MAKLUMAT – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera Barat (Sumbar), Aceh dan Sumatera Utara, memasuki masa kritis. Di tengah laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengklaim perbaikan dan pengiriman bantuan logistik, suara pilu dari korban di lapangan menyebutkan kondisi berbanding terbalik: bantuan tak kunjung datang dan mereka kelaparan.
Bantuan tak kunjung datang
mereka kelaparan 😭 https://t.co/mlvNMsc1rY pic.twitter.com/IZ7jOQZpHd— ꦩꦸꦂꦠꦝ (@MurtadhaOne1) November 29, 2025
Kekesalan warga terdampak ini viral di media sosial. Akun X @MurtadhaOne1 secara gamblang menyoroti kesenjangan antara data dan realita. “Bantuan tak kunjung datang mereka kelaparan,” tulis akun tersebut, mengutip keluhan dari lokasi bencana. Bahkan, dalam unggahan selanjutnya ia mempertanyakan klaim perbaikan situasi oleh pemerintah. “Siapa bilang membaik @BNPB_Indonesia? Laporan BNPB (vs) Di lapangan,” sindirnya. Belum diketahui pasti lokasi penjarahan minimarket tersebut. Tapi dari video puluhan warga mengambil sejumlah barang dari dalam minimarket. Tampak pula rak-rak minimarket dalam kondisi kosong, diduga karena barangnya diambil oleh warga.
Akses Terputus, Bantuan Terhambat
Kondisi ini diperparah dengan rusaknya infrastruktur utama. Seorang warga bernama Supriadi Purba melalui akunnya @k_tuaethnic, merespons unggahan tersebut dengan menjelaskan betapa sulitnya akses ke lokasi bencana. “Akses bang, hanya memungkinkan dari jalur udara melalui Bandara Pinang Sori Pandan, Tapteng. Sementara jarak Kota Medan ke lokasi ratusan KM, berharap pd tetangga Taput, juga kena, Tapsel juga kena, Humbahas juga kena, Aceh apalagi. Makanya status bencana harus dinaikkan.”
Pernyataan ini menguatkan dugaan bahwa daerah-daerah yang terisolasi mengalami keterlambatan parah dalam menerima bantuan, berpotensi memicu tindakan nekat demi bertahan hidup, termasuk dugaan penjarahan minimarket seperti yang tersirat dalam judul viral tersebut.
BNPB Klaim Distribusi Maksimal Lewat Udara dan Laut
Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., memastikan upaya distribusi logistik terus dimaksimalkan melalui berbagai jalur.
-
Jalur Udara: BNPB telah mengerahkan helikopter dari Bandara Kualanamu, Medan, dan pesawat Cessna Caravan PK-SNG dari Banda Aceh. Bantuan difokuskan ke wilayah sulit dijangkau seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Contoh Bantuan: Sembako, makanan siap saji, Indomie, Eprokal, Naraga, serta peralatan vital seperti Genset dan Starlink.
-
Jalur Laut: Untuk wilayah yang jalur daratnya terputus, seperti Lhokseumawe, Langsa, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, pengiriman direncanakan menggunakan kapal express bahari.
-
Jalur Darat: Bantuan sudah diberangkatkan sejak kemarin (28/11) ke lokasi yang lebih mudah diakses, seperti Pidie Jaya, Pidie, Bireun, Aceh Besar dan Aceh Barat, membawa paket sembako, hygiene kit, kasur lipat, dan matras.
“Hingga berita ini diturunkan, proses distribusi bantuan logistik dan peralatan masih terus dilakukan dari berbagai cara mulai dari jalur darat, laut dan udara,” tegas Abdul Muhari dikutip dari keterangan tertulis.
Namun, terlepas dari data pengiriman yang dirilis BNPB, suara dari korban di lapangan tetap menjadi sorotan, mengindikasikan bahwa volume dan kecepatan bantuan belum mampu menandingi parahnya isolasi dan kebutuhan mendesak para penyintas di tengah bencana besar Sumatera.
Ironi ini memunculkan pertanyaan besar: Sejauh mana koordinasi distribusi di lapangan berjalan efektif? Jika video penjarahan minimarket benar adanya, maka status darurat harus segera ditingkatkan untuk membuka akses bantuan yang lebih masif, dan cepat demi mencegah korban jatuh lebih banyak karena kelaparan.***