MAKLUMAT — Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) membantah laporan yang menyebut Abu Dhabi siap bergabung dalam perang melawan Iran demi membuka kembali Selat Hormuz. Seperti dilaporkan Middle East Monitor, mereka menegaskan posisi mereka tetap defensif dan tidak mencerminkan narasi eskalasi konflik.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri UEA, dikutip Jumat (2/4/2026), disebutkan bahwa laporan terbaru yang beredar bersifat menyesatkan dan tidak menggambarkan kebijakan sebenarnya.
UEA menegaskan sikapnya tetap berfokus pada perlindungan kedaulatan, keselamatan warga, serta infrastruktur nasional. Meski demikian, negara tersebut tetap membuka ruang untuk membela diri dari apa yang disebut sebagai serangan ilegal dan tanpa provokasi.
Respons atas Laporan Media Barat
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap laporan The Wall Street Journal yang mengklaim UEA “bersedia ikut bertempur” untuk membuka jalur strategis Selat Hormuz dengan kekuatan militer.
Abu Dhabi menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital ekonomi global yang harus dijaga kebebasan navigasinya. Namun, UEA tidak menyatakan dukungan terhadap keterlibatan langsung dalam konflik, melainkan hanya kesiapan mendukung upaya internasional menjaga keamanan maritim sesuai hukum internasional.
Arab Teluk Tak Ingin Eskalasi
Bantahan UEA sekaligus mematahkan narasi bahwa negara-negara Arab Teluk mendorong Donald Trump dan Israel untuk memperluas konflik.
Laporan Financial Times menyebut Arab Saudi justru semakin frustrasi terhadap kebijakan Trump yang dinilai tidak konsisten, termasuk ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran serta pernyataan kontroversial soal pembiayaan perang oleh negara Teluk.
Riyadh juga dilaporkan menyalahkan pemerintahan Benjamin Netanyahu atas pecahnya konflik, sekaligus khawatir menghadapi dampak dari Iran yang semakin militeristik.
Fokus Redam Konflik
Alih-alih mendukung eskalasi, negara-negara Teluk kini dinilai lebih cenderung menahan konflik agar tidak meluas. Sikap UEA dan kegelisahan Arab Saudi menunjukkan bahwa kekuatan Arab di kawasan lebih memilih stabilitas dibanding keterlibatan langsung dalam perang.
Situasi ini menegaskan jurang antara persepsi global dan realitas politik kawasan, di mana negara-negara Teluk justru berupaya menghindari konflik yang tidak mereka kehendaki.***













