Defia Putri Mahardika, Taiwan, dan Cara Belajar yang Berbeda

Defia Putri

MAKLUMATDefia Putri Mahardika, mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), menjadi delegasi Indonesia dalam New Southbound Policy Elite Study Program di Taiwan. Program ini berlangsung selama lima bulan, sejak September 2025 hingga Januari 2026.

Program tersebut menargetkan penguatan kapasitas akademik, pengembangan bahasa Mandarin, serta pemahaman lintas budaya bagi peserta dari berbagai negara mitra. Pemerintah Taiwan mendanai penuh seluruh rangkaian kegiatan.

“Taiwan memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik, khususnya di bidang sains, teknologi, perikanan, dan kelautan. Gaya belajarnya menekankan diskusi aktif dan pendekatan student centered,” ujar Defia Putri Mahardika, mahasiswa THP FPK UNAIR, dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Ia menambahkan, Taiwan juga aktif mendorong kerja sama internasional melalui kebijakan New Southbound Policy. Menurutnya, program ini membuka ruang kolaborasi lintas negara yang luas dan setara.

Pembukaan Program di MOFA Taipei

Pelaksanaan program diawali dengan opening ceremony di Ministry of Foreign Affairs (MOFA) Taipei. Defia menyebut momen tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya.

“Momen ini sangat berkesan karena saya bisa mewakili universitas dan Indonesia dalam forum internasional,” katanya.

Baca Juga  Perang Dagang dan Sentimen Domestik Bayangi Pasar

Selama persiapan keberangkatan, FPK UNAIR memberikan pendampingan administratif, penyampaian informasi program, hingga penerbitan surat rekomendasi akademik. Dukungan tersebut memastikan peserta dapat mengikuti program tanpa kendala administratif.

“Program ini fully funded oleh pemerintah Taiwan, sehingga peserta dapat fokus pada pembelajaran,” ujar Defia.

Riset Snack Gluten-Free di NPUST

Di sela agenda utama, Defia juga mengikuti penelitian individu di National Pingtung University of Science and Technology (NPUST). Penelitian berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026.

Ia mengangkat topik pengembangan snack puff berbahan dasar brown rice dengan substitusi Eucheuma cottonii. Penelitian tersebut menargetkan produk snack puff bebas gluten dengan nilai tambah gizi.

“Penggunaan Eucheuma cottonii pada snack puff gluten-free belum pernah diterapkan sebelumnya,” kata Defia.

Luaran penelitian mencakup produk snack puff gluten-free serta data karakteristik fisik dan kimia, termasuk tekstur, tingkat pengembangan, dan kandungan proksimat. Hasil riset direncanakan dituangkan dalam laporan ilmiah dan berpotensi menjadi artikel ilmiah.

Defia mengakui tantangan utama selama program adalah manajemen waktu. Padatnya agenda internasional menuntut kedisiplinan tinggi, terutama karena ia menjadi satu-satunya mahasiswa FPK UNAIR di NPUST.

“Namun kolaborasi dengan mahasiswa dari tujuh negara memberi pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.

Baca Juga  Tapak Suci Menempa, Kampus Airlangga Mengukuhkan: Prof Ratna Resmi Jabat Dekan FKM UNAIR

Ia berharap pengalaman akademik dan riset internasional ini dapat berkontribusi pada pengembangan keilmuan di bidang pangan dan perikanan.***