MAKLUMAT – Vozinha berdiri di bawah mistar gawangnya. Saat peluit panjang berbunyi di Atlanta Stadium, Georgia, Amerika Serikat (AS), Senin (15/6), para pemain Tanjung Verde berhamburan ke lapangan seperti baru memenangi final. Padahal, skor di papan hanya menunjukkan angka 0-0. Namun, bagi negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat itu, hasil imbang melawan raksasa dunia Spanyol terasa seperti kemenangan.
Di tengah selebrasi tersebut, satu sosok menjadi pusat perhatian. Ia berdiri di depan gawang dengan mata sembab dan air mata yang tak bisa dibendung. Namanya Vozinha.
Kiper gaek berusia 40 tahun itu baru saja menjalani malam yang akan dikenang sepanjang hidupnya. Bukan hanya karena membantu Tanjung Verde mencatat poin pertama dalam debut Piala Dunia, melainkan karena ia menjadi tembok yang membuat salah satu tim terbaik dunia frustrasi selama 90 menit.
Netizen di berbagai belahan dunia bahkan memberinya julukan unik: kiper “Shaolin Soccer” versi nyata.
Julukan itu tidak muncul tanpa alasan.
Sepanjang pertandingan pembuka Grup H Piala Dunia 2026, Spanyol dengan pemain bintangnya tampil dominan. La Roja menguasai bola, menekan sejak menit awal, dan menciptakan peluang demi peluang. Namun, setiap tembakan yang mengarah ke gawang selalu berakhir di tangan atau tubuh Vozinha.
Total tujuh penyelamatan dibukukannya. Seluruhnya krusial.
Momen terbaik hadir menjelang turun minum. Ferran Torres melepaskan tembakan keras dari jarak dekat yang seharusnya berbuah gol. Dalam sepersekian detik, Vozinha menjatuhkan tubuhnya dan menepis bola. Belum sempat Spanyol menghela napas, Aymeric Laporte menyambar bola muntah dengan sundulan tajam. Lagi-lagi Vozinha muncul sebagai penyelamat.
View this post on Instagram
Atlanta Stadium bergemuruh. Para pendukung Spanyol tidak percaya. Begitu pula para pemainnya.
Seiring berjalannya waktu, rasa frustrasi mulai terlihat di wajah para penyerang La Roja. Setiap peluang matang yang mereka ciptakan selalu kandas di tangan pria yang bermain untuk klub divisi kedua Portugal, GD Chaves, tersebut.
Banyak warganet menyebut aksi-aksinya seperti adegan film. Ada yang mengatakan ia mengaktifkan “mode anime”. Ada pula yang membandingkannya dengan karakter kiper sakti dalam film komedi legendaris Shaolin Soccer.
Perbandingan itu terasa masuk akal.
Di usia yang sudah menginjak 40 tahun, Vozinha masih memperlihatkan refleks luar biasa. Ia melompat, menepis, dan bereaksi cepat terhadap bola-bola yang datang dari berbagai arah. Gerakannya seolah menentang logika usia.
Menurut catatan Opta, pada usia 40 tahun 12 hari, Vozinha menjadi kiper tertua ketiga yang mampu mencatat clean sheet di ajang Piala Dunia. Ia hanya kalah dari dua legenda dunia, Peter Shilton (Inggris) dan Dino Zoff (Italia).
Meski demikian, ia masih berada di bawah rekor Pat Jennings yang pernah mencatat sepuluh penyelamatan dalam satu pertandingan Piala Dunia saat berusia 41 tahun pada edisi 1986.
Namun, statistik hanyalah sebagian kecil dari kisah besar yang dibawanya.
Nama lengkapnya adalah Josimar José Évora Dias. Nama “Josimar” diberikan sebagai penghormatan kepada bek kanan legendaris Brasil yang bersinar pada Piala Dunia 1986. Sementara julukan “Vozinha” dalam bahasa Portugis berarti “nenek kecil”, sebuah panggilan masa kecil karena ia tumbuh besar bersama kakek dan neneknya. TVRI Sport pemegang hak siar Piala Dunia 2026 di Indonesia memilihnya sebagai Player of The Match Spanyol vs Tanjung Verde.
Kariernya jauh dari gemerlap.
Ia tidak bermain untuk klub elite Eropa. Tidak pernah menjadi bintang utama liga besar. Namun, sejak debut bersama tim nasional pada 2012, Vozinha menjelma menjadi salah satu pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah sepak bola Tanjung Verde.
Kini, ketika banyak pemain seusianya sudah pensiun atau mulai kehilangan tempat, ia justru tampil di panggung terbesar dunia.
Ketangguhan Vozinha sebenarnya bukan kejutan bagi mereka yang mengikuti perjalanan Tanjung Verde. Tim berjuluk Hiu Biru itu memang dibangun dengan fondasi pertahanan yang disiplin. Dalam sepuluh pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka mencatat tujuh clean sheet.
Laga melawan Spanyol menjadi bukti bahwa catatan tersebut bukan kebetulan.
Meski terus digempur tim peringkat kedua dunia FIFA, organisasi pertahanan Tanjung Verde tetap solid. Dan ketika tembok pertahanan itu akhirnya ditembus, selalu ada Vozinha sebagai penjaga terakhir.
Malam itu menjadi semakin emosional setelah pertandingan berakhir.
Di tengah sorotan kamera dan pujian dari seluruh dunia, Vozinha tak mampu menahan tangis. Impian yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya terwujud: tampil di Piala Dunia dan menjadi pahlawan bagi negaranya.
Namun, di balik kebahagiaan tersebut, ada kesedihan yang ikut menyertainya. Sang ibu tidak bisa hadir langsung di stadion untuk menyaksikan momen bersejarah itu.
Air mata yang jatuh di Atlanta menjadi simbol perjalanan panjang seorang pesepak bola yang tidak pernah berhenti bermimpi.
Dari negara kecil yang tidak diperhitungkan, dari klub kasta kedua Portugal, hingga berdiri tegak menghadang Spanyol di panggung terbesar sepak bola dunia.
Malam itu, dunia mengenal nama Vozinha.
Dan bagi jutaan penonton yang menyaksikannya, ia bukan sekadar penjaga gawang. Ia adalah tembok hidup yang membuat Spanyol, juara Piala Dunia 2010, kehabisan akal.***














