Dampak Konflik AS–Iran terhadap Indonesia, Krisis Energi Jadi Sorotan

Diskusi konflik AS-Iran

Dampak Konflik AS–Iran terhadap Indonesia Jadi Sorotan, dari Ekonomi hingga Stabilitas Global

MAKLUMAT – dampak konflik AS–Iran terhadap Indonesia menjadi perhatian serius dalam forum Ruang Gagasan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4). Diskusi ini menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak global, tetapi juga berimbas langsung pada Indonesia.

Lebih dari 100 peserta mengikuti forum yang berlangsung di RBC A. Malik Fadjar Institute tersebut. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM bekerja sama dengan RBC Abdul Malik Fadjar dan Program Studi Hubungan Internasional UMM.

Sejumlah pakar hadir sebagai pembicara, di antaranya Hikmahanto Juwana, Gonda Yumitro, dan Airlangga Pribadi. Mereka sepakat bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar persoalan bilateral, melainkan memiliki dampak luas terhadap stabilitas global, termasuk Indonesia.

Dampak Ekonomi dan Energi Mengintai

Salah satu dampak konflik AS–Iran terhadap Indonesia yang paling disorot adalah potensi gangguan pada sektor ekonomi, terutama energi dan rantai pasok global.

Sekretaris PSIB UMM, Diki Wahyudi, menjelaskan bahwa eskalasi konflik dapat memicu ketidakpastian ekonomi global. Indonesia sebagai bagian dari sistem ekonomi dunia tidak bisa lepas dari dampak tersebut.

Baca Juga  UMM Meneguhkan Komitmen Interdisipliner Hadapi Tantangan Global

“Ada kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, khususnya terkait energi dan rantai pasok,” ujarnya.

Jika konflik memanas, harga energi global berpotensi naik. Kondisi ini bisa berdampak langsung pada biaya produksi, transportasi, hingga harga kebutuhan pokok di Indonesia.

Posisi Indonesia di Tengah Dilema Global

Guru Besar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia tidak sederhana. Sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia berada di tengah tarik-menarik kepentingan global.

“Indonesia berada dalam posisi dilematis. Namun tetap harus memiliki sikap yang jelas, terutama terkait dampak kemanusiaan,” tegasnya.

Sementara itu, Gonda Yumitro menambahkan bahwa di mata dunia, Indonesia masih dipandang konsisten menjalankan prinsip bebas aktif. Hal ini menjadi modal penting dalam merespons konflik global.

Ancaman Kemanusiaan dan Stabilitas Global

Selain ekonomi, dampak konflik AS–Iran terhadap Indonesia juga berkaitan dengan isu kemanusiaan. Konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang berdampak luas terhadap masyarakat global.

Diki menegaskan bahwa eskalasi konflik harus dilihat sebagai ancaman serius terhadap kesejahteraan sosial masyarakat sipil.

Di sisi lain, Airlangga Pribadi menekankan pentingnya literasi geopolitik, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap konflik global menjadi kunci dalam menyikapi dinamika dunia.

Baca Juga  PMM UMM Gelar Sosialisasi di SMA Muhammadiyah 1 Blitar, Seluruh Siswa Ikut Deklarasi Anti-Bullying

Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa kampus memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kritis.

“Kampus harus menjadi pusat produksi gagasan. Tanpa literasi yang kuat, kita mudah terjebak pada informasi yang tidak utuh,” ujarnya.

Perhatian Akademisi Meningkat

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta. Antusiasme ini menunjukkan tingginya perhatian akademisi dan mahasiswa terhadap isu geopolitik global yang semakin kompleks.

Melalui forum ini, UMM mendorong penguatan tradisi intelektual sekaligus meningkatkan peran generasi muda dalam merespons dinamika global secara kritis dan konstruktif.

Isu dampak konflik AS–Iran terhadap Indonesia pun menjadi pengingat bahwa gejolak dunia tidak pernah benar-benar jauh. Dampaknya bisa dirasakan hingga ke dalam negeri, mulai dari ekonomi hingga stabilitas sosial.