Dari Restoran Gourmet ke Pasar, Kemenpar Perluas Cara Promosikan Kuliner Indonesia

kuliner

MAKLUMAT — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperluas pendekatan dalam mempromosikan gastronomi Indonesia. Jika Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2025 banyak memperkenalkan gourmet dining scene, penyelenggaraan WIG 2026 mulai membawa kuliner sehari-hari masyarakat ke dalam peta gastronomi yang ingin dikenalkan kepada dunia.

Perubahan itu terlihat dari cakupan program tahun ini. Kemenpar bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN) tidak hanya mengangkat restoran yang telah dikurasi, tetapi juga memperkenalkan rumah makan, kedai, pasar, dan pusat kuliner yang merepresentasikan budaya makan masyarakat di berbagai daerah.

“Bagi kami, gastronomi bukan semata tentang apa yang tersaji di atas piring. Gastronomi adalah sebuah cara untuk memahami dari mana kita berasal, bagaimana masyarakat kita menjalani kehidupan, serta apa yang menjadikan setiap daerah di Indonesia begitu khas dan berbeda,” ujar Ketua Indonesia Gastronomy Network Vita Datau.

Melalui WIG 2026, pendekatan tersebut diterjemahkan ke dalam tema “From Local Roots to Global Recognition”. Rangkaian utama kegiatan berlangsung di Solo dan Yogyakarta pada 26 September–4 Oktober 2026, dengan kegiatan pendukung di sejumlah kota, termasuk Jakarta, Bali, Semarang, dan Surabaya.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Indonesia memiliki kekayaan gastronomi yang terbentuk dari tradisi lokal, hasil pertanian, serta budaya yang berkembang selama berabad-abad. Kekayaan tersebut menurutnya membentuk ekosistem yang melibatkan banyak pihak, mulai dari petani, peternak, nelayan, produsen, juru masak, pelaku usaha hingga masyarakat yang menjaga tradisi pangan.

Baca Juga  Kuliner Jadi Ruang Diplomasi Indonesia-Prancis di WIG 2026

“Inilah salah satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata, yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat,” ujar Widiyanti, melansir laman resmi Kemenpar, Selasa (15/9/2026).

Karena itu, WIG 2026 tidak berhenti pada pengalaman bersantap di restoran. Program tersebut juga mengajak peserta melihat asal-usul bahan dan hidangan, kearifan lokal, tradisi, serta filosofi yang berada di balik makanan.

Pendekatan itu juga terlihat dari peluncuran Indonesia Gourmet Guide dan Indonesia Local Eateries pada September 2026. Jika Indonesia Gourmet Guide memasuki edisi kedua dengan ulasan restoran terkurasi, Indonesia Local Eateries memperluas perhatian ke tempat makan yang dekat dengan keseharian masyarakat.

WIG 2026 juga mengundang 18 perwakilan media dan tastemakers, yang terdiri atas 13 peserta internasional dan lima media nasional. Perwakilan internasional tersebut antara lain berasal dari Forbes Travel Guide, La Liste, The World’s 50 Best, dan CNN International.

“Kami ingin terus memberikan ruang bagi pelestarian, pengembangan, dan promosi kekayaan tersebut dari tahun ke tahun,” kata Widiyanti.

Promosi gastronomi juga diarahkan pada aktivitas ekonomi. Melalui Chef Collaboration sepanjang Oktober 2026, sejumlah chef, hotel, restoran, dan pelaku industri kreatif akan menghadirkan pengalaman gastronomi khusus. Program itu diharapkan dapat mendorong kunjungan dan transaksi di sektor pariwisata.

Baca Juga  Inilah 10 Top KEN 2025, Perayaan Budaya dan Kreativitas Indonesia

Sementara itu, Artisan Market di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, pada 2–4 Oktober 2026 akan menghadirkan 21 tenant dari wilayah Joglosemar dan Jakarta. Produk yang ditawarkan mencakup keju artisanal, madu, teh, serta berbagai produk gastronomi lokal, dengan target hingga 1.300 pengunjung.

Vita mengatakan pendekatan tersebut diperlukan agar gastronomi Indonesia tidak berhenti sebagai bahan promosi. Menurutnya, kekayaan kuliner perlu dikenalkan melalui orang, bahan pangan, tradisi, dan cerita yang membentuknya.

“Dari seluruh penjuru Nusantara, setiap daerah memiliki bahan pangan, rempah, tradisi memasak, dan kisahnya sendiri yang terbentuk oleh bentang alam, sejarah, serta budaya masyarakat,” jelasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki