MAKLUMAT — PP Muhammadiyah resmi meluncurkan logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah pada Sabtu (12/9/2026). Sementara agenda Tanwir dan peringatan Milad ke-114 bakal dilangsungkan di Palu, Sulawesi Tengah, pada 19-21 November mendatang dengan mengusung tema besar “Bersama Satukan Bangsa”.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi mengatakan bahwa agenda tersebut akan diarahkan untuk menyikapi dinamika sosial dan politik dengan berlandaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Ia menjelaskan, tema yang diangkat dalam Tanwir Muhammadiyah tersebut berangkat dari pentingnya menjaga persatuan di tengah keragaman Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kata dia, merupakan modal penting dalam kehidupan berbangsa.
“Secara normatif dan realitas kita memang punya modal besar untuk terus bersatu dalam keragaman dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya saat peluncuran logo resmi Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Haedar mengatakan, prinsip tersebut penting dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial dan politik yang kerap memunculkan perbedaan pendapat secara tajam.
“Perbedaan pendapat yang tajam mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” tandas sosok yang juga Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.
Rumuskan Arah Strategis Muhammadiyah
Tak cuma itu, Haedar mengungkapkan bahwa Tanwir di Kota Palu juga akan membahas arah strategis Muhammadiyah untuk jangka panjang.
“Muhammadiyah ini sejak tahun 2000 itu punya program strategis lima tahun sampai 25 tahunan dan sekarang periodenya sudah habis, maka perlu dirumuskan,” ungkapnya.
Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah berbentuk dasar menyerupai daun kelor sebagai elemen utama. Daun kelor disebut merepresentasikan nilai kehidupan, ketahanan, dan kebermanfaatan, sekaligus menjadi salah satu ikon dan identitas khas Kota Palu yang lekat dengan kehidupan, budaya, serta potensi daerah.
Haedar mengaku turut terlibat dalam proses pembuatan logo tersebut. Unsur daun kelor dipilih sebagai simbol utama karena tanaman tersebut dapat tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
“Daun kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib yang bermakna kesederhanaan dan ketangguhan sesuai dengan gerakan Muhammadiyah,” jelasnya.
Menurut Haedar, karakter tanaman kelor yang sederhana dan mampu tumbuh dalam berbagai kondisi memiliki relevansi dengan karakter gerakan Muhammadiyah. Kesederhanaan tersebut, kata dia, tidak berarti kehilangan nilai maupun orientasi.
“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” tandasnya.
Selain menggambarkan kesederhanaan dan ketangguhan, daun kelor juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran karena memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat.
“Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” kata Haedar.
Bentuk daun kelor kemudian dipadukan secara dinamis dengan angka 114 berwarna emas, menyerupai tulang-tulang daun. Angka peringatan Milad tidak hanya menjadi penanda usia Muhammadiyah, tetapi juga menjadi bagian yang menyatu dengan identitas visual.
Angka 114 hadir sebagai bentuk yang tumbuh dari satu kesatuan daun, menggambarkan perjalanan Muhammadiyah yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
“Estetika dalam sebuah simbol tidak dapat dipisahkan dari nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Logo ini juga dipandang sebagai medium untuk memahami gagasan yang lebih luas,” tandas Haedar.
Unduh Logo Tanwir dan Milad ke 114 Muhammadiyah: KLIK DI SINI












