Umsida Tuan Rumah PKPRIM, DPR RI dan BRIN Dorong Hilirisasi Riset untuk Ekonomi Nasional

Wakil Rektor I Umsida Prof Hana Catur Wahyuni (kiri) menyerahkan cindera mata kepada anggota Komisi X DPR RI Lita Machfud Arifin, usai kegiatan PKPRIM pada Kamis (30/4/2026). (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menjadi tuan rumah kegiatan Program Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat (PKPRIM) yang digagas Komisi X DPR RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (30/4/2026).

Mengusung tema “Hilirisasi Riset Sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni peneliti BRIN Yanu Endar Prasetyo PhD dan Kepala Bidang Riset DRPM Umsida Dr Rahmania Sri Untari MPd. Turut hadir Wakil Rektor I Umsida Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT IPM, anggota Komisi X DPR RI Lita Machfud Arifin, serta para dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Umsida.

Mahasiswa Tak Boleh Hanya Jadi Objek Ilmu

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Umsida Prof Hana Catur Wahyuni menegaskan bahwa riset menjadi kunci agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan solusi.

“Kita tidak bisa hidup tanpa penelitian. Ilmu dan teknologi itu selalu berkembang. Kalau kita tidak rajin mengikuti penelitian maka kita tidak akan mengikuti perkembangannya,” tandasnya.

Ia mengingatkan bahwa ketertinggalan dalam riset akan berdampak pada kondisi finansial dan penguasaan teknologi masyarakat. “Kalau kita tidak mengikuti penelitian, kita akan tertinggal. Akhirnya kita hanya menjadi pengguna, bahkan bisa menjadi objek,” kata Hana.

Baca Juga  DPR Dorong Business Matching dan Promosi untuk Perkuat Industri Animasi Lokal Agar Naik Kelas

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Umsida telah mendorong inovasi melalui kebijakan akademik, salah satunya jalur kelulusan tanpa skripsi.

“Sudah hampir 4 tahun kami mempunyai jalur lulus tanpa skripsi. Jadi mahasiswa tidak perlu mengerjakan skripsi. Tapi ketika mereka mempunyai karya yang bisa diimplementasikan di masyarakat itu bisa dijadikan pengganti skripsi,” terangnya.

Menurut Hana, kebijakan tersebut menjadi upaya kampus dalam menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat sebagai implementasi konsep kampus berdampak.

Program KIP Perkuat Ekosistem Akademik

Dalam kesempatan itu, Hana juga memaparkan dampak positif program Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi mahasiswa Umsida. Ia menyebutkan rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa penerima KIP mencapai di atas 3,65.

“Bagaimana kita bisa belajar dengan nyaman kalau masih memikirkan biaya? Dengan KIP, mahasiswa bisa fokus akademik dan pengembangan diri,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa program KIP tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga mendorong penguatan soft skill mahasiswa.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Lita Machfud Arifin mengapresiasi capaian akademik mahasiswa KIP Umsida. Ia mengaku bangga melihat banyak mahasiswa mampu meraih IPK tinggi, bahkan di atas 3,8.

Baca Juga  Hadapi Lonjakan Nataru dan Cuaca Ekstrem, DPR RI Dorong Kesiapsiagaan Negara Terpadu

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. KIP yang kami titipkan setiap tahun, sekitar 700 mahasiswa bisa kami bantu untuk lulus S1. Ini amanah yang harus kami jaga,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya doa orang tua dalam perjalanan pendidikan mahasiswa. “KIP ini tidak lepas dari doa orang tua kalian. Maka wujudkan rasa syukur itu dengan belajar sungguh-sungguh dan meraih prestasi terbaik,” pesannya.

Lebih lanjut, Lita menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga melakukan monitoring agar mahasiswa KIP dapat lulus dengan hasil membanggakan. Bahkan, peluang penambahan kuota KIP bagi Umsida hingga 2029 turut dibuka, menyesuaikan perkembangan ke depan.

Riset Tak Boleh Berhenti di Perpustakaan

Dalam kesempatan tersebut, Lita menekankan pentingnya keseriusan mahasiswa dalam mengikuti program peningkatan kapasitas riset dan inovasi.

“Jangan sampai program ini hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Ini tanggung jawab kita bersama karena dibiayai oleh rakyat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi riset di perguruan tinggi. Menurutnya, masih banyak hasil penelitian yang berhenti pada laporan akademik dan belum memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Hilirisasi riset berarti membawa hasil penelitian keluar dari laboratorium menuju masyarakat dan industri. Ketika riset menjadi produk atau solusi, di situlah ia memiliki nilai ekonomi dan manfaat nyata,” jelasnya.

Baca Juga  Umsida Resmi Buka PMB 2026-2027, Banyak Jalur Masuk dan Pilihan Beasiswa

Ia menekankan perlunya kolaborasi berkelanjutan antara DPR RI, BRIN, dan perguruan tinggi agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial. “Riset harus hadir dari rakyat, diteliti secara ilmiah, dimonitor oleh BRIN, dan kembali untuk kesejahteraan masyarakat,” tandas Lita.

Politisi Partai NasDem itu berharap, ke depan perguruan tinggi terus memperkuat riset nasional demi mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing global.