AI Jadikan Konten Palsu Makin Meyakinkan

AI

MAKLUMAT — Kemajuan kecerdasan artifisial (AI) menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem informasi digital. Teknologi tersebut kini mampu menghasilkan artikel, gambar, hingga video yang terlihat autentik.

Di sisi lain, kemampuan itu juga membuka ruang lebih besar bagi penyebaran konten manipulatif, termasuk deepfake, yang semakin sulit dikenali masyarakat. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengingatkan soal perkembangan ini.

Ia mengatakan bahwa perkembangan AI membuat praktik disinformasi berkembang lebih cepat dibanding sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menuntut media untuk tetap menjalankan kerja jurnalistik yang mengutamakan verifikasi dan akurasi.

“Kondisi itu membuat penyebaran disinformasi semakin cepat dan semakin sulit dikenali masyarakat apabila tidak diimbangi dengan praktik jurnalisme yang profesional,” ujarnya, melansir laman resmi Komdigi, Jum’at (31/7/2026).

Nezar menjelaskan tantangan ruang digital saat ini tidak hanya datang dari banyaknya informasi yang beredar. Platform digital melalui algoritmanya juga memengaruhi perhatian pengguna sehingga informasi tertentu lebih mudah muncul dibanding informasi lainnya. Situasi tersebut berpotensi membentuk persepsi publik tanpa melalui proses pengujian terhadap kebenaran informasi yang diterima.

Ia menilai masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan prinsip jurnalistik agar dapat membedakan informasi yang benar dari konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Dalam kondisi seperti itu, fungsi media bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi rujukan yang dapat dipercaya.

Baca Juga  Grok AI Resmi Diblokir Sementara, Komdigi: Lindungi Masyarakat dari Deepfake Pornografi

“Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas,” jelasnya.

Di tengah derasnya arus konten digital, Nezar menilai media arus utama perlu memperkuat perannya sebagai penjaga kualitas informasi. Menurutnya, akurasi, etika, dan kredibilitas menjadi pembeda utama ketika masyarakat dibanjiri berbagai konten yang diproduksi secara instan.

Ia juga menyoroti pentingnya media lokal dalam menjaga kualitas ruang informasi nasional. Kedekatan dengan masyarakat membuat media lokal lebih cepat membaca persoalan sosial, ekonomi, maupun pelayanan publik sebelum berkembang menjadi isu yang lebih luas.

“Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar,” katanya.

Nezar menambahkan penguatan media yang menjalankan kode etik jurnalistik sejalan dengan kebijakan Kementerian Komdigi dalam membangun ruang digital Indonesia yang aman dan tepercaya. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan tata kelola ruang digital, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.

Baca Juga  Terbitkan Surat Edaran, Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

Ia berharap insan pers tetap menjaga kualitas kerja jurnalistik di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Menurutnya, kepercayaan publik hanya dapat dipertahankan apabila media tetap konsisten menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik.

“Selama media tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, saya yakin jurnalisme akan tetap menjadi rujukan publik dan terus relevan di era digital,” tandasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki