No Comment Soal Indonesia Gabung Board of Peace, SBY Puji Hasil WEF Davos: Banyak Good News

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (24/1/2026). (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi hasil World Economic Forum (WEF) 2026 yang berlangsung di Davos, Swiss, yang menurutnya banyak menghasilkan kabar baik dan menggembirakan bagi dunia.

Sekadar diketahui, WEF 2026 di Davos dilangsungkan pada 19-23 Januari 2026 lalu, di mana Presiden RI Prabowo Subianto berpartisipasi langsung dan menyampaikan pidato.

“Saya pikir banyak good news ya. Paling tidak memberikan harapan bahwa dunia kita mudah-mudahan tidak menuju ke arah yang membahayakan,” ujar SBY dikutip dari tayangan video di kanal YouTube pribadinya, Sabtu (24/1/2026).

SBY mengaku khawatir dengan situasi dunia saat ini, yang menurutnya semakin rawan konflik dan krisis. Hal itu juga telah ia sampaikan melalui unggahan di akun X pribadinya beberapa hari lalu. “Minggu ini kan saya melepas dua tweet (sekarang X), yang intinya, perkembangan dunia sekarang ini menurut saya memiliki kerawanan, bahkan membahayakan kalau tidak ada upaya bersama untuk mencegah mungkin terjadinya krisis di dunia kita, atau bahkan peperangan,” ungkapnya.

“Bagus kalau (para pemimpin negara bertemu di Davos), masing-masing menyampaikan pikirannya, komitmen moralnya, bagaimana caranya agar dunia kita ini kita jaga keselamatannya, intinya di situ,” lanjut SBY.

Trump Melunak Soal Greenland?

SBY menilai, hasil forum di Davos memberikan harapan dan banyak kabar baik, terutama berkaitan dengan upaya deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terkait Greenland.

“Terjadi deeskalasi lah begitu, Presiden (Donald) Trump melunak, dan ini membuka jalan sebetulnya bagaimana urusan Greenland itu bisa dibicarakan baik-baik antara Amerika Serikat dan Eropa, tentunya termasuk Denmark dan penduduk Greenland sendiri. Artinya terbuka jalan itu, kalau tidak tertutup dan mungkin sesuatu yang buruk bisa terjadi,” katanya.

Baca Juga  ​Kawal May Day, Prabowo Bakal Gabung Buruh di Monas

Menurut pria yang menjabat Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu, perubahan sikap Trump terkait Greenland ditengarai karena keteguhan sikap para pemimpin negara-negara Eropa yang tegas menyatakan penolakan terhadap rencana AS merebut Greenland.

“Ini dugaan saya, saya bisa salah, karena para pemimpin Eropa cukup boleh dikatakan tough, firm statement-nya untuk menolak pengambilalihan Greenland secara paksa, juga pemimpin dunia yang lain. Mungkin ini berpengaruh pada pengambilan keputusan dari Amerika Serikat sendiri, tapi pendek kata ini bagus,” sebutnya.

Penyelesaian Konflik Rusia-Ukraina?

Kabar baik lainnya dari Davos, menurut SBY, adalah mulai adanya pertanda dan upaya untuk penyelesaian konflik Rusia dan Ukraina, melalui fasilitasi AS.

“Sepertinya akan terjadi pertemuan segitiga, yang sebelum (forum Davos) ini sulit sekali, mudah-mudahan ini juga memberikan harapan baru untuk pengakhiran perang di Ukraina yang semua berharap segera berakhir,” katanya.

Perang Tarif Trump?

Selain itu, SBY juga menyoroti perang tarif yang belakangan menimbulkan ketidakpastian dan gejolak perekonomian serta perdagangan global. Hasil pertemuan di Davos, kata dia, berdampak positif dalam penyelesaian masalah tarif tersebut.

“Tadinya kan ada gelombang perang tarif baru yang dijatuhkan oleh Presiden Trump. Kalau ini terjadi, bisa dibayangkan nanti ada instabilitas baru, ada persoalan baru dalam perdagangan dunia dan ekonomi dunia,”

Baca Juga  Rp300 Triliun Menguap, Negara Sita Aset Tambang Timah Ilegal Rp7 Triliun

“Dengan dibatalkannya ancaman tarif itu tentu melegakan, sehingga apapun di situ bisa diselesaikan secara damai,” tambah Jenderal (Purnawirawan) yang pernah ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor Timur itu.

Pujian Atas Partisipasi Prabowo di Davos

Lebih lanjut, SBY juga menyampaikan pujian kepada Presiden Prabowo Subianto atas partisipasinya dalam WEF 2026 di Davos, Swiss. Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyampaikan pidato yang memaparkan sejumlah program, kebijakan, serta komitmen pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinannya.

“Saya harus memberikan pujian kepada Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, karena berkenan untuk hadir dan berpartisipasi dalam pertemuan di Davos,” ucap SBY.

Menurutnya, saat ini merupakan saat yang cukup kritis, yang untuk mengatasinya diperlukan kebersamaan, termasuk bersama-sama berpikir dan mencari solusi untuk kebaikan peradaban dunia ke depan.

“Ini saat yang kritis, katakanlah. Saat yang memerlukan kebersamaan, termasuk pemikiran bersama dari para pemimpin dunia, Presiden, Perdana Menteri, dan lain-lain. Nah kalau Presiden kita hadir, tentu terlibat untuk mencari solusi dan memikirkan sesuatu untuk kebaikan dunia kita,” tandasnya.

Presiden yang menjabat pada periode 2004-2009 dan 2009-2014 itu juga mengingatkan bahwa Indonesia sejak awal kemerdekaan di bawah kepemimpin Presiden Soekarno telah berkontribusi aktif dalam berbagai perhelatan dan forum dunia, yang menurutnya hal tersebut harus terus dilanjutkan, dan Prabowo telah melakukannya.

Baca Juga  SBY Minta Para Elite Politik Bisa Menahan Diri dan Tidak Saling Fitnah

“Jadi melegakan Presiden kita hadir dan mengambil bagian dalam perhelatan (WEF 2026) di Davos tersebut,” seloroh SBY.

“Mudah-mudahan ini menjadi semacam game change, untuk menjaga hal yang buruk (agar tidak) terjadi di dunia. Meskipun kita tunggu implementasinya. Kita tunggu realisasinya. Karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dirampungkan dengan sebutlah komitmen di Davos kemarin,” tambahnya.

No Comment Soal Indonesia Gabung Board of Peace

Lebih jauh, terkait bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace alias Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump, SBY enggan berkomentar secara mendalam.

“Kalau urusan Board of Peace yang sekarang banyak dibicarakan di tanah air maupun di luar negeri sendiri, saya belum bisa memberikan komentar, karena terlalu dini,” sebutnya.

Meski demikian, ia meyakini bahwa keputusan dan langkah yang diambil oleh Presiden Prabowo untuk bergabung dalam Board of Peace telah melalui pertimbangan yang matang.

Menurutnya, dalam waktu dekat pemerintah bakal segera menyampaikan keterangan secara resmi terkait pertimbangan ataupun alasan-alasan untuk bergabung ke dalam forum yang disebut-sebut sebagai upaya untuk memproyeksikan gencatan senjata permanen dan rekonstruksi Gaza itu.

“Kalau Indonesia bergabung dalam Board of Peace itu, tentu Presiden kita, Pak Prabowo, sudah mempertimbangkan dengan seksama. Mengapanya? Why? Reason-nya apa bagi Indonesia? Nanti pasti Menteri Luar Negeri atau beliau sendiri akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia sekembali dari kehadiran Pak Prabowo di Davos,” pungkas SBY.