MAKLUMAT — Lebanon dan Israel menyepakati penghentian permusuhan selama 10 hari mulai 16 April 2026 pukul 17.00 EST , usai perundingan langsung yang dimediasi Amerika Serikat pada 14 April 2026.
Kesepahaman ini menandai langkah awal menuju negosiasi damai komprehensif antara kedua negara yang selama ini berada dalam ketegangan di kawasan perbatasan. Presiden AS Donald Trump mendesak Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran di Lebanon selatan, untuk mematuhi gencatan senjata dengan Israel yang telah berlaku.
“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan sopan selama periode penting ini,” tulis Trump di Truth Social dikutip dari BBC, Kamis (16/5/2026). “Ini akan menjadi momen yang LUAR BIASA bagi mereka jika mereka melakukannya. Tidak ada lagi pembunuhan. Akhirnya harus ada KEDAMAIAN!”
Secara teknis, gencatan senjata tersebut berlaku antara Israel dan Lebanon, tempat Hizbullah bermarkas. Seorang pejabat Israel mengatakan kepada mitra BBC di AS, CBS News, bahwa Israel hanya akan merespons secara militer selama gencatan senjata terhadap “ancaman nyata dari Hizbullah”.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Kamis bahwa kesepakatan perdamaian yang lebih langgeng akan membutuhkan pelucutan senjata terhadap kelompok yang didukung Iran tersebut.
Menurut keterangan resmi United States Department of State/ Departemen Luar Negeri AS, Lebanon dan Israel sepakat menciptakan kondisi kondusif bagi perdamaian abadi, termasuk pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing, serta membangun keamanan di sepanjang perbatasan bersama.
Lebanon Diminta Kendalikan Kelompok Bersenjata
Dalam kesepakatan tersebut, Lebanon mengakui tantangan besar dari kelompok bersenjata nonnegara yang dinilai mengganggu kedaulatan dan stabilitas regional.
Karena itu, hanya pasukan resmi negara yang diizinkan membawa senjata, yakni Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF), Pasukan Keamanan Internal, Direktorat Jenderal Keamanan, Direktorat Jenderal Keamanan Negara, Bea Cukai Lebanon, dan kepolisian.
Pemerintah Lebanon juga diminta mengambil langkah konkret untuk mencegah Hizbullah dan kelompok bersenjata lainnya melancarkan serangan terhadap Israel.
Israel Tahan Operasi Ofensif, Tetap Punya Hak Bela Diri
Israel menegaskan tetap memiliki hak untuk membela diri dari ancaman serangan, termasuk yang direncanakan atau sedang berlangsung.
Meski begitu, selama masa gencatan senjata, Israel tidak akan melakukan operasi militer ofensif terhadap target di wilayah Lebanon, baik melalui darat, udara, maupun laut.
Kesepakatan ini juga menegaskan bahwa Lebanon dan Israel tidak dalam kondisi perang dan siap melanjutkan negosiasi langsung dengan itikad baik.
AS Fasilitasi Negosiasi Lanjutan
Amerika Serikat akan terus memfasilitasi pembicaraan lanjutan antara kedua negara, termasuk membahas isu sensitif seperti penetapan batas darat internasional.
Gencatan senjata ini berlaku selama 10 hari dan dapat diperpanjang jika terdapat kemajuan dalam negosiasi serta Lebanon dinilai mampu menegakkan kedaulatannya.
AS juga menyatakan akan memimpin dukungan internasional untuk memperkuat stabilitas Lebanon sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan kawasan. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pintu masuk menuju perjanjian damai permanen antara Lebanon dan Israel.*













