Hari Santri 2026: Panggilan untuk Santri Saatnya Menyelamatkan Generasi

santri

MAKLUMAT — Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Tahun 2026, peringatan ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Sebuah tema yang bukan hanya slogan seremonial, melainkan panggilan untuk menegaskan kembali peran santri dalam membangun masa depan bangsa.

Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan secara kritis dimana di tengah perubahan zaman dan kompleksitas persoalan kaum muda, sudah sejauh mana santri hadir sebagai penjaga peradaban dan moralitas generasi? Pertanyaan ini penting sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kualitas manusia yang mengisinya.

Generasi muda yang kehilangan arah, mengalami krisis identitas atau terjebak dalam perilaku berisiko merupakan tantangan serius bagi keberlanjutan peradaban. Di sinilah santri seharusnya mengambil peran lebih besar, dimana bukan hanya menjadi pewaris tradisi keislaman, melainkan turut membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, berdaya dan memiliki kepedulian sosial.

Islam dan Tantangan Generasi Z

Islam tidak pernah memandang generasi muda semata-mata sebagai objek nasihat. Mereka adalah subjek perubahan, pemilik potensi, sekaligus penerus tanggung jawab peradaban. Sejarah Islam memberikan pelajaran bahwa perubahan besar sering kali bertumpu pada keberanian anak-anak muda yang memiliki keyakinan, ilmu dan integritas.

Sayangnya, dinamika generasi muda hari ini tidak sesederhana itu. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi, budaya digital, tekanan pergaulan dan perubahan nilai yang berlangsung cepat. Dunia digital membuka ruang belajar dan kreativitas, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, perundungan, tekanan sosial dan normalisasi perilaku berisiko.

Kita menyaksikan perbincangan publik mengenai kebiasaan merokok di kalangan remaja, pergaulan seksual yang tidak aman, konsumsi alkohol, hingga penyalahgunaan narkoba. Pada saat yang sama, persoalan kesehatan mental, kesepian, kecemasan, perundungan dan risiko bunuh diri juga menuntut perhatian serius.

Masalah-masalah tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai bukti bahwa generasi muda telah kehilangan moralitas. Ada persoalan keluarga, lingkungan pergaulan, pendidikan, tekanan ekonomi hingga akses terhadap dukungan psikologis yang turut memengaruhi kehidupan mereka.

Baca Juga  FKPT Jatim dan BNPT Gelar Digital Peace Creator 2026: Siapkan Generasi Muda Jadi Produsen Narasi Damai

Karena itu, respons kita tidak cukup berhenti pada kecaman. Anak muda membutuhkan pendampingan, keteladanan, ruang aman untuk bercerita, pendidikan kesehatan yang memadai dan lingkungan sosial yang membantu mereka mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Di sinilah Islam harus hadir sebagai sumber nilai sekaligus jalan pemecahan masalah. Ajaran Islam tentang kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan terhadap martabat manusia dan kewajiban saling menolong semestinya diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Dakwah tidak cukup hanya mengingatkan seseorang tentang kesalahan, tetapi juga membantu menemukan jalan untuk memperbaiki keadaan.

Belajar dari Baitul Arqam

Jauh sebelum berbagai lembaga pendidikan modern berkembang, Rasulullah saw. telah memberikan pelajaran penting tentang bagaimana mempersiapkan generasi. Pada masa awal dakwah Islam, Dar al-Arqam atau Baitul Arqam menjadi tempat kaum Muslim belajar, memperkuat keimanan, membangun solidaritas dan menyiapkan diri menghadapi tantangan masyarakat. Terlebih lagi penegasan bahwa generasi zaman harus di siapkan.

Di tempat itulah pembinaan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter, keteguhan prinsip dan keberanian memperjuangkan kebenaran. Generasi awal Islam dipersiapkan agar mampu membawa nilai-nilai yang diyakininya ke tengah masyarakat.

Pelajaran ini sangat relevan untuk direnungkan pada Hari Santri 2026. Jika Rasulullah menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan masyarakat, apa yang sedang kita siapkan melalui pesantren hari ini?

Apakah pesantren hanya melahirkan generasi yang mampu membaca kitab, menghafal dalil, dan menjalankan ritual keagamaan? Tentu tidak. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Pesantren juga perlu menumbuhkan generasi yang mampu membaca realitas sosial, memahami persoalan sebaya, menguasai teknologi secara bijak, memiliki kecakapan komunikasi serta berani terlibat dalam penyelesaian masalah masyarakat.

Santri harus dibekali kemampuan untuk berdakwah dengan hikmah, mendengarkan tanpa menghakimi, berpikir kritis tanpa kehilangan adab, dan menggunakan ilmu untuk melindungi mereka yang rentan. Dengan begitu, pesantren bukan sekadar tempat menjaga tradisi, melainkan ruang strategis untuk menyiapkan penjaga peradaban.

