Wagub Jatim Ingatkan Orang Tua Bangun Komunikasi Erat dengan Anak di Era Digital

Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak saat menyampaikan sambutan pada Seminar Nasional dalam rangkaian Puncak Hari Anak Nasional yang digelar PWA Jawa Timur di Umsida, Sabtu (25/7/2026).

MAKLUMAT — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang erat dan dekat antara orang tua dan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Menurutnya, tantangan pengasuhan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan gawai, tetapi juga minimnya komunikasi yang membuat orang tua terlambat memahami permasalahan yang dihadapi anak.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar Nasional Perlindungan Anak dalam rangkaian Puncak Hari Anak Nasional 2026 yang digelar Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (25/7/2026).

Emil membagikan pengalamannya ketika masih menjabat sebagai Bupati Trenggalek. Ia menceritakan kasus yang sempat menjadi perhatian publik ketika terdapat siswa sekolah dasar yang kedapatan membawa vape. Namun, setelah bertemu dengan orang tua siswa, ia justru menemukan fakta yang lebih mencengangkan.

“Viral anak-anak SD di tempat saya dulu itu nge-vape. Lalu viral di media sosial. Lalu kemudian saya telepon orang tua, kita panggil orang tuanya. Di luar dugaan, pertama anak-anak ini tidak jelek, prestasi akademiknya cukup baik. Yang kedua, orang tua yang santun dan kooperatif, datang langsung begitu kami minta. Lalu mereka menyampaikan dengan tergagap-gagap, ‘Pak, anak-anak saya tuh enggak tahu kalau itu namanya vape. Mereka hanya melihat, nemu di tas kakaknya, dibawa, disangkanya mainan’,” ceritanya.

Baca Juga  Ketika Mikrofon Menjadi Cermin Kepemimpinan

Namun, Emil menilai persoalan tersebut tidak berhenti di situ. Baginya, ada persoalan yang lebih mendasar, yakni lemahnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berpikir bisa saja, ‘Oh ya sudah, tidak sengaja, selesai.’ Tapi saya khawatir ini menjadi masalah yang berkelanjutan. Jadi kami bertanya satu hal, ‘Ibu, Bapak, kalau memang anak anda tidak tahu bahwa vape itu sesuatu yang tidak boleh, pertanyaannya hanya satu: Kenapa anda tahunya pas sudah viral?’” jelasnya.

Menurut Emil, pertanyaan tersebut menjadi bahan refleksi bagi semua pihak bahwa pengawasan terhadap anak tidak cukup dilakukan ketika persoalan telah muncul ke ruang publik. Komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga dinilai menjadi fondasi penting untuk memahami aktivitas maupun pergaulan anak, termasuk di ruang digital.

“Langsung teringat. Kok tahunya pas sudah viral? Jadi ternyata komunikasi antara anak dengan orang tua tidak terjadi. Handphone-nya di-password , orang tuanya enggak bisa buka. Ikut grup WA atau grup yang lain, tidak bisa kemudian diketahui apa isinya, dan ini menjadi tantangan besar,” tambahnya.

Ia berharap gerakan perlindungan anak tidak berhenti pada peringatan Hari Anak Nasional, tetapi menjadi komitmen bersama dalam memperkuat peran keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Baca Juga  Lakukan Sertijab, Khofifah-Emil Resmi Kembali Pimpin Jawa Timur

“Maka kami optimistis bahwa komitmen yang luar biasa dari Gerakan Bersama Muhammadiyah-Aisyiyah Peduli Anak ini adalah satu kekuatan yang luar biasa bagi Jawa Timur untuk mengatasi masalah-masalah masa kini yang kita hadapi,” pungkas Emil.***

*) Penulis: Nasywa Athirah