105 Tahun Muhammadiyah Surabaya: Dinamika Mobilitas Kader dan Penguatan Modal Sosial Persyarikatan

Penulis: M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd. *)

MAKLUMAT — Ada satu hal yang menurut saya menarik untuk direnungkan ketika kita berbicara tentang perkembangan Muhammadiyah di Surabaya: siapa sebenarnya yang ikut membesarkan persyarikatan ini?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika kita mencoba melihat lebih dekat, jawabannya tidak  sesederhana menyebut nama para pendiri, pimpinan atau bahkan orang-orang yang selama ini aktif dalam organisasi. Perkembangan Muhammadiyah di Surabaya juga tidak terlepas dari pertemuaan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada warga asli Surabaya, ada kader yang datang dari berbagai daerah, dan ada pula masyarakat luas yang meskipun tidak menjadi bagian dari Muhammadiyah, turut memberikan kepercayaan dan dukungan. Barangkali di situlah salah satu sisi menarik dari perjalanan Muhammadiyah di kota ini.

Pada 2026, Muhammadiyah Surabaya memasuki usia 105 tahun, jika dihitung dari pengesahannya sebagai cabang pada 1921. Sebuah perjalanan yang tentu tidak singkat. Selama lebih dari satu abad, persyarikatan ini tumbuh di tengah perubahan wajah kota, dinamika masyarakat dan berbagai tantangan kehidupan perkotaan.

Tetapi, usia panjang sebuah organisasi tidak cukup hanya dibaca melalui catatan sejarah. Kita juga perlu melihat bagaimana gerakan itu bertahan, siapa saja yang ikut menghidupkannya, dan bagaimana ia terus menemukan ruang pengabdian di tengah masyarakat yang lekat dengan kultur atau budaya khas Jawa.

Kota yang Mempertemukan Banyak Pengalaman

Surabaya adalah kota besar yang sejak lama menjadi tujuan orang untuk bekerja, belajar, berdagang dan membangun kehidupan. Orang datang dari berbagai daerah, menetap, kemudian menjadi bagian dari kehidupan kota. Perpindahan semacam ini bukan sekedar cerita yang kita dengar sehari-hari. Data Pemerintah Kota Surabaya memperlihatkan betapa dinamisnya mobilitas penduduk tersebut.

Pada 2024, jumlah penduduk Surabaya tercatat sekitar 3 juta jiwa. Dalam tahun yang sama, data administrasi kependudukan mencatat 75.044 penduduk pindah masuk dan 83.197 penduduk pindah keluar. Angka ini menunjukkan bahwa Surabaya bukan hanya kota tempat orang menetap, tetapi juga ruang yang terus mengalami pergerakan penduduk.

Tentu, angka perpindahan tersebut tidak semuanya berasal dari luar Surabaya. Data administrasi itu juga mencakup perpindahan dalam wilayah kota. Karena itu, kita tidak bisa menggunakannya untuk menyimpulkan berapa banyak pendatang dari luar daerah, apalagi berapa banyak di antaranya yang merupakan kader Muhammadiyah. Namun, data tersebut cukup memberi gambaran tentang dinamika sosial kota yang menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang manusia.

Di antara orang-orang yang datang itu, ada yang membawa pengalaman organisasi dari daerah asalnya. Mereka mungkin sebelumnya aktif di ranting, cabang, majelis, organisasi otonom, atau amal usaha Muhammadiyah di kampung halaman. Ada yang tumbuh dari keluarga Muhammadiyah, ada pula yang sejak muda telah terbiasa terlibat dalam kegiatan persyarikatan.

Ketika kemudian pindah ke Surabaya karena pekerjaan atau alasan kehidupan lainnya, pengalaman itu tidak serta-merta hilang. Mereka tetap membawa cara pandang, kebiasaan berorganisasi, jaringan pertemanan, dan semangat pengabdian yang telah tumbuh sebelumnya.

Di sinilah kita perlu melihat perpindahan penduduk dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Perpindahan manusia bisa saja sekaligus menjadi perpindahan pengalaman dan potensi. Seseorang yang datang ke Surabaya bukan selalu orang yang harus memulai semuanya dari awal. Bisa jadi, ia justru membawa bekal pengalaman yang dapat memperkuat kehidupan persyarikatan di tempat barunya.

