Mengapa Fenomena Strawberry Moon Tampak Lebih Rendah di Langit?

MAKLUMAT — Bulan purnama pada akhir Juni 2026 ini punya julukan khusus, yakni Strawberry Moon. Namun, selain namanya yang unik, ada satu hal unik yang banyak dibahas.

Purnama kali ini terlihat lebih rendah di langit dibandingkan biasanya. Menurut data NASA Moon Guide yang dilansir pada laman resminya pada Senin (29/06), tingkat kecerahan Bulan mencapai 99% saat ini pada hari ke-14 siklus Bulan, dengan jarak dari Bumi tercatat sekitar 405.917 km.

NASA menjelaskan bahwa orbit Bulan terhadap Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna melainkan elips, sehingga jaraknya bervariasi antara perigee (titik terdekat) dan apogee (titik terjauh) dalam setiap orbitnya.

Strawberry Moon
Ilustrasi Fase-Fase Bulan dan Jarak Bumi-Bulan Tahun 2026. Foto: Tangkapan layar laman resmi BMKG

Data ini selaras dengan catatan BMKG, yang mencatat jarak Bulan pada momen purnama kali ini berada di 405.251 km, dengan diameter sudut 14’44.29″, dilansir pada Senin (29/06). BMKG secara spesifik menyebut Strawberry Moon kali ini sebagai “Purnama Apoge” atau Minimoon.

Purnama Apoge merupakan istilah yang digunakan untuk purnama yang terjadi saat Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi dalam satu siklus orbit. Karena posisinya yang lebih jauh dari Bumi,

Bulan saat purnama apogee biasanya tampak sedikit lebih kecil dibanding purnama biasa. Hal ini kebalikan dari fenomena Supermoon yang terjadi saat purnama berada di dekat perigee.

Waktu Puncak Purnama

Baca Juga  575 Hotspot Karhutla Terdeteksi, PM2.5 Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya

Soal waktu puncaknya, ada dua sumber yang memiliki catatan sedikit berbeda namun saling melengkapi: BMKG mencatat jadwal Strawberry Moon pada 30 Juni 2026, pukul 06.56 WIB.

Sedangkan Sky & Telescope mencatat puncak purnama jatuh pada Senin, 29 Juni, tepat pukul 19:57 EDT (waktu Amerika bagian timur).

Perbedaan tanggal ini wajar terjadi karena perbedaan zona waktu antara Indonesia dan Amerika Serikat. Momen puncak purnama yang sama secara astronomis bisa jatuh pada tanggal kalender yang berbeda di dua belahan dunia.

Dilansir dari Sky & Telescope.org, juga mencatat waktu Strawberry Moon untuk wilayah Amerika, Bulan terbit segera setelah Matahari terbenam, di cakrawala tepat di seberang tempat Matahari terbenam. Pola yang juga berlaku secara umum bagi pengamat di berbagai belahan dunia saat purnama.

Soal Posisi yang Tampak Rendah

Sky & Telescope.org turut memberi petunjuk arah pengamatan, menyebut bahwa pada malam minggu ini Bulan berada di dekat gugusan bintang Sagittarius Teapot meski perlu langit yang tidak terlalu berkabut untuk melihatnya dengan jelas.

Fenomena Strawberry Moon ini berkaitan dengan jalur edar Bulan di belahan bumi utara, cenderung berada lebih rendah di langit malam dan terlihat lebih dekat ke garis horizon dibanding purnama di bulan-bulan lain.

Baca Juga  Masa Pancaroba Sudah Tiba: Waspadai Cuaca Ekstrem di Jawa Timur

Tentang Siklus Bulan

BMKG menjelaskan bahwa Bulan adalah benda langit yang mengorbit Bumi, dan karena sumber cahaya Bulan yang terlihat dari Bumi adalah pantulan sinar Matahari, bentuk Bulan yang terlihat dari Bumi akan berubah-ubah.

Perubahan ini disebut fase-fase Bulan. Satu siklus penuh fase Bulan, mulai dari bulan baru hingga kembali ke bulan baru, dikenal sebagai periode sinodis, yang menurut BMKG secara rata-rata ditempuh dalam waktu 29,53059 hari atau 29 hari 12 jam 44 menit 03 detik. Angka ini sejalan dengan catatan NASA yang menyebut siklus penuh Bulan berlangsung 29,5 hari.

 

*) Penulis: Nasywa Athirah