MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) resmi memberangkatkan mahasiswa peserta KKN Pencerahan dan KKN Muhammadiyah–Aisyiyah 2026, dalam prosesi pelepasan yang dilangsungkan di halaman Kampus 3 Umsida, Selasa (21/7/2026).
Mengusung tema “Sinergi Membangun Desa Mandiri, Berdaya, dan Berdampak untuk Kemajuan Desa dan Ranting”, program tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa yang akan berlangsung lebih dari satu bulan di berbagai daerah.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Umsida, Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi, mengungkapkan sebanyak 944 mahasiswa mengikuti KKN Pencerahan tahun ini. Mereka terbagi dalam 72 kelompok yang akan ditempatkan di 72 desa.
Selain itu, 11 mahasiswa Umsida mengikuti KKN Muhammadiyah–Aisyiyah yang akan dilaksanakan di Kabupaten Malang bagian selatan. Dalam program tersebut, mereka akan berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Indonesia.
Prof Sigit menjelaskan, lokasi KKN Pencerahan tahun ini tersebar di enam kabupaten, yakni Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk, dan Lamongan. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan didampingi oleh 37 dosen pembimbing lapangan.
Menurutnya, perluasan wilayah pengabdian merupakan upaya Umsida untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
“Sebelumnya lokasi KKN biasanya berada di sekitar Pasuruan, Mojokerto, dan Kediri. Sekarang sudah menjangkau Lamongan dan Nganjuk. Semoga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di berbagai kabupaten tersebut,” ujarnya.
Selain KKN Pencerahan, Umsida juga menyelenggarakan KKN-PLP (Praktik Lapangan Persekolahan) di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Program tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Prof Sigit mengingatkan bahwa pelaksanaan KKN tidak hanya berfokus pada penyelesaian program kerja, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat dan membangun kolaborasi dengan berbagai elemen di desa.
“Mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, memahami kondisi desa, dan membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, RT/RW, karang taruna, PKK, bidan, serta berbagai kelompok masyarakat,” terangnya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak memaksakan program yang telah disusun tanpa memahami kebutuhan masyarakat terlebih dahulu.
“Jangan memaksakan program tanpa berdiskusi. Dengarkan terlebih dahulu apa yang menjadi permasalahan masyarakat, lalu koordinasikan dengan desa sebelum memberikan solusi,” pesannya.
Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, mengatakan KKN merupakan implementasi dharma pengabdian kepada masyarakat setelah mahasiswa menempuh proses pembelajaran di ruang kelas dan laboratorium.
Menurutnya, meski berlangsung sekitar satu bulan, KKN dapat menjadi pengalaman berharga sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ia menekankan pentingnya sinergi antarmahasiswa dalam kelompok maupun dengan masyarakat desa. Setiap peserta diminta saling menghargai perbedaan pendapat, menjaga kekompakan, dan memberikan kontribusi selama pelaksanaan KKN.
“Tidak boleh hanya sekadar hadir. Semua harus memberikan kontribusi terbaik dan melakukannya secara konsisten sejak awal hingga hari terakhir KKN,” tegasnya.
Hidayatulloh berharap, kehadiran mahasiswa mampu menghadirkan perubahan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing desa.
“Pastikan ada sesuatu yang berubah antara sebelum mahasiswa datang dan setelah mahasiswa pulang. Perubahannya harus mengarah pada kemajuan dan pengembangan desa,” tuturnya.
Selain menjalankan program pengabdian, mahasiswa juga diminta menyusun laporan KKN dengan baik. Hasil pengabdian tersebut nantinya akan dipublikasikan sebagai bagian dari kontribusi akademik sekaligus mendukung pengembangan reputasi Umsida.***
*) Penulis: Romadhona