Baca Juga  Tiga Roh Gerakan Muhammadiyah Hingga Mampu Melintas Zaman Menurut Wamen Haji dan Umrah

Pengabdian yang Tidak Berhenti di Kampung Halaman

Dalam kehidupan berMuhammadiyah, kita bisa menjumpai orang-orang yang setelah menetap di Surabaya berusaha mencari kembali lingkungan persyarikatannya. Ada yang mendatangi kantor pimpinan cabang atau ranting, menghubungi tokoh Muhammadiyah yang lebih dahulu tinggal di Surabaya, mencari informasi tentang pengajian, atau bahkan datang ke amal usaha untuk mengetahui kegiatan yang bisa diikuti.

Sebagian dari mereka kemudian terlibat dalam kegiatan organisasi. Ada yang menyumbangkan tenaga dan pemikiran, ada yang dipercaya mengemban amanah kepemimpinan, ada pula yang berkontribusi dalam pengembangan amal usaha. Tidak semuanya harus menjadi pimpinan atau menduduki jabatan tertentu. Kehadiran orang yang bersedia datang ke pengajian, membantu kegiatan ranting atau ikut menggerakkan aktivitas sosial pun merupakan bagian dari pengabdian. Saya kira, ini adalah modal yang tidak kecil bagi Muhammadiyah Surabaya.

Kader yang datang dari daerah lain tidak seharusnya hanya dipandang sebagai orang baru yang perlu menyesuaikan diri. Mereka mungkin memang perlu mengenal lingkungan setempat, memahami karakter masyarakat Surabaya, dan membangun hubungan dengan warga Muhammadiyah yang sudah lebih dahulu berkiprah. Namun, pengalaman yang mereka bawa juga patut dilihat sebagai kekuatan.

Tentu, hal ini tidak berarti bahwa perkembangan Muhammadiyah Surabaya merupakan hasil kerja para pendatang semata. Warga asli Surabaya memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesinambungan gerakan. Mereka yang telah lama berjuang di ranting, menghidupkan masjid, mengelola amal usaha, membina generasi dan merawat hubungan dengan masyarakat setempat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan persyarikatan.

Yang menarik justru perjumpaan keduanya. Pengalaman lokal bertemu dengan pengalaman dari luar. Kader yang telah lama tinggal di Surabaya bertemu dengan kader yang baru datang. Dari perjumpaan semacam inilah seharusnya muncul kekuatan baru. Mungkin kita perlu mulai membiasakan diri melihat kader bukan semata-mata dari asal daerahnya, tetapi dari pengalaman, kemampuan, komitmen dan kesediaannya untuk berkontribusi.

Ada data organisasi yang menarik untuk dikomparasikan. Dalam rekapitulasi Amal Usaha Muhammadiyah se-Jawa Timur yang dipublikasikan Lazismu Jawa Timur, Surabaya tercatat memiliki 29 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan 128 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM). Sementara itu, Lamongan tercatat memiliki 27 PCM dan 363 PRM. Saya membandingkan dengan Lamongan karena disanalah kampung halaman saya. Paling tidak saya mengetahui dinamika, potensi dan tantangan dalam berMuhammadiyah ala warga Lamongan.

Angka tersebut tentu perlu dibaca dengan hati-hati karena tahun pemutakhiran dan metode pendataannya tidak dijelaskan secara terperinci. Namun, sebagai gambaran, data itu memperlihatkan sesuatu yang menarik, yaitu jumlah cabang Surabaya dan Lamongan tidak terpaut jauh, tetapi jumlah ranting yang tercatat berbeda cukup besar. Apa maknanya? angka tersebut mengingatkan kita bahwa perkembangan organisasi tidak selalu bisa dibaca dari satu ukuran. Jumlah cabang, jumlah ranting, banyaknya amal usaha, dan luasnya pelayanan merupakan indikator yang berbeda. Sebuah daerah bisa memiliki jaringan ranting yang luas, sementara daerah lain memiliki karakter perkembangan amal usaha dan kehidupan perkotaan yang berbeda.

Pengalaman saya mengenal Muhammadiyah di Lamongan memperlihatkan bagaimana kehidupan ranting dapat tumbuh sangat dekat dengan masyarakat desa atau akar rumput (grassroot). Di beberapa tempat, keberadaan PRM bahkan terasa sampai tingkat dusun (bagian wilayah pemerintahan suatu desa). Ranting tidak hanya menjadi nama dalam struktur organisasi, tetapi hadir melalui masjid, pengajian, kegiatan sosial dan amal usaha yang dikelola bersama warga.

Baca Juga  AUM dan Risalah Islam Berkemajuan

Pertumbuhan semacam itu tentu tidak selalu mudah. Ada amal usaha yang berkembang secara perlahan karena mengandalkan kemampuan ekonomi jamaah yang terbatas. Tetapi, di sisi lain, ada semangat gotong royong dan militansi warga yang menjadi kekuatan tersendiri.

Surabaya memiliki tantangan yang berbeda. Sebagai kota metropolitan, kehidupan masyarakatnya lebih dinamis, mobilitas penduduk tinggi, dan kebutuhan sosial semakin beragam. Karena itu, kita tidak perlu membandingkan Surabaya dan Lamongan untuk menentukan mana yang lebih baik. Keduanya memiliki konteks dan tantangan masing-masing.

Justru perbandingan itu dapat menjadi bahan belajar. Surabaya dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menghidupkan basis organisasi hingga tingkat ranting, sementara daerah lain juga dapat belajar dari pengalaman pengelolaan amal usaha dan pelayanan perkotaan yang berkembang di Surabaya.

Kepercayaan Datang dari Luar Persyarikatan

Ada satu hal lain yang tidak kalah menarik, yaitu dukungan masyarakat yang tidak selalu berasal dari warga Muhammadiyah sendiri.

Dalam beberapa pengalaman pengembangan amal usaha, dukungan masyarakat bisa datang dari orang-orang yang tidak aktif dalam kegiatan persyarikatan. Mereka mungkin tidak rutin mengikuti pengajian Muhammadiyah, tidak memiliki jabatan organisasi bahkan bukan sebagai anggota. Namun, ketika melihat sebuah lembaga memiliki tujuan dan manfaat yang jelas, mereka bersedia memberikan dukungan.

Saya teringat pada cerita pembangunan amal usaha di kecamatan Rungkut yang memperoleh dukungan dana dari para donatur dan dapat dibangun tanpa mengandalkan pinjaman bank. Di antara dukungan tersebut, ternyata banyak aghniya’ dan muhsisnin yang tidak selalu berada dalam lingkaran kegiatan Muhammadiyah. Tentu kita juga tidak melupakan kontribusi dan perjuangan Pimpinan dalam pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah, apapun dan bagaimanapun caranya yang penting halal/boleh dilakukan (tidak melanggar syariat).

Dari sana kita tahu bahwa kepercayaan tidak selalu tumbuh karena kesamaan identitas organisasi. Seseorang bisa saja tidak menjadi bagian dari Muhammadiyah, tetapi percaya kepada lembaga pendidikan, kesehatan atau sosial yang dikelolanya. Ia memberikan dukungan bukan karena merasa memiliki ikatan struktural, melainkan karena melihat manfaat dan meyakini bahwa lembaga tersebut layak didukung.

Di sinilah kita dapat memahami bahwa amal usaha Muhammadiyah sesungguhnya memiliki hubungan yang lebih luas daripada sekadar hubungan internal organisasi. Ia berada di tengah masyarakat dan melayani kebutuhan masyarakat. Kepercayaan seperti ini menjadi modal sosial yang sangat berharga. Tetapi, modal tersebut juga membawa tanggung jawab. Ketika masyarakat telah memberikan kepercayaan, Muhammadiyah perlu menjaganya melalui pelayanan yang baik, tata kelola yang transparan dan menjaga integritas. Jangan sampai kepercayaan masyarakat hanya dipandang sebagai sumber dukungan ketika lembaga membutuhkan bantuan. Kepercayaan itu harus dijawab dengan manfaat yang benar-benar dirasakan. Dan Jangan lupa untuk selalu memberikan kesempatan bagi kader untuk bergabung dan berkontribusi di AUM, sebab merekalah yang akan meneruskan perjuangan dalam mengembangkan “rumah” ideologis kita.

Pertumbuhan Perlu Diikuti Kemauan Merawat

Melihat berbagai kekuatan tersebut, kita tentu patut bersyukur atas perkembangan Muhammadiyah Surabaya. Namun, Milad ke-105 juga merupakan kesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin tidak selalu nyaman, tetapi penting untuk direnungkan.

