MAKLUMAT – Musim kemarau mulai menampakkan taringnya. Dalam dua hari terakhir, Sabtu (8/8) hingga Ahad (9/8) pukul 07.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lima kejadian bencana yang tersebar di tiga provinsi: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Mulai dari krisis air bersih di Salatiga hingga kebakaran hutan yang melalap kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Ratusan Keluarga di Salatiga Kekurangan Air Bersih
Kekeringan melanda Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, sejak Jumat (7/8) sekitar pukul 09.00 WIB. Penyebabnya klasik: musim kemarau membuat cadangan sumber air bersih menipis drastis.
Dampaknya tidak main-main. Sebanyak 160 kepala keluarga atau 480 jiwa terdampak langsung. Untungnya, tidak ada korban jiwa maupun kerugian materiil dalam kejadian ini.
BPBD Kota Salatiga sigap merespons. Dropping air bersih langsung digelar, dan pada Sabtu (8/8) kembali dikirim 10.000 liter air atau setara dua tangki untuk memenuhi kebutuhan warga.
Penanganan ini berpayung hukum status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Karhutla lewat Keputusan Wali Kota Salatiga Nomor 300.2/131/2026, berlaku 29 April–25 Oktober 2026. Status serupa juga ditetapkan Pemprov Jawa Tengah melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026, berlaku 1 Juni–31 Desember 2026.
Api Lalap 2 Hektare Lahan di Banyumas
Masih di Jawa Tengah, api juga berkobar di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jumat (7/8). Diduga kuat, kebakaran dipicu aktivitas bakar lahan yang lepas kendali dan cepat menjalar.
Sekitar 2 hektare lahan ludes terbakar. Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. BPBD Kabupaten Banyumas bergerak cepat bersama TNI, Polri, dan warga setempat memadamkan api. Hasilnya, per Sabtu (8/8), api sudah berhasil dijinakkan, meski petugas tetap siaga mengantisipasi munculnya titik api baru.
Penanganan mengacu pada Keputusan Bupati Banyumas Nomor 530 Tahun 2026 (berlaku 3 Juli–31 Oktober 2026) dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026.
Dua Desa di Ponorogo Diamuk Api, 10 Hektare Ludes
Beralih ke Jawa Timur, karhutla menghantam Desa Bancangan dan Desa Campurejo, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (8/8). Penyebab kebakaran masih diselidiki.
Kali ini kerugian lahan lebih luas, mencapai sekitar 10 hektare. BPBD Kabupaten Ponorogo bergerak melakukan kaji cepat sekaligus pemadaman di Dukuh Tengger dan Dukuh Kabatan. Api akhirnya padam pukul 17.00 WIB pada hari yang sama. Tidak ada korban jiwa dilaporkan.
Kawasan Perhutani Trenggalek Ikut Terbakar
Di hari yang sama, api juga membakar kawasan hutan milik Perum Perhutani, petak 114 A, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, sekitar pukul 12.30 WIB. Sebanyak 1,5 hektare lahan terdampak, dengan penyebab yang hingga kini masih misteri.
Tim gabungan BPBD Kabupaten Trenggalek turun tangan dengan metode manual gepyok, dilengkapi pembuatan sekat bakar (ilaran) untuk mencegah api meluas. Perjuangan membuahkan hasil—api padam pukul 16.30 WIB.
Status siaga darurat di daerah ini mengacu pada Keputusan Bupati Trenggalek Nomor 100.3.3.2/269/406.001.3/2026 (19 Mei–30 September 2026) dan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 yang berlaku 180 hari sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.
Karhutla Rinjani, 30 Hektare Terbakar, 22 Personel Dikerahkan
Bencana paling luas terjadi di kawasan wisata favorit: Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya Resor Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Api mulai terlihat Jumat (7/8) sekitar pukul 20.00 WITA, dengan penyebab yang masih ditelusuri.
Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai ±30 hektare—terbesar dari seluruh kejadian yang tercatat BNPB dalam laporan ini, meski angka pastinya masih didata.
Sebanyak 22 personel gabungan dari TN Gunung Rinjani, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), warga, siswa PKL SKMA, Polsek dan Koramil Sembalun, hingga Pemadam Kebakaran Lombok Timur diterjunkan sejak Jumat malam. Kerja keras mereka membuahkan hasil: api berhasil dikendalikan Sabtu (8/8) dini hari pukul 01.30 WITA.
Meski api sudah terkendali, perjuangan belum usai. Tim akan melanjutkan mopping up alias penyisiran sisa material yang berpotensi menyala kembali, sekaligus terus memantau dan melaporkan perkembangan di lapangan.***













