Muhammadiyah Tak Selebar Daun Kelor

MAKLUMAT — Ada sesuatu yang menarik dari daun kelor yang dipilih Muhammadiyah sebagai simbol Tanwir dan Milad ke-114. Ia bukan pohon yang megah. Tidak menjulang ke langit, seperti pohon jati, atau pohon lainnya, tidak pula menjadi simbol kemewahan.

Tetapi kelor tumbuh hampir di mana-mana, tahan terhadap keadaan, dan memiliki manfaat yang melampaui penampilannya yang sederhana.

Mungkin di situlah metafora penting bagi Muhammadiyah hari ini.

Menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Sumatera Utara pada 2027, pertanyaan terbesar Persyarikatan sesungguhnya bukan lagi seberapa besar Muhammadiyah telah tumbuh.

Ukuran itu sudah lama terjawab: sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga ekonomi, masjid, organisasi otonom, kader, dan jaringan dakwahnya membentang dari kota sampai pelosok negeri.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah: untuk apa semua kebesaran itu?

Muktamar tidak semestinya hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan dan penyusunan program.

Ia harus menjadi ruang untuk menguji apakah Muhammadiyah masih mampu membaca zaman tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Muktamar ke-49 akan berlangsung di Sumatera Utara, di lingkungan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Persiapannya bahkan telah bergerak jauh sebelum perhelatan berlangsung. PP Muhammadiyah telah meninjau lokasi sejak 2024, sementara pembangunan berbagai fasilitas Muktamar terus dipersiapkan.

Namun, gedung yang megah bukanlah ukuran kemajuan. Gedung hanya benda. Yang menentukan masa depan Muhammadiyah adalah gagasan yang lahir di dalamnya.

Haedar Nashir mengingatkan bahwa identitas organisasi memiliki nilai yang sentral, bertahan dan membedakan.

Dalam teori organisasi Albert dan Whetten, identitas memang dibangun dari apa yang dianggap paling pokok, relatif menetap, sekaligus membedakan sebuah organisasi dari yang lain.

Bagi Muhammadiyah, nilai sentral itu adalah Islam dan gerakan pembaruan.

Karena itu, kemajuan tidak boleh dimaknai sebagai sekadar kemampuan Muhammadiyah mengikuti perubahan teknologi, ekonomi, dan politik.

Kemajuan harus berarti kemampuan mengubah nilai menjadi jawaban atas persoalan manusia. Maka, sinilah letak gagasan Islam Berkemajuan memiliki urgensi-nya, dan didudukkan pada persoalan yang lebih substansial.

Baca Juga  Din Syamsuddin: Bung Karno Tokoh Muslim dan Nasionalis, Padukan Wawasan Kebangsaan dan Keislaman

Muhammadiyah sejak awal bukan organisasi yang dibangun untuk sekadar mempertahankan keadaan.

Ahmad Dahlan membaca problem umat pada zamannya lalu menjawabnya dengan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pembaruan pemikiran keagamaan.

Dalam bahasa sejarah, Muhammadiyah lahir dari keberanian membaca kenyataan. Tantangan abad kedua tentu berbeda.

Dulu problemnya adalah kebodohan, keterbelakangan pendidikan dan kemiskinan.

Kini Muhammadiyah berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks: kecerdasan buatan, disrupsi pendidikan, krisis ekologis, ketimpangan ekonomi, perubahan demografi, kesehatan mental, budaya digital, politik identitas, dan generasi muda yang semakin jauh dari struktur organisasi konvensional.

Maka ukuran kemajuan Muhammadiyah tidak cukup lagi dihitung dari berapa jumlah sekolah atau rumah sakit yang dimiliki.

Yang lebih penting adalah apakah sekolah Muhammadiyah melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis sekaligus beriman; apakah universitasnya menghasilkan ilmu yang menyelesaikan persoalan bangsa;

Apakah rumah sakitnya menghadirkan pelayanan yang manusiawi; apakah ekonominya mampu menciptakan kemandirian; dan apakah dakwahnya masih menemukan bahasa yang dipahami generasi TikTok, Instagram, YouTube, dan media sosial lainnya.

Manuel Castells, dalam kajiannya mengenai network society, menunjukkan bahwa kekuasaan dan perubahan sosial modern semakin bergerak melalui jaringan informasi.

Dalam masyarakat seperti ini, organisasi yang terlalu bergantung pada struktur hierarkis akan mudah kehilangan daya pengaruh.

Muhammadiyah memiliki modal yang sebenarnya luar biasa: jaringan. Tetapi jaringan itu harus diubah menjadi pengetahuan, inovasi, kolaborasi dan pelayanan publik.

Di sinilah metafora daun kelor kembali menemukan relevansinya.

Kelor sederhana, tetapi memiliki banyak manfaat. Muhammadiyah pun seharusnya demikian: tidak terjebak pada kemegahan simbol, tetapi memperbesar manfaat.

Haedar menyebut tiga makna penting kelor: kesederhanaan dan daya tahan, keluasan, serta kemanfaatan bagi kesejahteraan.