Apakah pertumbuhan amal usaha telah berjalan seiring dengan penguatan kehidupan ranting? Apakah kader yang tumbuh dan yang datang dari berbagai daerah mendapatkan ruang pengabdian yang memadai? Apakah pengalaman dan komitmen mereka telah menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses kaderisasi dan pengelolaan AUM? dan Bagaimana pula hubungan antara kaderisasi dan profesionalisme dalam pengelolaan amal usaha?

Baca Juga  Muhammadiyah Sampang Bentuk PCM Jrengik, Jadi Cabang ke-13

Pertanyaan terakhir ini penting. Amal usaha Muhammadiyah membutuhkan tenaga-tenaga profesional yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Kualitas pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial tidak boleh dikorbankan hanya karena pertimbangan kedekatan organisasi. Namun, di sisi lain, rekam jejak pengabdian, komitmen dan pemahaman terhadap nilai-nilai persyarikatan juga merupakan hal yang patut diperhitungkan.

Profesionalisme dan militansi seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling meniadakan. Keduanya justru perlu saling menguatkan. Sebuah lembaga membutuhkan orang yang mampu bekerja dengan baik, tetapi juga perlu memastikan bahwa orientasi kerjanya tidak terlepas dari nilai dan tujuan yang melandasi keberadaan dan nilai lembaga tersebut. Sebaliknya, semangat pengabdian saja tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan dan tanggung jawab profesional.

Demikian pula dengan kekuatan organisasi. Banyaknya amal usaha tentu membanggakan, tetapi kehidupan persyarikatan tidak boleh berhenti pada urusan mengelola bangunan dan lembaga. Pengajian, pembinaan kader, aktivitas ranting dan kedekatan dengan masyarakat tetap menjadi bagian penting dari denyut gerakan. Jangan sampai kita terlalu sibuk membesarkan institusi, tetapi kurang memberi perhatian pada orang-orang yang menghidupkan gerakan dari bawah.

Bertambah Usia, Memperluas Cara Pandang

Pada akhirnya, perjalanan 105 tahun Muhammadiyah Surabaya bukan hanya cerita tentang usia dan capaian. Ia juga merupakan cerita tentang banyak orang yang telah mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. Ada warga lokal yang menjaga kesinambungan. Ada kader dari berbagai daerah yang datang membawa pengalaman dan semangat pengabdian. Ada pula masyarakat luas yang memberikan kepercayaan, meskipun tidak selalu berada dalam struktur persyarikatan.

Masing-masing memiliki peran yang tidak harus diseragamkan. Tidak semua orang harus menjadi pimpinan. Tidak semua orang harus menjadi anggota. Tidak semua bentuk kontribusi harus terlihat dalam struktur organisasi. Ada yang mengabdi melalui tenaga, pemikiran, keahlian, dukungan dana dan ada pula yang memberikan kepercayaan melalui kehadiran serta partisipasinya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita melihat perkembangan Muhammadiyah Surabaya dengan pandangan yang lebih luas. Bukan hanya bertanya berapa banyak amal usaha yang telah dibangun, berapa banyak ranting yang terbentuk, atau siapa yang menduduki posisi kepemimpinan. Kita juga perlu bertanya seberapa besar ruang yang tersedia bagi setiap orang untuk berkontribusi, seberapa peduli pimpinan dengan kadernya, seberapa kuat hubungan persyarikatan dengan masyarakat dan seberapa baik kepercayaan yang telah diberikan itu dirawat.

Milad bukan hanya kesempatan untuk merayakan apa yang telah berhasil dicapai. Ia juga menjadi ruang untuk mengingat bahwa setiap capaian selalu menyisakan pekerjaan yang perlu dilanjutkan. Seratus lima tahun adalah perjalanan yang panjang. Tetapi, usia panjang tidak dengan sendirinya menjamin kematangan. Kematangan justru terlihat dari kemampuan sebuah gerakan untuk belajar, membuka diri, menghargai kontribusi siapa pun dan terus memperbaiki cara kerjanya.

Pada akhirnya, Muhammadiyah Surabaya akan semakin kuat bukan hanya ketika amal usahanya semakin besar, tetapi ketika semakin banyak kader merasa memiliki tempat untuk berkhidmat, semakin luas masyarakat merasakan manfaatnya dan semakin terjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Waallahu a’lam.***

Penulis: M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd.

Wakabid. Dakwah PC PM Rungkut