MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, mengingatkan bahaya dari kebiasaan nunut jeneng, yakni fenomena di mana seseorang yang namanya tercantum dalam kepengurusan, tetapi tidak aktif menjalankan amanah.
Pesan itu disampaikan Sukadiono saat menghadiri Pelantikan Pimpinan Wilayah (PW) IPM Jawa Timur periode 2026–2028 di Aula KH Mas Mansyur, Kantor PWM Jawa Timur, Kamis (17/9/2026).
Ia menyampaikan pesan tersebut setelah memberikan selamat kepada Mohammad Yuda Wahyu Saputra dan seluruh jajaran PW IPM Jawa Timur yang baru dilantik.
“IPM jangan sampai wis pokoke nunut jeneng, bahasanya gitu. Hanya numpang nama saja, ‘yang penting saya PW IPM’. Padahal tanpa kerja keras, sesorang tidak akan sukses,” kata Sukadiono.
Istilah nunut jeneng itu ia gunakan untuk menggambarkan pengurus yang sekadar tercantum dalam struktur. Jabatan tersebut, menurutnya, harus diikuti kerja nyata agar organisasi dapat menjalankan program dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sukadiono menilai kerja keras menjadi bagian penting dari amanah kepengurusan. Ia mendorong kader IPM untuk rajin belajar, membangun jejaring, serta terus memperbarui ilmu dan wawasan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak akan muncul jika pengurus tidak sungguh-sungguh bekerja.
“Kalau kita ini belum sukses dalam ngurusi organisasi, berarti kita ini belum bekerja keras. Maka kunci kesuksesan adalah kerja keras,” ujarnya.
Selain kerja keras, Sukadiono menempatkan keikhlasan sebagai dasar dalam mengurus organisasi Muhammadiyah. Menurutnya, pengurus yang ikhlas akan lebih siap menghadapi dinamika organisasi dan tidak mudah mengeluhkan amanah yang dijalankan.
“Ngurus organisasi di Muhammadiyah itu kunci yang pertama adalah keikhlasan. Orang itu kalau ikhlas tidak akan ada yang namanya mengeluh,” jelasnya.
Ia mengingat pengalaman kader IPM ketika melakukan turba ke berbagai daerah pada masa lalu. Saat itu, perjalanan harus ditempuh dengan fasilitas transportasi yang lebih terbatas dibandingkan sekarang. Kondisi tersebut tidak menjadi persoalan selama aktivitas organisasi dijalankan dengan keikhlasan.
Sukadiono mengatakan fasilitas yang lebih baik juga tidak otomatis membuat seseorang berhenti mengeluh. Baginya, sikap dalam menjalankan amanah lebih menentukan daripada fasilitas yang diterima pengurus.
“Jadi kadang kala meskipun kalau orang itu enggak ikhlas difasilitasi apa saja tetap mengeluh. Kalau dalam dirinya itu enggak ikhlas, itu mesti akan mengeluh,” katanya.
Sukadiono kemudian mengingatkan pengurus IPM untuk menjaga akhlak, adab, dan etika. Ia menilai hal tersebut penting karena IPM merupakan organisasi yang berada dalam lingkungan gerakan dakwah Muhammadiyah.
Ia mengatakan kepribadian pengurus akan berpengaruh terhadap kepercayaan orang lain. Karena itu, kader perlu memperhatikan cara berkomunikasi dan berinteraksi ketika menjalankan aktivitas organisasi.
“Akhlak kita itu harus menjadi hal yang dinomorsatukan. Jaga akhlak kita. Akhlak sebagai seorang pelajar, akhlak sebagai pengurus Persyarikatan Muhammadiyah, akhlak sebagai pimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, personality kita itu harus betul-betul dijaga,” kata Sukadiono.
Menurutnya, kepercayaan menjadi modal penting bagi kader ketika mengajak orang lain mengikuti kegiatan organisasi maupun menyampaikan pesan dakwah. Ia meminta pengurus menjaga kepribadian agar amanah yang dijalankan mendapat kepercayaan dari lingkungan sekitar.
“Personality, akhlak, adab, etika itu menjadi hal yang sangat penting. Maka bil-hikmah wal-mau’idhatil-hasanah itu menjadi hal yang harus kita utamakan manakala kita berada di dalam sebuah organisasi Islam yang bergerak di bidang dakwah, amar makruf nahi mungkar,” pungkasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













