Sejumlah Warganet “Berburu Kepala” Awardee LPDP, Ida Bagus Mandhara Brasika Angkat Bicara

MAKLUMAT — Belakangan ini, sejumlah warganet menyorot para penerima beasiswa (awardee) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dianggap tidak berkontribusi kepada negara. Salah satu nama yang ikut menjadi perhatian ialah ahli matematika iklim dari Universitas Exeter, Ida Bagus Mandhara Brasika.

Melalui akun Instagram pribadinya, Brasika membagikan tangkapan layar komentar warganet yang menyebut dirinya sebagai awardee LPDP yang kini tak lagi lantang mengkritik pemerintah, berbeda dengan sikapnya sebelumnya yang aktif menyuarakan isu kebijakan publik.

“Banyak yang sedang berburu awardee LPDP, mencari-cari kesalahan, terutama yang belum pulang. Saya salah satu yang jadi target buruan. Sebagai salah satu awardee LPDP yang belum pulang dan sering kritik pemerintah. Izin saya ceritakan,” katanya melalui akun Instagram pribadinya @mandharabrasika pada Rabu (25/2/2026).

Dalam unggahan yang berjudul “Berburu Kepala Awardee LPDP” itu, Brasika menjelaskan bahwa dirinya beberapa waktu terakhir memang tidak aktif di media sosial. Ia sedang fokus menyelesaikan studi doktoralnya dan tidak memiliki cukup waktu serta energi untuk mengikuti sejumlah isu penting di ruang digital.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa organisasinya kini sedang mengalami musibah. Sebagai informasi, organisasi yang ia inisiasi bergerak di bidang pengelolaan sampah.

Baca Juga  Investasi Kebangsaan LPDP

“Sekitar sembilan tahun lalu. Setelah saya pulang kuliah S2 dibiayai LPDP, saya buat kegiatan kecil-kecilan. Jadi tukang sampah, itupun hanya di desa-desa. Jangan bandingkan dengan kontribusi awardee LPDP lain, saya tidak ada apa-apanya,” ujarnya.

Musibah tersebut terjadi beberapa minggu lalu. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya menjadi korban penipuan atau phishing yang menguras seluruh uang operasional, termasuk dana donatur yang belum sempat disalurkan.

Ia mengatakan harus memutar otak untuk membayar “hutang” kepada para donatur sambil mempertahankan program organisasi tersebut. Di saat yang sama, ia juga bolak-balik mengurus laporan ke kepolisian, bank, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga tidak sempat mengurus hal lainnya.

“Jika karena ini teman-teman merasa saya adalah awardee LPDP yang layak diburu karena dianggap tidak kontribusi pada Indonesia atau dianggap belum kembali ke Indonesia, saya minta maaf,” jelasnya.

Menurutnya, “perburuan” semacam itu justru berpotensi menyakiti sesama warga. Ia mempertanyakan manfaat dari aksi saling tuding tersebut, terlebih jika sasaran yang dituju keliru. Ia juga mengingatkan bahwa LPDP telah menyediakan kanal resmi untuk melaporkan indikasi pelanggaran.

“Coba kalian bayangkan, para awardee LPDP yang disiapkan untuk membangun negara di masa depan malah diperlakukan layaknya penjahat begini. Apakah mereka jadi bersemangat membangun Indonesia karena diperlakuan begini? Siapa yang rugi?” tandasnya.​

Baca Juga  Komitmen Cetak SDM Unggul, Kemendiktisaintek dan LPDP Anggarkan Beasiswa Rp 2 Triliun