MAKLUMAT — Pemerintah Indonesia menegaskan proyek pesawat tempur KF-21 Boramae menjadi salah satu simbol penting kemitraan strategis Indonesia dan Korea Selatan di tengah dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang semakin kompetitif.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, mengatakan Korea Selatan tetap menjadi mitra strategis utama Indonesia, tidak hanya di sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga dalam penguatan industri pertahanan, teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Korea Selatan selalu menjadi negara strategis bagi Indonesia. Tidak hanya karena investasi dan perdagangan, tetapi juga kerja sama yang bersifat historis, termasuk pengalaman demokratisasi, governance, hingga pembelajaran pembangunan ibu kota baru,” ujar Santo dalam sosialisasi Lomba Menulis Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM di Jakarta, Ahad (17/5/2026).
Menurut Santo, Indonesia dan Korea Selatan memiliki posisi serupa sebagai middle power yang berperan menjaga keseimbangan kawasan Indo-Pasifik di tengah persaingan kekuatan besar dunia.
Ia menjelaskan, kedua negara bersama Australia pernah dikenal dalam konsep kerja sama negara menengah dengan akronim KIA (Korea, Indonesia, Australia) yang memiliki perspektif sejalan dalam menjaga stabilitas regional.
“Negara-negara middle power dapat menjadi motor kerja sama kawasan sekaligus penyeimbang di tengah dinamika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, maupun Jepang,” jelas Dubes RI untuk Kamboja periode 2023-2026 tersebut.
KF-21 Boramae dan Strategi Pertahanan Indonesia
Santo menegaskan proyek pengembangan pesawat tempur bersama KF-21 Boramae memiliki arti strategis bagi upaya kemandirian industri pertahanan nasional.
Meski demikian, ia menilai tantangan utama Indonesia bukan hanya memperbanyak mitra pertahanan, tetapi memastikan seluruh sistem pertahanan nasional dapat terintegrasi secara menyeluruh.
Indonesia saat ini diketahui menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara seperti Prancis, Turki, hingga Tiongkok.
“Yang penting adalah bagaimana berbagai kerja sama dari banyak sumber itu bisa menjadi satu sistem yang integratif dan berfungsi secara keseluruhan bagi pertahanan nasional,” tegas Santo.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kerja sama proyek KF-21 Boramae tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar modernisasi pertahanan Indonesia.
Prabowo dan Diplomasi Strategis RI-Korsel
Santo juga menyinggung kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu yang dinilai membawa sinyal kuat bahwa Korea Selatan tetap berada di “halaman pertama” diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia.
Menurutnya, hubungan Indonesia-Korea Selatan saat ini berkembang semakin luas, mencakup investasi, industrialisasi, teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga penguatan pertahanan.
“Kunjungan Presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” katanya.
AI dan Pemikiran Strategis Nasional
Dalam kesempatan itu, Santo juga menyoroti pentingnya kreativitas intelektual manusia di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Ia menilai pemikiran strategis yang tidak selalu linear justru sering melahirkan terobosan besar dalam sejarah keamanan global.
Santo mencontohkan konsep nuclear deterrence yang awalnya dianggap paradoksal karena gagasan senjata nuklir justru mampu menciptakan stabilitas dunia.
“Dulu konsep deterrence nuklir terasa tidak masuk akal, bagaimana senjata pemusnah massal justru menciptakan stabilitas? Tapi sejarah menunjukkan konsep itu menjadi salah satu faktor pencegah konflik besar antar negara,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai lomba menulis strategis yang digelar ISDS menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas pemikiran strategis nasional di era digital.
ISDS Dorong Literasi Strategis Publik
CEO sekaligus Co-Founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko, mengatakan lomba menulis tersebut merupakan bagian dari pendekatan diplomasi publik yang relevan dalam hubungan internasional modern.
Menurutnya, penguatan kemitraan strategis Indonesia dan Korea Selatan membutuhkan keterlibatan publik melalui jalur people-to-people engagement.
“Melalui kompetisi menulis ini, kami ingin membuka ruang partisipasi publik agar masyarakat dapat memahami dinamika kerja sama strategis tersebut secara lebih kritis,” ujar Dwi.
Lomba menulis ISDS berlangsung mulai 17 April hingga 7 Juni 2026 dan terbuka untuk masyarakat umum berusia di atas 17 tahun. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni 2026.***













