MAKLUMAT — Industri furnitur Indonesia menargetkan peningkatan ekspor hingga USD 6 miliar pada 2030. Target tersebut diyakini dapat tercapai seiring meningkatnya minat pasar global terhadap produk furnitur Indonesia yang dikenal memiliki kekuatan pada material alami, desain, dan nilai budaya.
Optimisme itu disampaikan Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, dalam penutupan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Ahad (8/3/2026).
Menurut Sobur, IFEX kini tidak sekadar pameran dagang tahunan, melainkan telah berkembang menjadi platform global industri furnitur Indonesia yang mempertemukan produsen nasional dengan buyers, desainer, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
“IFEX menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kapasitas produksi, kreativitas desain, serta daya saing industri furnitur yang semakin kuat,” ujar Abdul Sobur. Tahun ini IFEX menempati area sekitar 85.000 meter persegi dengan 11 hall penuh di ICE BSD, menjadikannya salah satu pameran furnitur terbesar di Asia dan yang terbesar di kawasan ASEAN.
Supply Chain Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
Di tengah dinamika geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi perdagangan internasional, HIMKI menilai industri furnitur Indonesia masih memiliki peluang besar untuk terus tumbuh. Pasar utama ekspor furnitur Indonesia saat ini masih didominasi oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, sehingga dampak konflik global tidak dirasakan secara langsung.
Namun pelaku industri tetap mencermati kemungkinan kenaikan biaya logistik dan energi global yang dapat memengaruhi biaya produksi dan distribusi. Dalam kondisi global yang tidak menentu, buyers internasional cenderung mencari negara dengan rantai pasok yang stabil, kapasitas produksi yang konsisten, serta lingkungan bisnis yang aman. “Indonesia memiliki keunggulan tersebut,” kata Sobur.
Stabilitas politik, dukungan sistem legalitas kayu melalui SVLK, serta basis industri yang telah berkembang selama puluhan tahun menjadi faktor penting yang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok furnitur dunia.
Kreativitas dan Nilai Budaya Jadi Kekuatan
HIMKI menilai masa depan industri furnitur nasional tidak hanya bertumpu pada volume produksi, tetapi juga pada kemampuan menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Furnitur Indonesia dikenal memiliki karakter khas karena memadukan: kekayaan material alami seperti kayu, rotan, dan bambu; keahlian kriya yang diwariskan secara turun-temurun; dan desain yang terinspirasi dari keragaman budaya Nusantara
Kombinasi tersebut menjadikan furnitur Indonesia memiliki identitas kuat yang sulit ditiru oleh negara lain. “Keunggulan Indonesia bukan hanya pada produksi, tetapi pada kreativitas desain dan nilai budaya yang melekat pada setiap produk,” ujar Sobur.
IFEX Perkuat Akses Pasar Global
HIMKI menilai IFEX juga memainkan peran penting sebagai jembatan diplomasi perdagangan industri furnitur Indonesia. Melalui pameran ini, produsen furnitur nasional dapat bertemu langsung dengan buyers dari berbagai negara, membangun kerja sama bisnis jangka panjang, serta memperluas akses pasar internasional.
IFEX juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekuatan industri furnitur Indonesia yang berbasis kreativitas, keberlanjutan, dan nilai budaya. Perhelatan IFEX 2026 masih ramai dikunjungi buyers mancanegara dari lebih dari 120 negara.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa industri furnitur Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah dinamika global, tetapi juga terus berkembang dan siap memperkuat posisinya dalam rantai pasok furnitur dunia.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, kemudahan ekspor, serta penguatan bahan baku industri, HIMKI optimistis target ekspor furnitur Indonesia USD 6 miliar pada 2030 dapat tercapai. “IFEX bukan sekadar pameran, tetapi platform global milik Indonesia untuk mempertemukan kreativitas furnitur Nusantara dengan pasar dunia,” kata Abdul Sobur.***












