Haedar Nashir Ajak Umat Jadikan Idulfitri Momentum Berbagi dan Bangun Persaudaraan Melintas Batas

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, menyerukan kepada umat Islam, khususnya warga Persyarikatan, untuk memanfaatkan momentum Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah sebagai sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan membangun persaudaraan yang melintas batas.

Hal tersebut ia sampaikan dalam Refleksi Idulfitri 1447 H yang ditayangkan kanal YouTube Muhammadiyah Channel pada Kamis (19/3/2026). Haedar mengajak agar momentum lebaran tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi untuk terus membangun kepedulian sosial.

Kepedulian sosial, kata dia, harus terus dibangun, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global, termasuk kepada masyarakat di Palestina, Iran, dan berbagai belahan dunia lain yang membutuhkan bantuan.

“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” ujarnya.

Menurut Haedar, nilai-nilai Ramadan yang perlu dijaga hingga pasca-Ramadan salah satunya adalah kemampuan menahan amarah. Ia mengingatkan bahwa meski marah adalah hal manusiawi, sikap berlebihan dalam kemarahan harus dihindari.

Selain itu, sosok Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu juga menekankan pentingnya memberi maaf dan memiliki kelapangan hati. Ia mengajak umat Islam untuk saling memaafkan, sekaligus berjiwa besar untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Baca Juga  Haedar Nashir: Kader IPM adalah Inti Persyarikatan, Harus Punya Kualitas Lebih

“Di bulan Syawal ketika kaum muslimin memulai satu Syawal sebagai hari pertama beridulfitri dan sekaligus memulai hari baru, maka kebiasaan yang sangat baik adalah berislaturahmi,” katanya.

Silaturahmi, lanjutnya, menjadi ruang untuk memperbaiki kualitas hubungan kemanusiaan, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, hingga antarbangsa. Ia menilai, rusaknya hubungan kemanusiaan kerap berawal dari renggangnya relasi sosial.

“Dari sinilah pentingnya kita membangun persaudaraan. Persaudaraan yang melintas batas, baik sesama iman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapapun yang ada,” katanya.

Namun demikian, Haedar juga mengingatkan bahwa membangun persaudaraan harus berlandaskan nilai-nilai dalam Al Maidah ayat 2, yakni kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, serta menghindari kerja sama dalam keburukan dalam kehidupan antar manusia.

“….., Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al Maidah: 2)