MAKLUMAT — Tiga helikopter CH-47 Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) tiba di Kalimantan Barat untuk memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Ketiga helikopter tersebut dibawa menggunakan kapal JMSDF JS Kunisaki yang telah tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat. Armada itu dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing di wilayah yang mengalami kebakaran.
Dikutip dari laman Kementerian Kehutanan, Sabtu (12/9), dukungan Jepang tersebut menjadi tambahan kekuatan bagi operasi udara pemerintah Indonesia yang sebelumnya telah menyiagakan 53 armada udara untuk pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Dari 53 armada tersebut, sebanyak 34 unit digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 unit lainnya digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Tiga Chinook Perkuat Pemadaman Udara
Helikopter CH-47 Chinook memiliki kemampuan angkut dan operasi yang memungkinkan penggunaannya untuk mendukung pemadaman dari udara, terutama di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sebelum diterjunkan dalam operasi, pemerintah memastikan kesiapan teknis dan keselamatan penerbangan melalui tahapan persiapan dan flight test.
Dukungan Jepang juga melibatkan sekitar 180 personel.
Dalam pelaksanaannya, TNI mengawasi aspek keamanan, flight clearance, penempatan Safety Officer, serta aspek operasional lainnya. Sementara koordinasi misi penerbangan dilakukan bersama BNPB.
Kerja sama tersebut merupakan bagian dari dukungan Indonesia-Jepang dalam bidang Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Kehadiran tiga Chinook tidak menggantikan armada nasional yang telah beroperasi. Armada tersebut akan diintegrasikan dengan keseluruhan operasi pengendalian karhutla berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
Hotspot Karhutla Nasional Naik
Penguatan operasi udara dilakukan ketika jumlah hotspot high confidence secara nasional mengalami peningkatan.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 21.15 WIB terdeteksi 688 hotspot high confidence.
Jumlah itu meningkat dibandingkan 569 titik pada 10 September 2026.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, yakni mencapai 271 titik, meningkat dari 96 titik.
Kalimantan Barat mencatat 51 titik, naik dari 39 titik. Sementara Kalimantan Selatan mencapai 47 titik, meningkat dari 9 titik.
Di Sumatera, kondisi relatif membaik. Sumatera Selatan mencatat 11 titik, turun dari 34 titik. Riau dan Jambi masing-masing tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan terakhir.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Manggala Agni dan Tim Gabungan Terus Bergerak
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.
Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta kondisi meteorologis.
Operasi Modifikasi Cuaca juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan.
Khusus pada ekosistem gambut, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan dilakukan secara berkelanjutan. Bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.
Asap Masih Ganggu Jarak Pandang
Pengendalian karhutla juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara dan sebaran asap.
Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada bagian tertentu di Kalimantan bahkan masih terpantau kategori berbahaya.
BMKG pada 11 September 2026 mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan masih bervariasi.
Di Pontianak, pemantauan BMKG di kawasan Pelabuhan Dwikora menunjukkan kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar 1–3 kilometer pada beberapa periode pengamatan.
Di Banjarmasin, kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer pada awal periode pengamatan kemudian membaik hingga sekitar 10 kilometer.
Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran.
Pemerintah karena itu menggunakan berbagai indikator secara bersamaan, mulai dari hotspot, kondisi api, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, hingga jarak pandang untuk menentukan prioritas penanganan.***
Armada CH-47 Chinook Milik Jepang Tiba di Kalimantan Barat, Bantu Padamkan Karhutla

Tiga helikopter CH-47 Chinook Jepang dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing karhutla di Kalimantan. ANTARA FOTO/Jessic a Wuysang/infopublik.id










