MAKLUMAT – Kabupaten Jember menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di kawasan Sekarkijang pada triwulan I 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember mencatat laju ekonomi Jember mencapai 6,35 persen. Capaian itu tertinggi di antara lima kabupaten yang berada dalam wilayah pengawasannya dan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun nasional.
Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, seluruh kabupaten di wilayah Sekarkijang meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Banyuwangi berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 6,14 persen. Disusul Lumajang 5,89 persen, Situbondo 5,50 persen, dan Bondowoso 5,42 persen.
”Jember dan Banyuwangi menjadi daerah dengan pertumbuhan tertinggi, masing-masing sebesar 6,35 persen dan 6,14 persen. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,96 persen maupun nasional sebesar 5,61 persen,” kata Aris Budiman dalam keterangannya (25/7/2026) di Situbondo.
Menurut Aris, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan Sekarkijang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi. Pertumbuhan ditopang sektor-sektor utama seperti pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan yang masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Ia menilai kondisi itu menjadi modal penting bagi penguatan sektor jasa keuangan. Hingga 31 Mei 2026, stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Sekarkijang dinilai tetap terjaga dengan kinerja intermediasi yang masih tumbuh positif.
”Kami menilai stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Sekarkijang tetap terjaga dan didukung pertumbuhan ekonomi regional yang solid di atas rata-rata nasional, serta kinerja intermediasi keuangan yang tumbuh positif,” papar Aris.
Kinerja perbankan juga menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit bank umum mencapai Rp 62,42 triliun, tumbuh 0,78 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kredit Bank Perekonomian Rakyat dan BPR Syariah (BPR/S) meningkat lebih tinggi, yakni 6,83 persen menjadi Rp 2,58 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan juga meningkat. Dana pihak ketiga (DPK) bank umum tercatat mencapai Rp55,80 triliun, naik 16,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sektor pasar modal, minat masyarakat berinvestasi justru meningkat di tengah konsolidasi pasar akibat ketidakpastian global. Jumlah Single Investor Identification (SID) di wilayah Sekarkijang mencapai 431.375 investor, melonjak 70,42 persen secara tahunan.
Meski Lumajang mencatat pertumbuhan investor tertinggi secara persentase, yakni 90,92 persen, Jember tetap menjadi penyumbang investor terbesar. Sebanyak 173.581 investor atau sekitar 40,24 persen dari total investor Sekarkijang berasal dari Kabupaten Jember.
OJK terus memperkuat manajemen risiko serta mendorong restrukturisasi kredit guna menjaga rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terkendali sehingga fungsi intermediasi perbankan berjalan sehat.
Sementara itu, sektor perasuransian menunjukkan kinerja yang beragam. Asuransi jiwa masih tumbuh positif, sedangkan premi asuransi umum mengalami kontraksi 4,78 persen secara tahunan menjadi Rp 56,26 miliar.
”Sebaliknya, asuransi umum masih mengalami perlambatan dengan kontraksi premi sebesar 4,78 persen menjadi Rp 56,26 miliar, meski kondisi ini jauh lebih baik dibanding periode tahun lalu. OJK berkomitmen penuh untuk terus mengawasi industri ini agar pelindungan konsumen tetap berjalan optimal,” kata Aris. (*)












