15,” ujar Susiyanto, Selasa (22/9/2026).

Para tukang mendapatkan upah sekitar Rp 100.000 per hari. Asisten tukang memperoleh upah sekitar Rp 80.000-Rp 85.000 per hari.

Menurut Susiyanto, keterlibatan warga sekitar membuat manfaat program dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Warga memperoleh pekerjaan tanpa harus meninggalkan daerah tempat tinggal mereka.

“Alhamdulillah cukup membantu. Ada orang-orang sekitar sini juga yang kerja,” katanya.

Ia mengapresiasi adanya proyek revitalisasi sekolah karena memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat sekitar. “Terima kasih kepada Gus Bupati. Dengan adanya pekerjaan ini, kami tidak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan,” ujarnya.

Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu bagian dari dampak ekonomi program revitalisasi. Ketika pekerja menerima upah, pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga  Resmikan MBC dan 13 Program Unggulan PCM Krembangan, Abdul Mu'ti: Ini Tanda Tangan Peresmian Terbanyak

Pada saat yang sama, pembangunan sekolah membutuhkan material seperti semen, pasir, batu, besi, kayu, serta berbagai kebutuhan konstruksi lainnya. Kebutuhan tersebut menciptakan aktivitas bagi pemasok dan toko material.

Aktivitas pembangunan juga membutuhkan jasa angkutan untuk mendistribusikan material ke lokasi proyek. Di sekitar lokasi pekerjaan, aktivitas para pekerja dapat turut meningkatkan permintaan terhadap makanan dan kebutuhan harian lainnya. Dengan demikian, perputaran ekonomi tidak hanya terjadi pada tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proyek, tetapi juga dapat menjalar ke berbagai usaha yang berada dalam rantai pasok pembangunan.

Program revitalisasi tersebut mencakup 258 sekolah dengan total anggaran Rp 187,38 miliar. Skala program membuat aktivitas pembangunan berlangsung di banyak lokasi dan melibatkan tenaga kerja serta kebutuhan barang dan jasa dalam jumlah besar.

Temuan mengenai dampak ekonomi revitalisasi sekolah juga sejalan dengan kajian Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada Januari 2026. Kajian LP3ES menunjukkan bahwa program revitalisasi sekolah berdampak terhadap ekonomi lokal. Antara lain terlihat pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat provinsi.

Kajian tersebut menempatkan revitalisasi sekolah bukan hanya sebagai belanja untuk meningkatkan kualitas sarana pendidikan, tetapi juga sebagai aktivitas ekonomi yang melibatkan berbagai sektor. Rantai aktivitas itu mencakup perencanaan, pengadaan bahan bangunan, perekrutan tenaga kerja, distribusi logistik, hingga konsumsi pekerja.

Baca Juga  Program LARIS Mahasiswa KKN Umsida, Bekali Ibu-ibu Aisyiyah Keterampilan Usaha Kreatif

Dalam konteks Jember, penyerapan sekitar 5.160 tenaga kerja menunjukkan salah satu bentuk langsung dari efek tersebut. Selain pendapatan yang diterima pekerja, kebutuhan pembangunan juga membuka ruang bagi toko bangunan, pemasok material, jasa konstruksi skala kecil, jasa angkutan, serta usaha pendukung lainnya.

Dengan demikian, manfaat ekonomi dari revitalisasi sekolah tidak hanya dapat dilihat dari bangunan yang selesai dikerjakan. Sebagian anggaran pembangunan juga bergerak melalui tenaga kerja dan rantai usaha yang menopang kegiatan konstruksi di tingkat lokal. (*)