MAKLUMAT — Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) terus memperkuat komitmennya dalam membuka akses permodalan sekaligus memperluas jejaring strategis bagi para anggotanya. Salah satu langkah konkret yang tengah diupayakan yakni untuk memfasilitasi koneksi antara pelaku usaha anggota SUMU dengan investor modal ventura (venture capital/VC) yang memiliki ketertarikan khusus pada sektor consumer brand di Indonesia.
Inisiatif tersebut bermula dari komunikasi yang dijalin Wakil Ketua LP UMKM PP Muhammadiyah sekaligus Penanggung Jawab SUMU, Ghufron Mustaqim, dengan pendiri sebuah fund investasi baru yang tengah memulai aktivitasnya di Indonesia. Investor tersebut dinilai memiliki pendekatan berbeda dibanding venture capital pada umumnya.
“Mereka tidak sekadar mencari pertumbuhan cepat, tetapi lebih fokus pada bisnis yang sehat, stabil, dan memiliki potensi jangka panjang. Ini menjadi peluang yang sangat relevan bagi banyak pelaku usaha anggota SUMU yang ingin bertumbuh secara berkelanjutan tanpa tekanan exit,” ujar Ghufron dalam keterangan yang diterima Maklumat.id, Rabu (15/4/2026).
Ghufron mengungkapkan bahwa investor tersebut secara khusus menargetkan perusahaan berbasis Direct-to-Consumer (D2C), yaitu brand yang menjual produknya langsung kepada konsumen tanpa melalui perantara seperti distributor atau retail pihak ketiga. Model bisnis ini, kata dia, dinilai memiliki keunggulan dalam membangun hubungan langsung dengan pelanggan, menciptakan loyalitas, serta menjaga konsistensi pertumbuhan.
Ia menyebut bahwa saat ini pihak investor telah menyiapkan dana sekitar Rp200 miliar yang siap disalurkan kepada perusahaan-perusahaan terpilih. Adapun kriteria utama yang menjadi fokus investasi meliputi:
- Memiliki narasi dan brand story yang kuat
- Mencatatkan omzet tahunan sebesar Rp10–30 miliar
- Memiliki EBITDA (keuntungan operasional) dengan margin yang sehat
- Mengembangkan brand milik sendiri yang telah memiliki intellectual property.
Untuk setiap perusahaan yang memenuhi kriteria tersebut, nilai investasi yang ditawarkan berkisar antara Rp5 hingga Rp8 miliar. Pendanaan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekspansi bisnis, memperkuat struktur operasional, serta meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun global.
Lebih dari itu, investor juga menawarkan dukungan strategis bagi para founder. Dengan pengalaman dalam membangun salah satu brand D2C besar, mereka menyediakan coaching dan mentoring untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih tajam serta menghindari kesalahan umum dalam pengembangan bisnis.
“Nilai tambah yang ditawarkan bukan hanya dana, tetapi juga akses ke ekosistem yang kuat, mulai dari mentor teknologi di Silicon Valley, pakar marketing dan branding, hingga mitra supply chain global. Ini yang menjadi diferensiasi dan sangat bermanfaat bagi pelaku usaha kita,” tambah Ghufron.
SUMU, lanjut Ghufron, membuka kesempatan bagi anggota yang memenuhi kriteria untuk mengikuti proses kurasi awal. Perusahaan yang lolos seleksi internal akan direkomendasikan kepada investor untuk tahap selanjutnya.
Bagi anggota SUMU yang berminat, profil perusahaan dapat dikirimkan melalui email ke [email protected] atau menghubungi customer service SUMU di nomor 0812-2359-5536 (WhatsApp) dengan mencantumkan Kartu Tanda Anggota (KTA) SUMU.
Namun, Ghufron juga menegaskan bahwa proses itu bukan jaminan pendanaan, melainkan pintu awal untuk membangun relasi dan kepercayaan dengan investor. “Kami ingin membuka lebih banyak peluang bagi brand lokal agar bisa naik kelas. Networking ini adalah langkah awal yang penting untuk mempertemukan pelaku usaha potensial dengan investor yang tepat,” tegasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, SUMU berharap semakin banyak brand lokal berbasis D2C yang mampu berkembang secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional serta kemaslahatan umat.













