1 Muharam 1448 H: Saatnya Tinggalkan Mitos 1 Suro dan Wujudkan Kalender Hijriah Global

1 Muharam 1448 hijriah

MAKLUMATTanggal 1 Muharam 1448 Hijriah tahun ini bertepatan dengan 16 Juni 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, datangnya Muharam kembali disambut dengan beragam narasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebagian orang masih memperbincangkan malam 1 Suro sebagai malam keramat. Sebagian lainnya sibuk membahas berbagai pantangan yang konon tidak boleh dilakukan pada bulan ini. Ada yang menghindari pernikahan, menunda pindah rumah, hingga takut memulai usaha karena khawatir tertimpa kesialan.

Padahal, umat Islam sesungguhnya memiliki agenda yang jauh lebih penting daripada memperdebatkan mitos-mitos yang tidak memiliki dasar syariat.

Momentum pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi pengingat tentang pentingnya membangun kesatuan tata waktu Islam. Inilah pekerjaan rumah besar dunia Islam yang hingga kini belum benar-benar selesai: penyatuan kalender Hijriah.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa peredaran benda-benda langit diciptakan Allah sebagai sarana pengaturan waktu bagi manusia.

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda … agar kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan (waktu).”
(QS. Al-Isra’: 12)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.”
(QS. Al-Baqarah: 189)

Baca Juga  Datangi DPRD, PDM Bangkalan Minta Penyelesaian Masalah Penautan ID PNS dan Mutasi Guru Swasta

Ayat tersebut memberi penegasan penting: hilal bukan sarana mencari pertanda baik dan buruk, apalagi alat menebak nasib manusia. Fungsi utama hilal adalah sebagai mawāqīt — penanda waktu bagi kehidupan dan ibadah manusia.

Karena itu, ketika setiap Muharam energi umat habis untuk membicarakan hal-hal mistik yang tidak berdasar, sesungguhnya kita sedang kehilangan fokus terhadap pesan besar kalender Hijriah itu sendiri.

Kalender bukan instrumen mistik. Kalender adalah instrumen peradaban.

Persoalan kalender Islam bahkan telah menjadi perhatian dunia Islam selama puluhan tahun. Pada Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Dakar, Senegal, tahun 2008, negara-negara anggota menyerukan pentingnya penyatuan kalender Islam demi memperkuat citra Islam di mata dunia.

Seruan itu kemudian ditindaklanjuti melalui berbagai forum internasional.

Puncaknya, Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul tahun 2016 memilih konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai model penyatuan kalender Islam dunia.

Muhammadiyah termasuk organisasi yang sejak lama memberikan perhatian serius terhadap agenda tersebut. Berbagai simposium, seminar, dan kajian internasional dilakukan untuk mengembangkan sistem kalender Islam yang mampu mewujudkan prinsip “satu hari satu tanggal” bagi seluruh umat Islam di dunia.

Baca Juga  TPS Jamin Kelancaran Arus Kargo Selama Libur Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2025

Mengapa hal ini penting?

Karena Islam adalah agama global. Umat Islam hidup di berbagai belahan dunia, tetapi sering kali memulai Ramadan, merayakan Idulfitri, bahkan menentukan hari Arafah pada tanggal yang berbeda.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: mungkinkah umat yang satu memiliki sistem waktu yang juga satu?

Al-Qur’an sendiri menggambarkan umat Islam sebagai satu kesatuan.

“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya’: 92)

Semangat ummah wāḥidah itulah yang menjadi salah satu landasan penting perlunya kalender Islam bersifat global.

Muhammadiyah menilai perbedaan negara dan kelompok sering kali menyebabkan perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Karena itu diperlukan upaya menghadirkan kalender Hijriah internasional yang mampu memberikan kepastian waktu bagi kehidupan umat Islam modern.

Lebih jauh, penyatuan kalender bukan sekadar persoalan teknis astronomi.

KHGT merupakan bagian dari pembangunan peradaban Islam modern.

Dunia hari ini bergerak dalam sistem global yang seragam. Jadwal penerbangan, transaksi ekonomi, perdagangan internasional, komunikasi digital, hingga perencanaan kegiatan lintas negara membutuhkan kepastian waktu yang sama.

Ironis apabila umat Islam yang tersebar di seluruh dunia masih menggunakan sistem kalender yang berbeda-beda sehingga tanggal ibadah pun kerap tidak seragam.

Baca Juga  DPP IMM Launching Beasiswa Buku Kader saat Pembukaan Tanwir XXXII

Karena itulah KHGT hadir sebagai ikhtiar menghadirkan kalender Islam yang unifikatif, pasti, dan berlaku secara global.

Agenda seperti ini tentu jauh lebih produktif untuk dibicarakan daripada memperdebatkan apakah malam 1 Suro membawa kesialan atau keberuntungan.

Sebab Islam tidak pernah mengajarkan bahwa Muharam adalah bulan sial. Sebaliknya, Muharam justru termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan … di antaranya ada empat bulan haram (mulia).”
(QS. At-Taubah: 36)

Mungkin sudah saatnya setiap kali 1 Muharam datang, perhatian umat tidak lagi tersita oleh cerita tentang keris, pantangan, hari sial, atau berbagai mitos yang tidak pernah diajarkan Rasulullah saw.

Sebaliknya, energi umat diarahkan pada agenda-agenda besar yang benar-benar membawa manfaat bagi masa depan Islam.

Salah satunya adalah mewujudkan Kalender Hijriah Global Tunggal yang dapat menyatukan waktu ibadah umat Islam di seluruh dunia.***