Ekoteologi Muhammadiyah: Ketika Iman Diuji oleh Krisis Lingkungan

Ekoteologi Islam

MAKLUMAT — Bumi sedang tidak baik-baik saja. Tahun demi tahun suhu global mencatat rekor baru. Banjir bandang makin sering datang tanpa musim jelas. Kebakaran hutan berulang. Krisis air mulai terasa di banyak daerah.

Ekoteologi
Prof. Syafiq A. Mughni

Laporan-laporan internasional bahkan sudah lama mengingatkan: perubahan iklim bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini. Yang jarang disadari, krisis ini bukan hanya persoalan lingkungan. Ini juga persoalan moral. Manusia tahu dampak kerusakan alam. Data tersedia. Teknologi ada. Regulasi dibuat. Namun eksploitasi tetap berjalan. Konsumsi energi terus naik. Sampah menumpuk. Hutan ditebang. Sungai tercemar. Artinya, masalahnya bukan sekadar kurang pengetahuan. Masalahnya ada pada cara manusia memandang bumi.

Di sinilah agama seharusnya hadir. Ekoteologi muncul sebagai pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hubungan produksi semata, tetapi hubungan amanah. Alam bukan sekadar sumber daya. Ia bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki kemuliaan. Merusaknya bukan hanya kesalahan ekologis, tetapi juga pelanggaran spiritual.

Islam sebenarnya sudah memberi rambu jelas. Al-Qur’an berulang kali melarang manusia membuat kerusakan di bumi. Bahkan kerusakan di darat dan laut disebut sebagai akibat langsung dari ulah tangan manusia. Pesan ini tidak ambigu: iman harus tercermin dalam cara memperlakukan lingkungan.

Baca Juga  Anggota DPR Tegaskan Pentingnya Pemberdayaan Peran Perempuan Menuju Indonesia Emas 2045

Masalahnya, pesan itu sering berhenti sebagai kutipan ayat, bukan sebagai gerakan sosial. Muhammadiyah mencoba mendorong agar ajaran itu turun ke level praksis. Melalui Pedoman Hidup Islami, keputusan Majelis Tarjih tentang akhlak lingkungan, hingga panduan konkret seperti sedekah sampah dan fikih agraria. Organisasi ini berupaya mengubah kesalehan ritual menjadi kesalehan ekologis.

Risalah Islam Berkemajuan menempatkan kerusakan lingkungan sebagai ancaman global terhadap peradaban manusia. Daftarnya panjang: banjir, longsor, polusi udara, krisis air, pemanasan global, penurunan keanekaragaman hayati, hingga ancaman pangan. Semua bukan lagi teori, tetapi realitas yang telah dirasakan masyarakat.

Perubahan iklim memperparah situasi. Konsumsi energi fosil, industri tanpa kontrol, serta gaya hidup serba instan telah mendorong kenaikan suhu bumi. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga ekonomi, kesehatan, dan stabilitas sosial.

Pada titik ini, pendekatan moral menjadi penting. Regulasi bisa dilanggar. Teknologi bisa disalahgunakan. Tetapi ketika kesadaran ekologis masuk ke wilayah iman, ia menjadi komitmen batin.

Karena itu, ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana kampus atau seminar. Ia harus menjadi budaya organisasi dan gerakan sosial. Langkah-langkah praktis sudah mulai terlihat. Sekolah hijau, kampus hijau, kader lingkungan, audit lingkungan mandiri, hingga pengembangan energi terbarukan menjadi contoh bahwa gerakan keagamaan bisa berperan langsung dalam mitigasi krisis lingkungan.

Baca Juga  El Nino “Godzilla” Ancam Panen, Komoditas Ini Paling Rentan

Namun pekerjaan terbesar tetap pada perubahan mentalitas. Tanpa perubahan gaya hidup, semua program hanya akan menjadi proyek administratif. Ekoteologi harus masuk ke ruang kelas, khutbah Jumat, pengajian warga, kebijakan amal usaha, bahkan keputusan konsumsi rumah tangga.

Sebab pada akhirnya, krisis lingkungan adalah akumulasi dari jutaan keputusan kecil manusia setiap hari. Agama memiliki modal besar untuk mengubah itu. Jaringan luas. Otoritas moral. Basis massa. Infrastruktur pendidikan. Jika seluruh kekuatan ini diarahkan untuk membangun etika ekologis, dampaknya bisa melampaui kebijakan negara.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah umat siap menjadikan menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar kampanye? Karena sejarah menunjukkan, peradaban tidak runtuh hanya karena kekurangan teknologi. Ia runtuh ketika kehilangan tanggung jawab moral.

Dan hari ini, ukuran paling nyata dari tanggung jawab moral manusia mungkin sederhana: bukan seberapa tinggi bangunan yang ia dirikan, tetapi seberapa lama bumi sebagai tempat berpijak masih bisa dihuni hingga anak cucu kita kelak.

*) Ketua PP Muhammadiyah.