The Power of Silaturahim

Mendikdasmen RI Prof Dr Abdul Mu'ti MEd. (Ilustrasi diolah menggunakan SORA)

MAKLUMAT — Judul tulisan ini dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai dahsyatnya silaturahim, atau betapa hebatnya silaturahim. Menurut M Quraish Shihab dalam Wawasan Islam (1996), silaturahim dalam bahasa Arab berasal dari dua kata: silah dan rahim. Silah artinya menyambung tali yang putus atau mengurai benang yang kusut. Rahim (jamak: arham) yang bermakna kandungan, kantong peranakan, tempat janin dalam perut. Janin di dalam rahim adalah buah kasih sayang suami istri, tempat di mana sang ibu mencurahkan semua kasih sayang dengan penuh ketulusan. Silaturahim berarti menyambung tali kasih sayang yang terputus atau memperbaiki hubungan yang rusak dengan kasih sayang yang tulus.

Al-Qur’an mengaitkan silaturahim dengan asal kejadian manusia dan takwa (QS An-Nisa [4]:1). Manusia berasal dari keturunan yang sama, Adam dan Hawa. Sudah seharusnya manusia hidup rukun sebagaimana saudara. Silaturahim adalah wujud ketakwaan manusia kepada Tuhan.

Secara normatif, the power of silaturahim dapat dipahami dari hadis Nabi SAW. “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezeki dan panjang umur, hendaklah ia menyambung kasih sayang.” (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Rezeki yang lapang berarti luas, berlimpah, dan berkah, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan sejahtera. Dipanjangkan umur berarti usia yang panjang, berkah, dan dikenang dengan segala kebaikan, legasi setelah mati.

Baca Juga  Gaungkan Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan, PWM Jatim Gelar Kajian Ramadan 1447 Hijriah di Jember Akhir Pekan Ini

Silaturahim membuat manusia hidup bahagia. Mereka yang hidup bahagia memiliki tingkat harapan hidup yang tinggi. Susan Pinker dalam buku The Village Effect: How Face to Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter (2014) menjelaskan bagaimana orang-orang yang memiliki intensitas pertemuan dan pertemanan, hidupnya lebih panjang daripada mereka yang hidup menyendiri. Pertemuan yang hangat dengan sahabat memberikan energi, inspirasi, dan motivasi berbagai kebaikan.

Dalam relasi antarmanusia, silaturahim bisa dimaknai sebagai islah, memperbaiki hubungan yang rusak. Dapat pula dimaknai memelihara kekerabatan, persahabatan, kolaborasi, dan sejenisnya.

Dalam konteks politik, silaturahim dapat dimaknai sebagai bentuk rekonsiliasi. Demi mengakhiri konflik rasial akibat politik apartheid di Afrika Selatan, Nelson Mandela memilih langkah rekonsiliasi untuk merajut persatuan. Dengan kebijakan healing the past, facing the future, Mandela memilih jalan damai, silaturahim, dengan tidak menghukum lawan politik dan aktor apartheid. Di bawah kepemimpinan Mandela, Afrika Selatan bersatu, tidak ada lagi konflik rasial. Itulah contoh the power of silaturahim.

Agar silaturahim terbina dengan baik, Islam mengajarkan lima prinsip. Pertama, mencintai sesama manusia seperti mencintai diri sendiri. Kedua, berprasangka baik kepada orang lain, menghindari buruk sangka. Ketiga, jangan merasa superior: lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat. Keempat, memaafkan kesalahan, menghindari iri, dengki, dan dendam. Kelima, melihat ke masa depan berbekal pengalaman di masa lalu.

Baca Juga  Memaknai Idulfitri Secara Hakiki

Silaturahim adalah formula dan kekuatan (power) untuk membangun pribadi yang kuat, persatuan yang kokoh, dan kerja sama yang solid untuk meraih kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan hidup bersama.

_______________________

*) Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di Media Indonesia dengan judul yang sama pada tanggal 18 Maret 2026