Baca Juga  Cegah Tragedi Terulang, Pemerintah Buka Layanan Gratis Audit Bangunan Pesantren

Santri Harus Hadir di Tengah Teman Sebaya

Salah satu kekuatan santri yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal adalah kedekatan mereka dengan komunitas sebaya. Santriwan dan santriwati memiliki peluang untuk menjadi teladan, teman diskusi, pendamping, sekaligus penggerak perubahan di lingkungan masing-masing.

Kita tidak bisa berharap seluruh persoalan generasi muda diselesaikan oleh orang tua, guru, pemerintah, atau tenaga profesional. Teman sebaya juga mempunyai pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan keputusan seseorang. Karena itu, santri perlu mengambil bagian dalam membangun lingkungan pergaulan yang sehat.

Bayangkan jika santri tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menginisiasi komunitas sebaya yang membahas kesehatan mental, pencegahan perundungan, bahaya narkoba, literasi digital, relasi yang sehat, dan kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan. Bayangkan pula jika santriwan dan santriwati berani mendekati teman yang sedang terpuruk, mendengarkan keluhannya, mengajaknya mencari bantuan, dan mencegahnya menghadapi masalah seorang diri.

Peran semacam ini bukan berarti santri harus menggantikan psikolog, konselor, pekerja sosial, atau tenaga kesehatan. Justru, santri perlu mengetahui batas kemampuannya dan membangun jejaring rujukan dengan pihak yang kompeten. Ketika menemukan teman yang mengalami tekanan psikologis berat atau menunjukkan risiko menyakiti diri, langkah yang tepat adalah mendampingi dan membantu menghubungkannya dengan orang dewasa tepercaya serta tenaga profesional.

Inilah bentuk dakwah yang kontekstual untuk menyelamatkan martabat manusia, mengurangi penderitaan, dan memastikan tidak seorang pun dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian.

Menjadi Guardian of Society

Santri memiliki modal moral dan sosial untuk menjadi guardian of society atau penjaga masyarakat. Namun, makna penjaga di sini bukanlah kelompok yang merasa paling benar, gemar mengawasi kehidupan orang lain, atau mudah memberikan stigma kepada mereka yang berbeda. Penjaga masyarakat adalah mereka yang berani merawat nilai, melindungi kelompok rentan, membangun solidaritas, dan mengajak orang lain menuju kehidupan yang lebih baik.

Menjadi penjaga masyarakat berarti berani menolak perundungan meskipun pelakunya adalah teman sendiri. Berani mengingatkan ketika pergaulan mulai mengarah pada tindakan yang membahayakan. Berani melawan normalisasi kekerasan, eksploitasi, dan penyalahgunaan narkoba. Sekaligus, berani merangkul teman yang pernah melakukan kesalahan agar memiliki kesempatan untuk berubah.

Baca Juga  LKP Hizbul Wathan Lampung Diikuti 103 Peserta, Cetak Kader Pemimpin Muda Berkarakter

Santriwan dan santriwati juga perlu menyadari bahwa keteladanan lebih kuat daripada ceramah yang panjang. Pesan moral akan kehilangan daya ketika tidak tercermin dalam perilaku. Karena itu, integritas santri diuji bukan hanya ketika berada di lingkungan pesantren, tetapi juga ketika berinteraksi di sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, dan ruang digital.

Jangan sampai santri fasih berbicara tentang akhlak, tetapi abai terhadap penderitaan teman sebaya. Jangan sampai santri lantang mengingatkan orang lain, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mendengarkan. Dan jangan sampai pesantren bangga dengan prestasi ritual, tetapi menutup mata terhadap persoalan sosial yang berada di sekitarnya.

Tentu, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan kepada santri seorang diri. Keluarga, pesantren, sekolah, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan masyarakat harus membangun ekosistem yang mendukung tumbuh kembang generasi. Santri dapat menjadi penggerak penting, tetapi perlindungan anak, layanan kesehatan mental, pencegahan kekerasan, serta pendidikan yang berkualitas tetap membutuhkan kerja bersama.

Pada Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, mari kita tegaskan kembali bahwa santri bukan sekadar penjaga masa lalu. Santri adalah bagian dari kekuatan yang menyiapkan masa depan. Mereka harus hadir di tengah teman sebaya, menjadi teladan dalam pergaulan, pelindung bagi yang rentan, dan penggerak bagi lingkungan yang lebih sehat.

Sebab, masa depan bangsa tidak cukup dijaga dengan doa dan slogan. Ia harus dipersiapkan melalui pendidikan, keteladanan, kepedulian, dan tindakan nyata. Santri harus menjadi penjaga peradaban, bukan dengan merasa paling suci, melainkan dengan memastikan semakin banyak generasi muda tumbuh berilmu, berakhlak, sehat, berdaya, dan tidak kehilangan harapan.

 

*) Penulis: Khoirul Anam

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)