Pola Pikir Diaspora Harus Pulang Justru Hambat Daya Saing Riset Indonesia

MAKLUMAT — Influencer dan ilmuwan di University of Nottingham, Bagus Muljadi menanggapi seruan yang kerap muncul di media sosial agar diaspora kembali ke Tanah Air jika merasa patriotik. Melalui akun X miliknya, ia menilai seruan itu lahir dari cara pandang yang keliru tentang ekosistem riset global.

Menurut Bagus, cara berpikir seperti itu tidak menguntungkan Indonesia. Ia mencontohkan, misalnya pada sedikitnya jumlah akademisi Indonesia yang berhasil meraih posisi permanen di Inggris.

Bagus menyebut bahwa jumlahnya saat ini hanya sekitar 30–40 orang. Dari jumlah itu, hampir tidak ada yang berasal dari jalur beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Dari sekitar hanya 30–40 permanent academics Indonesia di UK, hampir tidak ada yang berasal dari jalur LPDP (in fact, saya pribadi tidak mengenal satupun). Itu adalah angka yang sangat menyedihkan untuk negara sebesar ini,” ujarnya melalui akun X @bagus_muljadi pada Kamis (19/2/2026).

Ia menjelaskan, untuk memperoleh posisi permanen di universitas Inggris, terutama di kampus-kampus kelompok Russell Group, seorang akademisi harus memiliki portofolio postdoctoral yang sangat kuat. Persaingan berlangsung ketat dan tidak memberi ruang bagi jeda panjang setelah lulus doktor.

Baca Juga  Anggaran Beasiswa Tak Terkena Efisiensi, Menkeu Sri Mulyani Pastikan KIP Kuliah Aman

Bagus menegaskan, jika seorang lulusan PhD berhenti meneliti selama dua hingga tiga tahun, ia akan langsung tersisih dari pasar kerja akademik. Sistem di Inggris menuntut konsistensi riset dan publikasi sejak awal karier.

“Jika Anda menghilang selama 2–3 tahun setelah menyelesaikan PhD, Anda akan langsung terpinggirkan dari pasar kerja,” jelasnya.

Ia kemudian membandingkan dengan negara seperti Tiongkok, India, dan Iran yang aktif memanfaatkan diaspora akademiknya. Mereka menjadikan ilmuwan di luar negeri sebagai jembatan hibah internasional, co-supervisor doktoral, pintu kolaborasi laboratorium, hingga penghubung industri dan universitas.

Menurutnya, nilai hibah yang mengalir melalui jaringan itu kerap melampaui investasi beasiswa sekitar Rp 2 miliar per orang. Ia mencontohkan akademisi Indonesia di Inggris yang memperoleh hibah seperti Newton Fund atau International Science Partnerships Fund bersama kolaborator di Indonesia bisa membawa kembali dana dua kali lipat dalam setahun.

“Saya sendiri tidak pernah mendapatkan beasiswa pemerintah manapun. Saya harus bekerja paruh waktu untuk menyelesaikan S2 dan S3. Tapi saya memang merasa sedih melihat bagaimana kita belum mampu mendukung orang-orang kita untuk sukses di luar,” ujarnya.

Ia menilai banyak penerima beasiswa sebenarnya memiliki kapasitas besar. Akan tetapi, sebagian dari mereka tidak mendapatkan kesempatan membangun karier riset yang kompetitif secara internasional. Ia juga menyoroti cara pandang zero-sum yang menganggap keberhasilan seseorang di luar negeri sebagai kerugian bagi negara.

Baca Juga  Soroti Posisi Indonesia yang Masih Tertinggal dalam Inovasi Global, UMY Dorong Ekosistem Riset Inovatif

Bagus juga menambahkan bahwa salah satu cara terbaik untuk menunjukkan patriotisme adalah dengan berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang yang kita tekuni. Menurutnya, ketika individu mendorong batas ilmu pengetahuan, bisnis, seni, atau pelayanan publik, maka ia sedang memperluas kapasitas negara.

“Negara tidak maju karena slogan ‘mengabdi untuk negara’ di bibir tiap warganya. Ia tidak maju karena pengibaran paspor hijau atau deklarasi harga mati di sosmed. Ia maju ketika standar kerja warganya begitu tinggi sehingga dunia tidak punya pilihan selain menghormatinya,” tandasnya.