MAKLUMAT – Investasi syariah bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga memastikan pengelolaan harta sesuai prinsip Islam. Investor perlu memahami instrumen yang dipilih, menghindari riba, gharar, dan maysir, serta menggunakan dana yang tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Islam memandang harta sebagai sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Karena itu, investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga perlu mempertimbangkan manfaat dan tujuan penggunaannya.
Islamic Finance Specialist and Influencer Greget Kalla Buana menegaskan investor perlu menempatkan uang sebagai sarana, bukan tujuan akhir.
Menurut Greget, calon investor sebaiknya mempersiapkan proteksi keuangan, seperti dana darurat dan asuransi, serta tabungan sebelum mulai berinvestasi. Langkah ini penting agar investasi tidak mengorbankan kebutuhan pokok maupun kestabilan keuangan keluarga.
Memahami Prinsip Investasi Syariah
Dalam ekonomi Islam, harta tidak hanya disimpan, tetapi juga dapat dimanfaatkan melalui kegiatan produktif, termasuk investasi. Namun, investor perlu memastikan instrumen yang dipilih sesuai dengan prinsip syariah.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1.Menghindari riba atau tambahan yang dilarang dalam transaksi.
2.Gharar atau ketidakjelasan yang berlebihan dalam akad.
3.Maysir atau praktik perjudian.
Investor juga perlu mempertimbangkan manfaat investasi bagi masyarakat. Salah satu instrumen yang dapat dipelajari ialah sukuk, yaitu surat berharga syariah yang menggunakan prinsip dan akad sesuai ketentuan syariah.
Sukuk Negara atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), misalnya, menjadi salah satu instrumen pembiayaan negara. Selain itu, investor dapat mempelajari reksa dana syariah yang mengelola dana investor ke dalam portofolio efek sesuai prinsip syariah.
Meski demikian, setiap instrumen memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Karena itu, investor tetap perlu membaca ketentuan produk dan memahami potensi kerugian sebelum mengambil keputusan.
Terapkan Prinsip Literasi, Keterampilan, dan Dana Menganggur
Greget memperkenalkan tiga prinsip yang dapat menjadi panduan bagi calon investor syariah, yakni literate, skill, dan idle (LSI).
1.Literate atau memiliki literasi investasi. Investor perlu memahami cara kerja produk, potensi keuntungan, serta risikonya. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya mengikuti tren atau rasa takut tertinggal dari orang lain (fear of missing out atau FOMO).
2.Skill atau keterampilan. Investor perlu belajar secara bertahap dan membangun pengalaman. Perbedaan hasil investasi dengan orang lain bukan alasan untuk mengambil keputusan secara terburu-buru.
3.Idle atau menggunakan dana yang tersedia setelah kebutuhan utama terpenuhi. Investor sebaiknya tidak memakai uang untuk kebutuhan sehari-hari maupun dana pinjaman demi mengejar keuntungan investasi.
Greget juga menyarankan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), yakni menginvestasikan nominal yang sama secara rutin dalam periode tertentu. Strategi ini dapat membantu investor membangun disiplin dan mengurangi keputusan yang didorong emosi.
Selain itu, diversifikasi atau penyebaran dana ke beberapa instrumen dapat membantu mengelola risiko. Investor tetap perlu menyesuaikan alokasi dana dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan toleransi risikonya.
Nabung Rutin untuk Menjaga Konsistensi
Head of Sharia Business Development & Product Solution Bank Jago Syariah, Agung Lesmana membagikan cara menjaga konsistensi investasi sesuai preferensi syariah.
Salah satu pilihan yang diperkenalkan ialah fitur autodebit Jago Syariah yang terintegrasi dengan aplikasi Bibit. Melalui fitur tersebut, investor dapat memilih produk reksa dana syariah, menentukan nominal investasi, dan mengatur jadwal setoran rutin.
Bank Jago Syariah juga menyediakan fitur kantong untuk membantu nasabah memisahkan dana berdasarkan kebutuhan, termasuk tabungan dan investasi. Sementara itu, fitur Instant Redemption yang dijelaskan dalam artikel Bibit memungkinkan pencairan reksa dana masuk ke rekening Jago Syariah dalam waktu singkat, sesuai ketentuan layanan.
Fitur otomatis tersebut dapat membantu membangun kebiasaan investasi. Namun, kemudahan transaksi tidak menggantikan kewajiban investor untuk memahami produk dan mempertimbangkan risikonya.
Investasi Harus Sejalan dengan Tujuan Keuangan
Investasi syariah membutuhkan pemahaman, kedisiplinan, dan pengelolaan keuangan yang terencana. Investor perlu memastikan kebutuhan dasar dan dana darurat tetap tersedia sebelum mengalokasikan uang untuk investasi.
Prinsip tersebut juga mengingatkan bahwa keberhasilan finansial tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan. Dalam perspektif Islam, pengelolaan harta perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab, rasa syukur, dan manfaat yang dihasilkan.
Dengan memahami karakteristik instrumen, menerapkan investasi rutin, serta mengelola risiko secara bijak, masyarakat dapat menjadikan investasi syariah sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.