Baca Juga  Islam Berkemajuan Jadi Panduan Hadapi Tantangan Peradaban Modern

Ketiganya sebenarnya dapat dibaca sebagai agenda Muhammadiyah menjelang Muktamar ke-49.

Pertama, kesederhanaan.

Muhammadiyah perlu kembali bertanya apakah pertumbuhan organisasinya selalu berbanding lurus dengan kedalaman gerakannya.

Besarnya amal usaha tidak boleh membuat Persyarikatan kehilangan kesederhanaan moral. Organisasi yang besar justru harus semakin rendah hati.

Kesederhanaan bukan kemunduran. Ia adalah kemampuan membedakan kebutuhan dari gengsi.

Kedua, keluasan.

Ungkapan “dunia tak selebar daun kelor” justru dapat dibalik menjadi filosofi kosmopolitanisme Muhammadiyah.

Dunia Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada ruang internal Persyarikatan.

Ia harus terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dialog antaragama, perkembangan global dan problem kemanusiaan.

Dalam konteks ini, pemikiran Abdul Mu’ti tentang kosmopolitanisme Islam relevan: Islam tidak harus menjadi kecil karena berakar pada tradisi.

Justru karena memiliki akar, ia dapat berinteraksi secara percaya diri dengan dunia.

Ketiga, kemanfaatan.

Inilah ujian paling konkret.

Muhammadiyah tidak boleh puas menjadi organisasi yang besar di atas kertas. Ia harus terasa manfaatnya dalam kehidupan.

Petani harus merasakan kehadiran Muhammadiyah. Buruh harus merasakan manfaatnya. Anak muda harus menemukan ruang aktualisasi.

Perempuan harus memperoleh ruang kepemimpinan. Masyarakat miskin harus menemukan pelayanan.

Bahkan kelompok yang berbeda keyakinan pun semestinya mengenal Muhammadiyah sebagai kekuatan kemanusiaan.

Dengan kata lain, Islam Berkemajuan harus turun dari dokumen menjadi pengalaman sosial.

Tanwir 2026 di Palu menjadi penting dalam konteks ini. Tanwir tersebut disebut sebagai Tanwir terakhir periode 2022–2027 sebelum Muktamar ke-49, dan akan menjadi ruang penting untuk merumuskan agenda Muhammadiyah menuju masa depan.

Maka Medan tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpulnya para muktamirin. Sumatera Utara harus menjadi ruang lahirnya pertanyaan besar:

Muhammadiyah hendak menjadi apa dalam 20 atau 25 tahun mendatang?

Pertanyaan itu penting karena organisasi yang panjang umur belum tentu selalu muda dalam pikiran.

Muhammadiyah telah melewati lebih dari satu abad. Tantangannya sekarang bukan mempertahankan usia, melainkan mempertahankan daya hidup.

Baca Juga  Sidang Tanwir I Putuskan Tambah 5 Anggota PP Muhammadiyah

Jangan sampai organisasi menjadi tua secara kelembagaan sebelum sempat menjadi matang secara pemikiran.

Muktamar ke-49 karena itu seharusnya tidak terjebak pada pertanyaan siapa yang memimpin. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah gagasan apa yang memimpin Muhammadiyah setelah Muktamar?

Siapa pun yang berada di pucuk kepemimpinan harus bekerja dalam sebuah ekosistem gagasan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Muktamar harus menghasilkan keberanian untuk melakukan koreksi: mana yang masih relevan, mana yang harus dihentikan, mana yang harus diperbarui, dan mana yang harus diperluas.

Sebab Persyarikatan bukan museum sejarah Ahmad Dahlan. Muhammadiyah adalah gerakan yang mewarisi semangat pembaruan Ahmad Dahlan untuk menjawab zamannya sendiri.

Karena itu, filosofi kelor sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih dalam. Ia mengajarkan bahwa sesuatu tidak menjadi penting karena tampak besar.

Ia menjadi penting karena tahan hidup, luas manfaatnya, dan mampu memberi kehidupan kepada yang lain.

Itulah barangkali ukuran Muhammadiyah yang berkemajuan.

Bukan sekadar berapa banyak gedung yang dibangun, tetapi berapa banyak manusia yang tercerahkan. Bukan sekadar berapa banyak amal usaha yang dimiliki, tetapi berapa banyak persoalan kemanusiaan yang diselesaikan.

Bukan sekadar seberapa besar organisasi berkembang, tetapi seberapa jauh nilai Islam mampu menjadi energi perubahan.

Dan ketika para muktamirin nanti berkumpul di Sumatera Utara, mungkin pertanyaan paling penting bukanlah bagaimana membuat Muhammadiyah semakin besar.

Melainkan: bagaimana membuat Muhammadiyah semakin berarti.

Sebab daun kelor mengajarkan satu hal sederhana: yang kecil dapat memiliki manfaat besar.

Dan mungkin itulah wajah Muhammadiyah yang paling dibutuhkan masa depan—tidak kehilangan akar, tidak takut menjadi luas, dan tidak pernah berhenti memberi manfaat.

 

*) Penulis adalah Wartawan, Pemerhati Kebijakan Publik pada LHKP-PWM Jawa Tengah.***